Dana Terbatas, Biaya Kekurangan Operasional Praktikum Dibebankan kepada Mahasiswa

Malang, CANOPY—Praktikum dilingkup FP menjadi hal yang hampir selalu ditemukan pada tiap mata kuliah. Jumlah mahasiswa FP dengan ruangan laboratorium memang diakui adanya ketimpangan rasio. Damanhuri selaku Wakil Dekan (WD)  2 FP menuturkan bahwa biaya pembangunan satu  laboratorium membutuhkan dana milyaran.

“Brawijaya dapat dana hanya sekitar 30 M, padahal anggaran universitas itu 890 M, sekarang kalo kita ingin membangun satu lab itu milyaran itu dananya dari mana kita dapatkan?” tuturnya.

Selain masalah pada ruangan praktikum, Damanhuri juga mengakui dana untuk menutup kegiatan praktikum lapang tidak ada. Pada semester sebelumnya, anggaran praktikum sebesar dua milyar rupiah untuk seluruh kegiatan praktikum. Dengan perhitungan jumlah mahasiswa dengan jumlah praktikum maka setiap mahasiswa di FP hanya mendapatkan dana kegiatan praktikum sebesar Rp 40.000/SKS. “Kalo mahasiswa melakukan praktikum melebihi anggaran dari itu, kalo fakultas mau nutup, dari mana dana untuk menutup?” terangnya.

Mahasiswa Agroekoteknologi semester empat rutin melakukan kegiatan praktikum lapang yaitu Survei Tanah dan Evaluasi Lahan (Stela) serta mahasiswa minat Manajemen Sumber Daya Lahan yang melakukan kegiatan praktikum lapang Geomoforlogi, Analisis Lanskap, dan Interpretasi Foto Udara (Galifu). Praktikum Stela mahasiswa dipungut biaya sebesar Rp 110.000, sedangkan praktikum Galifu, mahasiswa dipungut biaya sebesar Rp 670.000. Selain itu, masih ada beberapa praktikum yang menarik pungutan kepada mahasiswa.

Damanhuri juga menjelaskan bahwa kegiatan praktikum memang membutuhkan kegiatan lapang karena tidak memungkinkan untuk hanya di laboratorium. Pada praktikum Stela, biaya operasional untuk kegiatan survei tanah selama tiga hari, sedangkan praktikum Galifu biaya tersebut digunakan untuk operasional praktikum selama tiga hari mengelilingi Jawa Timur. Dana praktikum sebesar Rp 40.000/SKS memang kurang untuk menutup kegiatan praktikum-praktikum ini dan biaya operasional praktikum ini melebih kuota anggaran praktikum yang diberikan oleh fakultas sehingga kekurangan biaya dibebankan kepada mahasiswa.

“Kalo kebutuhannya berapa terserah, kalo mereka melakukan itu, kan, sebenarnya sudah dimusyawarahkan dengan mahasiswa, tidak serta merta diambil dari mahasiswa,” Jelas Damanhuri.

 

Tulisan ini telah dimuat di Mading Xpress Edisi 1/2016

Reporter : Nur Dian Laksono

Editor : Nur Dian Laksono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *