Salah Kelola, Tanah jadi Penyumbang Gas Efek Rumah Kaca

DSCN4902-copy-1070x470
Retak: Kondisi tanah di area pertamanan mentimun milik salah satu warga, Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Foto: Rochmat/canopy

Pemanasan global terjadi karena adanya gas-gas Efek Rumah Kaca (ERK), diantaranya: gas CO2, NH4, dan N2O di atmosfer. Berbagai sektor dianggap sebagai penyebab terjadinya pemanasan global. Selain sektor industri dan peternakan, sektor pertanian juga termasuk sebagai penyebab terjadinya pemanasan global. Dalam sektor pertanian, tanah turut memiliki peranan terhadap pemanasan global.

“Sebenarnya pemanasan global itu akibat dari tanah, akibat dari pengelolaan tanah yang salah,” ujar Ketua Jurusan Tanah, Prof. Dr. Ir. Zaenal Kusuma, SU.

Peranan tanah terhadap pemanasan global bermula dari penurunan kualitas tanah. Zaenal menuturkan, kualitas tanah yang ditandai dengan sifat fisik, kimia, dan biologi dapat mengalami penurunan akibat aktivitas manusia yang berorientasi pada ekonomi dibanding keseimbangan ekosistem.

Aktivitas manusia di sektor pertanian yang dapat mengakibatkan menurunnya kualitas tanah ialah pengolahan tanah yang intensif, intensitas penggunaan bahan-bahan agrokimia, dan alih fungsi lahan.

“Untuk produksi pangan manusia akan melakukan intensifikasi dengan input produksinya yang banyak, pengeloaan tanah, irigasi yang maksimal padahal sumber daya alam terbatas, sedangkan ekstentifikasi itu mengkonversi hutan, diubah, jadi alih fungsi lahan.” Kata zaenal

Menurut Zaenal, penerapan pertanian modern oleh manusia yang ditandai dengan input yang besar seperti pemberian pupuk, bibit, air serta pengolahan tanah yang intensif menjadi salah satu penyebab terjadinya penurunan kualitas tanah yang memicu terjadinya pemanasan global.

Pengolahan tanah yang intensif menyebabkan tanah turut menyumbangkan gas ERK yaitu CO2. “Pengolahan tanah yang intensif itu artinya tanah berpeluang besar berinteraksi dengan sinar matahari, terjadi oksidasi yang hebat maka karbon dalam tanah C6H12O6 + O2 itu menguap jadi CO2+H2O, CO2-nya itu menguap ke atmosfer, itu kontribusinya,” terangnya.

Selain itu, pemberian pupuk N yang berlebihan pada tanah juga dapat menyumbangkan gas N2O ke atmosfer. “Penggunaan pupuk N, N2O-nya naik ke atmosfer karena adanya proses volatilisasi, dan itu tidak hilang, mungkin di dalam tanah hilang tetapi sebenarnya itu hanya pengalihan energi ke atmosfer,” jelas Zaenal.

Mengingat aktivitas manusia yang memicu terjadinya pemanasan global, menurut Zaenal, merubah pola pikir manusia menjadi salah satu upaya mencegah peningkatan pemanasan global.

“Yang diubah adalah mindset manusianya, yang paling utama (berperan dalam mengubah mindset.red) adalah pemerintah, termasuk perguruan tinggi yang dirumuskan dengan tri darma perguruan tinggi itu,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Zaenal, penggunaan pupuk dan pengolahan tanahnya harus minimum, alih fungsi lahan dikurangi, sehingga pertanian itu back to nature.

Dr. Ir. Yulia Nuraini, MS selaku Ketua Program Studi Agroekoteknologi pun menuturkan bahwa di alam sudah ada sistem yang menangani emisi gas ERK, salah satunya ialah  adanya pohon yang dapat menyerap gas CO2.

“Kalau penduduk meningkat, tanpa adanya orang peduli dengan keberadaan pohon maka tambah panas, kenaikan penduduk tidak dapat dicegah, sehingga kita harus menyeimbangkan penyebab dan penanggulangannya,” katanya.

Yulia juga berpesan, jadi pemuda, haruslah pandai menanam.

Reporter: Ahmad Fitrah/Ahmad Thoriqussalam/Annisa Eira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *