WHEN THE STAR LOVIN’ THE EARTH

Ilustrasi : Pramana Jati P.

Penulis : Risqitaicha/ FP UB 2016

“Risa!” pekikan dari Maya membuatku tersadar seketika. Aku menatapnya datar, sungguh ia telah merusak rangkaian ide ceritaku yang sedang terlintas barusan.

“Apa?” sahutku geram seraya menahan emosi yang siap meledak.

“Santai dong, kamu dipanggil sama Tasya tuh,” ujarnya seraya menunjuk Tasya, teman kelasku di semester 5 ini yang terkesan tomboy.

“Kenapa, Tas?” tanyaku dengan nada suara lebih keras, karena jarak kami yang cukup jauh.

“Kamu dapat Dare dari kita, kencan sama Tama malam ini.”

What! Kok aku kena, sih? Padahal nggak ikut main sama kalian!” seruku keras pada Tasya yang hanya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

“Ris, itu yang kena dare si Tama, tapi anak-anak ngasih dare-nya suruh dating sama kamu,” tutur Maya pelan, temanku sejak semester 3 yang memang sifatnya lebih dewasa ketimbang aku.

I know, but why me?”

“Santai aja, Ris. Cuman dare kok, hitung-hitung kamu bisa dekat lagi sama Tama,” sahut Nadia, yang sudah duduk di belakangku persis.

Mulutku kembali tertutup rapat, aku hanya pasrah dengan semua ini. Jujur saja, aku memiliki special feeling sama Tama. Sejak 2 tahun yang lalu, lebih tepatnya sebelum kami memulai Ospek, aku sudah jatuh cinta padanya. Doaku dari dulu, agar bisa sekelas dengannya, dan aku bisa mengungkapkan semuanya ke Tama. Meskipun aku tahu, risiko aku ditolak oleh Tama akan sangat besar.

Aku sadar diri kok, aku bukan gadis sempurna malah jauh dari kata sempurna, aku hanya gadis pemimpi yang selalu bermimpi untuk menjadi sempurna. Sementara dia, pria sempurna yang gadis manapun akan takluk dengannya. Dia memang tidak terlalu tampan, tapi caranya memperlakukan perempuan dan sopan santunnya membuat siapapun akan luluh. Tapi bukan itu juga yang membuatku jatuh cinta padanya, entah sejak pertama kali aku mengenalnya, aku langsung menyukainya.

Awalnya aku juga merasa bahwa aku sekedar menyukainya. Kemudian aku tersadar bahwa aku mencintainya, bahkan bertahan selama 2 tahun lebih. Ini rekor untuk diriku sendiri. Aku bisa menahan cinta ini begitu lamanya. Padahal dulu aku akan sangat berani untuk mengungkap cintaku pada seorang pria, meskipun akhirnya aku banyak di bully but I don’t care about it. Aku hanya berpikir bahwa pria itu harus tahu perasaanku tentangnya.

Dare dari Tasya dan yang lain, sepertinya memang dilakukan oleh Tama. Pria itu sudah menjemputku malam ini. Ia mengenakan jaket denim andalannya, kaos hitam polos, celana jeans yang sedikit kebesaran, dan motor Vario hitamnya dengan plat AD. Dia memang berasal dari Solo. Tapi aku sendiri tidak tahu Solo mana, meskipun diberitahu, aku tetap akan kebingungan.

“Sudah siap?” tanya Tama yang menatapku dengan manis.

Aku terdiam dan segera naik di belakangnya. Pasrah pada Tama yang akan membawaku entah ke mana.

Aku masih melihat-lihat sekitar, ketika Tama menghentikan motornya di sebelah alun-alun Malang. Tempat ini menjadi sebuah kenangan untukku, karena aku resmi jadi pacar dari Ibnu di sini, 5 bulan yang lalu. Kisah cinta yang hanya sebatas komunikasi dan tidak ada komitmen sama sekali. Akhirnya aku memutuskan untuk menghentikan hubungan itu. Sungguh, pria yang seperti Tama, seribu satu di dunia ini.

