Petani Malang “Masih” Berebut Air

Perwakilan petani Malang Raya menyampaikan pernyataan terkait perebutan penggunaan air. Foto: Davieq/ Canopy

Perwakilan petani Malang Raya menyampaikan pernyataan terkait perebutan penggunaan air. Foto: Davieq/ Canopy

Malang, CANOPY – Minggu (28/6), selang tiga bulan setelah diselenggarakannya acara rembug tani di lapangan Tumpang, Kabupaten Malang, yang bertepatan pada hari minggu (29/3), masih belum ada tindak lanjut secara nyata. Dalam acara tersebut, para petani dari berbagai kecamatan di Malang Raya berkumpul di lapangan Tumpang dalam acara rembug tani yang bertema “Petani Malang Raya Sambut Swasembada Pangan 2017”. Acara ini dikelola oleh petani-petani asal Malang yang bergerak dalam suatu forum, bernama forum rembug tani (FORTI), dan dihadiri oleh petani-petani yang mewakili setiap daerah di Malang. Selain petani, organisasi masyarakat Projo, Mahasiswa Unira, Polres dan TNI juga turut menghadiri acara tersebut.

Acara “Petani Malang Raya Sambut Swasembada Pangan 2017” merupakan suatu program rembug (musyawarah) petani yang berdiri secara independen, tanpa ada campur tangan organisasi politik manapun. Tujuan diadakannya rembug tani ini adalah untuk membentuk forum silaturahmi antar petani dan menjadi wadah untuk musyawarah terkait permasalahan petani di seluruh wilayah Malang Raya. Adapun jaringan petani ini dibentuk untuk mendukung suksesnya program pemerintah RI/ Presiden Jokowi yakni swasembada pangan RI 2017.

Pada inti acara, perwakilan dari masing-masing desa menyuarakan keluhannya terkait permasalahan pertanian di desanya. Dari semua permasalahan yang ada, secara keseluruhan desa-desa di wilayah Malang Raya mengeluhkan permasalahan distribusi dan pembagian jatah air untuk pengairan lahan pertanian. Permasalahan tersebut bertitik mula ketika petani dan PDAM saling memperebutkan penggunaan air dari mata air Sumber Pitu. Jatah penggunaan air yang semula digunakan untuk keperluan pertanian harus dikurangi untuk memenuhi kebutuhan PDAM. Berbagai upaya dilakukan untuk menangani permasalahan tersebut, salah satunya yaitu dengan mengadakan acara rembug tani.

Berbagai keluhan yang disampaikan tiap perwakilan desa se-Malang Raya tersebut, ditujukan untuk menarik aspirasi pemerintah agar segera menindaklanjuti permasalahan tersebut. Namun, hingga kini acara rembug tani tersebut masih belum membuahkan hasil nyata untuk menanggulangi permasalahan pembagian jatah air dari mata air Sumber Pitu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.