Ziarah; Suarakan Kritik Sosial lewat Seni Rupa

Pengunjung ditengah-tengah pameran karya seni rupa bertajuk “Ziarah”. Pameran yang masih dalam rangkaian Dies Natalies FIB ke-8 itu bertempat di Aula Lantai 2 gedung B FIB, UB mulai 10-15 September 2017. Dok: CANOPY/ Alif

Ziarah adalah perjalanan spiritual dengan menjejakkan ulang, tapak tilas, dan perkunjungan ke lokasi dari satu peristiwa yang pernah terjadi. Kegiatan berziarah dilakukan secara universal oleh siapa saja, bukan hanya oleh kelompok atau agama tertentu, dengan mengulangi pekerjaan yang pernah dilakukan oleh atau kelompok lain sebelumnya, maka orang yang melakukan akan mendapat kepuasan batin dan memiliki keinginan untuk membagikan kepada orang lain. Kegiatan meniru tersebut di satu pihak hendak menggambarkan bahwa dunia kita selalu bergerak, berada dalam prosesi, dan tidak pernah statis, dan di pihak lain, manusia adalah musafir, peziarah, homo viator.

***

Itulah sedikit pendahuluan yang dituliskan Romy Setiawan, Ketua Pameran seni rupa bertajuk “Ziarah” yang digelar mulai 10-15 semptember 2017, di Aula lantai 2, gedung B FIB, Universitas Brawijaya. Perhelatan pameran ini termasuk rangkaian Pekan Budaya dalam rangka Dies Natalis Fakultas Ilmu Budaya ke-8.

Tema “Ziarah” ini diangkat lebih spesifik dari tema besar Pekan Budaya yang mengusung tema “Menggali Lokal, Menjaring Global”. Ziarah sendiri, menurut Romy seringkali disalahartikan, kalau ziarah itu dimaknai sebagai kunjungan ke tempat keramat, atau tempat suci.  “Tema ini general, kalau ditelusuri dari asal katanya yaitu “menuju”. Perjalanan mengenali diri kita sendiri, itu juga ziarah. Selama itu konotasinya perjalanan. Jadi tidak cukup eksklusif, membatasi teman-teman (seniman,-red), dan bebas untuk mengeksplorasi,” ujarnya.

Terdapat 47 karya seni rupa yang dipamerkan, yang terdiri dari karya lukis, grafis, instalasi dan karya rajut. Peserta pameran sendiri terdari kalangan mahasiswa dan dosen. “Dengan pameran ini, kami ingin menyadarkan bahwa karya seni rupa bukan hanya produksi artistik saja, kalau diselami lebih jauh itu juga salah satu produk pengetahuan,” tambahnya.

Romy yang juga dosen pengampu mata kuliah seni lukis ini juga ikut memamerkan karyanya. Salah satunya yang berjudul “Hope #3” menurutnya adalah sebuah respon dari kondisi lingkungan terkini, lebih spesifiknya yang terjadi di negara ini. “Seringkali kita berpikir tentang sesuatu itu ada batasnya, saya menggambarkan bangunan-bangunan sepi, suwung, tidak berpenghuni, juga tanpa ekspresi, ini merupakan sesuatu yang dingin,” ujarnya.

Dalam karya ini, ia mengibaratkan Indonesia yang sudah tua dan sakit kepala. “Sakit kepala di rumah tua, tapi ditengah-tengah itu masih ada harapan, masih bisa menjaga perdamaian, optimis, juga menjadi pendoa yang baik. Journey, bahwa hidup itu masih berjalan,” ungkapnya.

Selain itu, Achmad Khoiru yang juga peserta pameran mecoba menyalurkan kritik sosial melalui medium seni rupa. Ato’ sapaannya, lewat karya yang berjudul “Terpancing Ikan Asing”, mencoba menggambarkan kalangan muda yang kurang tertarik mengembangkan budaya tradisional di Indonesia. “Anak muda yang seharusnya jadi penerus, mudah terpancing oleh budaya luar,” ujarnya.

Disisi lain, pameran yang sudah berlangsung selama empat hari ini, cukup mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Tercatat 2000 pengunjung telah hadir dan antusias meramaikan pameran. Nur Aini, salah satu mahasiswa FPIK yang baru pertama kali melihat pameran, mengaku senang dan berharap ada pameran semacam ini setiap tahun. “Sebetulnya nggak begitu ngerti seni, cuma lihat karyanya. Terus diadain aja, dan lebih meriah biar pengunjungnya lebih banyak,” tutupnya.

 

Penulis: Alif Nur Rizki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf konten ini merupakan hak cipta kami. Untuk menduplikasi karya ini dapat menghubungi kami di redaksi@persmacanopy.com