Tama menarik tanganku pelan, hingga aku tersadar dari lamunanku. “Kamu itu jangan ngelamun terus,” ujarnya.

Aku hanya membalasnya dengan senyum tipis. Luka di hatiku tentang Ibnu masih menganga, dan belum ada obatnya hingga detik ini. Sisi lain dari hatiku juga masih terluka, karena cintaku yang bertepuk sebelah tangan dengan Tama. Harapanku pada Tuhan hanya satu, jika Tama bukan jodohku, ijinkan Tama dipertemukan oleh wanita yang jauh lebih baik dan punya cinta yang jauh lebih tulus ketimbang aku. Tuhan, aku mohon, kabulkan doaku kali ini. Aku rasa, ini yang terbaik untuk hidupku.

Tama mengajakku duduk di salah satu bangku yang menghadap ke air mancur. Malam ini langitnya sangat cerah, para bintang berusaha menunjukkan pada bumi bahwa mereka punya sinarnya yang sangat indah. Mataku masih menatap para bintang dengan seksama. Bahkan aku akan betah jika disuruh berlama-lama di sini.

“Ris, kamu suka lihatin bintang, ya?” tanya Tama yang berhasil memecah keheningan di antara kita.

Aku mengangguk mantap. “Setiap kali aku melihat mereka, aku menjadi yakin bahwa aku dan orang yang aku cintai bagaikan bumi dan bintang. Mereka memang bertemu, tapi tidak akan pernah menyatu. Bahkan bumi sendiri entah tahu atau tidak, bahwa bintang selalu berusaha menyinarinya di malam hari. Sebenarnya ia juga ada di siang hari, tapi ia kalah dengan sinar matahari yang membuat bumi hangat dan sangat cerah.”

Tama memandangku sejenak, kemudian ia melemparkan tatapannya ke langit. “Kalau boleh tahu, berapa lama kamu mencintainya? Pasti senang jadi cowok itu, dia punya cewek yang tulus sama dia.”

Dehamanku memiliki banyak arti. “Aku harap dia juga begitu, tapi sepertinya dia sama seperti bumi. Tahu kehadiran bintang yang paling terang saja, mungkin tidak tahu, meskipun bintang sudah berusaha sekeras apapun. Terlebih jika cowok itu ketemu sama cewek lain, seperti matahari. Sudah pasti, aku tidak akan pernah diliriknya, meskipun hanya sepersekian detik.”

Aku mendengar Tama menghela napas pelan, dan merubah posisi duduknya untuk lebih santai dari sebelumnya. “Aku tanya, sudah berapa lama?”

Senyum masam menghiasi wajahku, tampaknya luka itu terbuka lagi setelah aku menguburnya sekian lama. “Sejak beberapa hari sebelum Ospek kampus.”

“Kenapa kamu nggak bilang sama dia?” tanya Tama lagi. Rupanya ia masih penasaran dengan kelanjutan kisahku.

Boro-boro mau bilang, ketemu sama dia sebentar di suatu tempat aja aku sudah sujud syukur.”

“Memangnya, kamu masih mau bertahan demi dia?”

Aku mengangguk. “Aku tidak punya pilihan selain bertahan. Aku percaya, dia akan melihatku suatu saat, dan menyadarinya bahwa aku juga ingin bahagia dengannya. Meskipun itu 0,1% sih kemungkinannya.”

Tama mengubah posisi duduknya, ia jadi lebih tegak. “Kenapa?” tanyaku seraya memandangnya lamat-lamat.

Ia menggeleng. “Lanjutkan saja.”

Aku tersenyum seraya menahan tawa geliku. “Apa lagi yang harus aku lanjutkan?” “Ceritamu tadi?”

Aku menghela napas, dan memandang langit lagi. Enggan untuk meneruskan kisah itu. Sebenarnya air mataku sedang aku tahan mati-matian. Aku tidak mau menangis di depannya. Apalagi ini kisah tentangnya. Aku sengaja menggunakan perumpamaan, agar ia berpikir bahwa itu bukan dirinya.

“Tam?” ujarku tiba-tiba.

Ia menatapku lembut. “Kenapa?”

“Kamu lagi suka sama cewek, ya?” tanyaku yang berusaha mengubah topik pembicaraan. Ia tersenyum. “Sebenarnya, iya.”

Jika saja perasaanku punya backsound seperti FTV, mungkin kalian akan mendengar suara kretek dari dalam sini. Aku bercanda. Rasanya sakit tapi tidak berdarah. Aku sudah merasakan ini berkali-kali di kehidupanku.

“Ris, kamu mau kasih tahu aku nggak?” “Apa?”

“Siapa cowok itu? Biar aku bantu kasih tahu dia.”

Air mataku berhasil luruh. Aku menangis di depannya, bahkan aku melanggar janji pada diriku sendiri untuk tidak menangis di depannya. Ayolah, Risa. Kenapa kamu sangat cengeng sekarang? Bukankah kamu lebih kuat dari apa yang kamu tahu tentang dirimu sendiri? Jangan menangis! Apalagi di depan Tama.

“Kamu serius?” tanyaku dengan suara serak akibat tangisku.

Ia mengangguk mantap, dan menghapus air mata di pipi kananku. Kepiluan di hatiku semakin menjadi-jadi. Ya Tuhan, terima kasih untuk moment ini. Aku sangat mensyukurinya.

“Kamu, Tam.”

Tama menatapku dalam diam. Aku tidak bisa mengartikan apa maksud dari tatapannya itu. Tapi aku yakin, dia shock dengan apa yang aku bilang barusan.

“Kamu..kamu serius?”

Aku mengangguk. “Maaf, aku harus bilang ini sama kamu. Padahal aku sudah janji sama diriku sendiri buat nggak bilang ini ke kamu.”

“Ris, maafkan aku. Aku nggak tahu semua ini.”

“Aku sadar, Tam. Kamu memang nggak akan pernah tahu jika saja aku nggak bilang sama kamu. Frekuensi kita ketemu saja sangat kecil ketimbang obrolan. Jadi tidak mungkin kalau kamu nggak tahu. Aku sudah-“

Air mataku semakin deras, aku tidak bisa meneruskan perbincangan ini dengan Tama.  Aku segera berlari pergi, dan aku bersyukur, tangan Tama belum sampai menahanku. Aku berlari menuju parkir motor. Kukira dia akan diam di tempat, ternyata dia sudah ada di belakangku.

“Aku antar pulang, ya,” ujarnya seraya bersiap menyalakan motor, dan menyodoriku helm pink milikku biasanya.

Sepanjang perjalanan tidak ada sepatah kata pun yang keluar, baik dariku maupun dari Tama. Semuanya diam, yang berisik hanya deruan motornya saja. Lebih baik memang begini, aku salah dari awal. Kenapa juga aku harus menyatakan cintaku padanya?

Sekarang aku percaya, kodrat wanita hanya menunggu cinta dan berharap cintanya bisa terbalaskan meskipun hanya 0,1% saja. Namun, menunggu cinta itu tidak mudah, butuh perjuangan ekstra. Apalagi menunggu bertahun-tahun yang nyatanya, cinta itu bukan untukmu. Jodoh memang tidak akan ke mana. Tapi apa salahnya jika berharap pada cinta? Cinta yang membuat pasangan berjodoh akan bahagia. Cinta juga yang membuat sebelah tangannya terluka.

Semua ini sama seperti bintang dan bumi. Seterang apapun bintang, ia akan kalah dengan matahari yang di pilih bumi untuk mewarnai dan menghangatkan bumi.

THE END

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.