Eksistensi Berdasarkan Julukan “Hitz” di Kehidupan kampus

Oleh: Susilo “Abi” Habibulloh*

Sering kali terdengar julukan “hitz” yang disandangkan untuk orang-orang yang memiliki penampilan menarik berupa paras cantik atau tampan, terutama pada mahasiswa era kini. Namun, hal tersebut justru menarik untuk dikritisi. Sudah banyak postingan beberapa akun di media sosial yang mempublikasikan akun seseorang yang terkategorikan “hitz” berdasarkan parameter paras orang tersebut.

Lalu yang sekarang menjadi pertanyaan adalah, apakah dengan memindahkan galeri foto selfie ke media sosial dan berhasil direpost oleh akun pem-blow up ketenaran sudah masuk kategori “hitz”? Bukan bermaksud iri karena saya yang menjadi aktivis maupun organisatoris, tidak masuk dalam kategori tersebut.

Menurut hemat saya, seharusnya orang-orang yang tergolong”hitz” ialah orang yang berhasil menampilkan sebuah karya dari dirinya sendiri. Karya yang dimaksud ini ialah karya hasil pemikiran-pemikiran yang memberikan dampak pada lingkungan sekitar, berupa pemikiran aplikatif dalam berkehidupan sosial maupun dibidang lainnya dalam berkehidupan. Pada sisi lain, orang yang mempunyai paras menarik, hal itu hanya semata karya Tuhan.

Orang yang patut untuk dikenal dan dikenal yaitu orang yang memberikan karya untuk generasi selanjutnya. Bukan dari paras yang bersifat temporer.

Tapi anehnya, orang “hitz” seperti ini justru jarang ditemui di lingkungan kampus dan selayaknya mereka terkategorikan sebagai mahasiswa “kupu-kupu”. Mahasiswa yang lebih aktif dikampus seperti Presiden BEM, Ketua Himpunan maupun UKM, tidak masuk kategori “hitz” dan tidak terpampang di akun pem-blow up. Padahal mereka ini adalah figur yang terpilih karena eksistensinya yang dinilai mempunyai tolak ukur orang hebat dan mempunyai karya yang berdampak bagi lingkungannya.

Jadi, untuk meluruskan sudut pandang saja, orang “hitz” bukan dinilai dari paras, tapi dari suatu karya yang dihasilkannya. Meskipun keberadaan akun-akun pem-blow up tersebut hanya sebagai keisengan, tetapi hal-hal tersebutlah yang berpotensi mengubah pola pikir berkehidupan sosial dalam hal meraih eksistensi.

*Mahasiswa Jurusan Tanah 2013, MPM HMIT 2016, Menteri Dalam Negeri BEM FP UB 2015, anggota Bengkel Seni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf konten ini merupakan hak cipta kami. Untuk menduplikasi karya ini dapat menghubungi kami di redaksi@persmacanopy.com