Demo Mahasiswa pada Hardiknas Menuntut Masalah Dana Pendidikan

Mahasiswa padati teras Gedung Rektorat UB. Dok. CANOPY/Naufal
Mahasiswa padati teras Gedung Rektorat UB. Dok. CANOPY/Naufal

 Malang, CANOPY—Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei diperingati oleh beberapa kalangan dengan aksi demo.  Pada Senin (2/5) terlihat demo dilakukan di Balaikota Malang dan halaman gedung Rektorat UB. Tuntutan yang disuarakan berupa alokasi anggaran untuk kegiatan pendidikan.

Massa dari Kesaruan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) daerah Malang terlihat berdemo di  jalanan depan balaikota Malang. Mereka menuntut untuk  pemberian alokasi anggaran sebesar 20% serta pemberian Jaminan pendidikan tinggi nasional. Alokasi anggaran dana untuk pendidikan di kota malang hanya sebesar 8% sehingga mereka menuntut adanya kenaikan alokasi dana.

“Sangat memperihatinkan sekali, padahal Malang dikenal sebagai Kota Pendidikan. Dari alokasi anggaran pendidikan tersebut,perlu dipertanyakan apakah malang masih tetap disebut sebagai kota pendidikan” ujar Eri Muryanto (21) selaku Humas aksi tersebut.

Hal serupa dilakukan di halaman gedung Rektorat UB. Orasi yang dihadiri oleh beberapa organisasi seperti Komite Pendidikan Universitas Brawijaya, BEM Fakultas, serta Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus UB menuntut untuk menolak perubahan status UB menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH). ). Selain itu, masalah lain seperti UKT, perbaikan fasilitas kampus, transparansi dana, pengurangan kuota bidikmisi, pemotongan beasiswa, kasus dibungkamnya beberapa LPM, serta pungli yang berkedok dana bantuan praktikum (DBP) juga disorot pada orasi tersebut.

Beberapa perwakilan mahasiswa diterima untuk berdiskusi secara internal dengan Wakil Rektor (Warek) 3 serta beberapa staf rektorat lainnya. Hasil diskusi tersebut akhirnya keluar saat diskusi berakhir sekitar pukul 18.45. Untuk permasalahan UKT, Warek 3 mengaku tidak tahu-menahu tentang hal tersebut, begitu juga dengan DBP dan beasiswa. Namun, Rektor UB menyatakan, jika mahasiswa menemukan hal semacam itu, Rektor ingin mahasiswa membawa bukti tertulis untuk dibawa ke Rektor untuk ditindaklanjuti.

Untuk permasalahan perubahan status menjadi PTN-BH, Rektor UB menyatakan tidak pernah terpikirkan untuk mengubah status UB menjadi PTN-BH, sementara Warek 3 menyatakan membatalkan status UB untuk menjadi PTN-BH. Sementara itu, pihak rektorat telah membuat agenda dengan Eksekutif Mahasiswa (EM), yaitu membuat forum diskusi bernama Rektor Bicara pada 17 Mei mendatang.

“Ya ini implementasi mahasiswa adalah seperti ini. Hari ini adalah hari refleksi pendidikan, kebobrokan-kebobrokan degradasi yang terjadi itu nyata.  Esensi mahasiswa itu seperti ini, berani bersuara dan mendobrak perubahan”, ujar Narwastu, ketua pelaksana orasi tersebut.

 

Tulisan ini telah dimuat di Mading Xpress Edisi 1/2016

Reporter : Naufaldi Pratama N, Niswatin Hasanah

Editor : Nur Dian Laksono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *