Pola Adaptasi, Masyarakat Jawa dan Atmosfer Kolonialisme Perkebunan

Oleh : Reza Muhammadi

Bangsa Indonesia khususnya masyarakat Jawa yang telah mengalami masa penjajahan kurang lebih 3,5 abad oleh bangsa kolonial membawa banyak pengaruh dari berbagai segi kehidupan masyarakat Jawa. Dalam segi kebudayaan Jawa yang memiliki sifat sinkretisme yaitu memungkinkan masyarakat Jawa melakukan pengadopsian apa yang baik dari dalam diri sendiri dengan apa yang dianggap baik dari luar banyak memberi pengaruh dalam struktural masyarakat Jawa sendiri. Bahkan kearifan lokal yang masih melekat dengan adanya sinkretisme kolonial masih bisa kita rasakan saat ini. Cerminan masyarakat marhaen dalam strata sosial masyarakat merupakan bukti yang sekarang masih dilestarikan.

Sebuah perkebunan kebanyakan merupakan bekas peninggalan jaman kolonial yang sudah dinasionalisasikan dan sekarang menjadi aset negara masih menyimpan apa yang disebut sinkretisme di atas. Dalam segi struktural jajaran pejabat kebun terlihat mencolok pola pengadopsian yang dilakukan. Mulai dari manajer, wakil manajer, sinder, mandor dan jajaran bawah masih kental aroma kolonialismenya. Pasca dinasionalisasi terdapat pergantian nama atau julukan di beberapa struktural jabatan dalam kebun, salah satunya sinder yaitu julukan warisan bangsa Belanda untuk penanggung jawab kebun alias HTO dalam bahasa Belanda Hoofd (kepala)  Tuin (kebun) Opzichter (pengawas) atau kepala di tiap afdeling (secara administrasi merupakan pembagian wilayah atas perkebunan) yang sekarang dilebur menjadi asisten tanaman. Cerminan budaya kolonialisme memang masih dilestarikan, yang terjadi mayoritas masyarakat kebun masih bangga menggunakan istilah “sinder” daripada asisten tanaman.

Mayoritas para tenaga kerja borongan perkebunan atau yang sering disebut oleh Soekarno dengan istilah masyarakat marhaen masih mempunyai pola pemikiran yang sama. Para tenaga kerja yang menganggap dirinya berada pada kelas bawah tersebut akan sangat terhormat bilamana kedatangan tamu yang berpakaian rapi dan bersih. Saya menyebutnya tamu karena saya merupakan pendatang baru di kebun sebagai mahasiswa magang kerja karena mahasiswa identik dengan pakaian rapi dan bersih. Rasa terhormat tersebut timbul mengingat jaman penjajahan Belanda bahwa orang rapi berkulit putih sangat disegani mayoritas masyarakat pribumi dan mempunyai strata yang lebih tinggi dari pada inlander (bumiputra). Hal tersebut masih erat terasa pasca kemerdekaan, pada dasarnya mayoritas para tenaga kerja borongan selalu menganggap dirinya rendah bisa jadi paling rendah dalam strata sosial masyarakat perkebunan.

Namun dalam konteks adaptasi atau pengenalan diri, rasa iri dan kaku akan muncul seketika terhadap tamu yang kurang bisa memosisikan diri “mawas diri” dalam artian merasa lebih dari yang lain (angkara murka) , kurang peduli terhadap sekitar atau ora ngluruh marang sapodho. Namun sikap tersebut akan berubah berbanding terbalik apabila para tamu diatas mampu beradaptasi “mawas diri” dalam beradaptasi. Menurut Suwardi Endraswara  dalam bukunya “Estetika dan Cita Rasa Jiwa Jawa” terdapat 5 sikap kunci penguasaan mawas diri (1) nandhing salira yaitu membandingkan kekurangan dan kelebihan dirinya dengan orang lain, ojo dumeh. (2) ngukur salira yang berarti mampu mengukur orang lain dengan dirinya atau mengukur dirinya dengan kacamata orang lain, dalam hal ini kita akan menjadi waspada dan hati-hati dalam pengambilan sikap. (3) tepa salira, yaitu mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain. (4) mawas diri, berarti kemampuan memahami diri sejujur-jujurnya. (5) mulat salira, menemukan karakteristik orang Jawa.

Pola adaptasi mawas diri di atas yang nantinya mampu mengundang rasa empati dan simpati kepada masyarakat umum khususnya para tenaga kerja yang sudah saya sebutkan di atas. Masyarakat pada umumnya yang menganggap dirinya paling rendah di atas akan menganggap tamu yang bisa mawas diri sebagai ndoro istilahnya opo wae dikekno. Sekali lagi pola adaptasi melalui pendekatan kearifan lokal dan budaya merupakan jembatan yang tangguh dalam proses adaptasi bermasyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *