Mahasiswa sedang Tidur Siang

oleh Nur Dian laksono

Saat telah beranjak usia yang produktif, tidur siang merupakan aktivitas yang dirindukan. Apalagi tidur tanpa adanya pikiran layaknya bocah berusia 0-13 tahun. Tidak pernah memikirkan betapa sulitnya kehidupan saat membuka mata lagi. Saya juga heran, kenapa dulu saya tidak menuruti perintah bapak untuk tidur siang. Maklum saja, masa kecil itu lebih baik memanfaatkan waktu untuk bermain dan tidur ketika lelah.

Sekarang kalau ada orang yang menyuruh untuk tidur siang, rasanya seperti mendapat tugas yang mulia. Tapi mau bagaimana lagi, perintah itu peluangnya sangat kecil terjadi. Saya masih ingat waktu kecil, bapak saya berceletuk ketika menyuruh saya untuk tidur siang, “Kamu itu tidur siang saja, pakai disuruh, kalau aku disuruh seperti itu, ya langsung aku lakukan,” ujarnya dalam bahasa Jawa.

Sekarang saya telah menjadi Mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Jawa Timur. Saya aktif dalam kegiatan Pers Mahasiswa. Organisasi saya tercantum jelas ada embel-embel mahasiswa. Tentunya kegiatan saya merekam berbagai kegiatan di kampus maupun di sekitarnya. Ya, saya cukup sibuk mondar-mandir, selain kegiatan perkuliahan yang sibuk, kegiatan organisasi membuat saya kangen untuk tidur siang.

Saat melakukan kegiatan organisasi, saya sering heran saat melihat mahasiswa bergerak. Bukan masalah pergerakan mereka, tapi dalam hal kuantitas. Saat ada suatu kasus yang membuat para mahasiswa bergerak, jumlahnya yang ikut mungkin bisa dihitung dengan gelang tasbih sang kiai.

Ada hal yang membuat saya heran lagi. Ketika suatu organisasi membuka perekrutan kepanitiaan untuk menjadi event organizer, jumlah mahasiswa yang hadir mencapai lima kali lipat jumlah mahasiswa yang melakukan pergerakan. Ada temuan menarik dalam perbincangan saya dengan salah satu mahasiswa yang ingin menjadi panitia tersebut. Ia melakukan hal tersebut untuk mendapatkan sertifikat. Apalagi saat ada kegiatan yang menawarkan sertifikat secara cuma-cuma tanpa perlu ribet mengurus bagaimana proses mendapatkan benda itu, saya mungkin perlu kalkulator untuk menghitung jumlah mereka.

Contoh kasus yang telah saya ceritakan di atas memang jamak terjadi, tidak hanya terjadi di kampus saya saja. Perbedaan dalam jumlah mahasiswa yang terlibat dalam dua kasus yang berbeda tersebut sangat timpang. Kasus pertama, mahasiswa yang melakukan pergerakan untuk menuntut keadilan akan hak-hak suatu pihak yang belum terpenuhi tanpa hadiah sertifikat. Kasus kedua, mahasiswa yang mengikuti kegiatan untuk mendapatkan sertifikat. fenomena ini yang masih belum bisa diterjemahkan secara matang oleh otak saya. Padahal jumlah mahasiswa di kampus saya merupakan yang terbanyak di Indonesia.

Dalam hal ini, muncul pertanyaan, pihak mana yang harusnya pantas menyandang gelar “mahasiswa”? Apakah saya juga pantas menyandang gelar tersebut?

Sepengetahuan saya, sejak awal abad ke 20, mahasiswa telah berperan aktif dalam membangun bangsa ini. Kita telah dikenalkan saat sekolah, tentang para sarjana yang tengah belajar di negeri penjajah. Mereka melakukan kegiatan untuk membebaskan penjajahan bangsanya dengan mendirikan Perhimpunan Indonesia. Selain itu, ada sekelompok angkatan 45 yang ikut membantu saat negara ini terbentuk. Ada juga angkatan 66 yang melengserkan pemimpin pertama negara ini karena dinilai tidak berpihak rakyat lagi. dan yang terakhir ada angkatan 98 yang melengserkan pemimpin kedua negara ini karena keotoriterannya. Pergerakan mereka untuk bangsa patut diapresiasi meski kesempatan mereka untuk menjadi pahlawan yang diakui sangat kecil.

Sudah hampir dua dekade pergerakan mahasiswa yang masif terjadi. Sekarang pergerakan mahasiswa untuk melakukan gebrakan secara masif hampir tidak berdampak secara signifikan terhadap perkembangan negeri ini.
Sebelumnya sudah saya ceritakan bahwa mahasiswa lebih banyak yang tertarik untuk menjadi panitia suatu event organizer. Berburu sertifikat sebanyak-banyaknya agar setelah lulus langsung diterima menjadi pegawai suatu perusahaan ternama. Salah satu rekan diskusi saya berkelakar, bahwa mahasiswa sekarang banyak yang larut akan bayang-bayang saat tidur siang, setelah lulus mendapat kerja di tempat sejuk bergaji banyak, bisa makan enak lalu pamer di media sosial, atau bahkan pamer sedang berkeliling Indonesia sambil berteriak “my trip my adventure?”

Apakah ini mental mahasiswa sekarang? Yang katanya revolusioner untuk membantu masyarakat, tapi malah bermental event organizer. Kalau boleh saya menantang mereka, berapa jumlah kegiatan mereka yang terjun langsung ke masyarakat? Apakah mereka sedang nyaman di dalam tembok kampus? Sehingga mereka lupa beban moral mereka?

Saya memberikan kasus tentang perusahaan semen melawan petani yang menolak pembangunan pabrik semen di Jawa Tengah. Sekarang kita lihat, mana yang pernah menjadi mahasiswa? Karyawan perusahaan itu kan. Apakah ini yang akan terjadi saat telah lulus para mahasiswa malah melawan masyarakat yang seharusnya mereka bela?
Kalo boleh saya berburuk sangka, mungkin mahasiswa sekarang sedang tidur siang. Apalagi yang menjadi mahasiswa adalah angkatan saya yang dulu mungkin lupa tidur siang sehingga lebih memilih tidur siang sekarang daripada mengurus masyarakat. semoga ini hanya tidur siang yang berlangsung singkat untuk mengumpulkan tenaga menghadapi aktivitasnya setelah membuka mata. Tapi kapan bangunnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.