Resensi: Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi

 

Judul              : Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi

Halaman          : 450 Halaman

Cetakan           : cetakan pertama, Maret 2016

Penulis             : Yusi Avianto Pareanom

Penerbit          : baNANA

 

***

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi ditulis Yusi Avianto setelah beberapa kumpulan cerita fiksi dan nonfiksinya diterbitkan, ini menjadi novel pertamanya yang terbit pada tahun 2016. Novel tersebut ditulis sedikit berbeda ditengah berbagai jenis novel yang terbit belakangan ini. Meminjam berbagai cerita pada masa berbeda, novel tersebut menyajikan dongeng kontemporer yang mengundang gelak tawa, isak tangis, bahkan makian dalam satu waktu.

Novel tersebut berkisah sosok Sungu Lembu, lelaki yang berasal dari pinggiran kerajaan Gilingwesi yang hidup untuk menunaikan dendam pada Rajanya, entah bagaimana berakhir di rumah dadu Nyai Manggis. Disana Sungu bertemu dengan Raden Mandasia, pangeran kerajaan Gilingwesi yang mempunyai hobi ganjil yaitu mencuri daging sapi. Raden Mandasia dalam misi untuk menyelamatkan kerajaan Gilingwesi dari pertempuran sia-sianya. Sungu pada akhirnya mengikuti Raden Mandasia menempuh perjalanan menuju Gerbang Agung demi menyelamatkan kerajaan Gilingwesi tersebut. Sungu tahu bahwa keputusan tersebut tidak termasuk pada susunan rencananya, namun siapa tahu dengan mengikuti Raden Mandasia dia akan lebih dekat dengan Raja sehingga dapat ditunaikan dendam tersebut.

Perjalanan yang tidak hanya menguras tenaga, namun juga menguras perasaan sejak Sungu menyetujui menjadi teman perjalanan Raden Mandasia untuk menemui Sang Permata Gerbang Agung. Berjumpa dengan berbagai sosok yang berbeda disetiap tempat, belajar berbagai hal baru, hingga melakukan sesuatu diluar bayangan merupakan keseruan yang hadir di awal hinggga akhir cerita. Banyak pelajaran kehidupan yang dapat kita ambil dari setiap bagian dalam petualangan Sungu Lembu dan Raden mandasia; dua sahabat yang akhirnya sadar atas persahabatan yang terjalin diantara mereka.

Hal baru yang terdapat dalam buku ini; lagi, meskipun judulnya tertulis Raden Mandasia tetapi 405 halaman buku tidak satupun menuliskan sudut pandang Raden Mandasia. Buku tersebut lebih mengulik sosok Raden Mandasia melewati kehidupan Sungu Lembu selama bersama Raden Mandasia. Sehingga, Sungu Lembu menjadi karakter tokoh utama seperti cermin yang merefleksikan sosok Raden Mandasia berikut kehidupannya.

 

“Anu, tinggal sembilan saja. Yang dua sudah kadung dipotong-potong sampai mati oleh anak-anak pas mereka semaput,” kata si pemain gambus.

 

Potongan bagian yang berlatar tempat di atas kapal yang terombang-ambing di lautan lepas yang sampai saat ini masih membuat tersenyum sekaligus ngeri dan kasihan pada waktu yang bersamaan. Memperlihatkan bagaimana penulis dapat menyajikan hal yang sudah biasa kita ketahui menjadi cerita yang unik dan asik. Hingga sampai pada penutup buku, saat yang sudah tiba untuk Sungu membereskan hutang yang entah pada siapa. Barangkali judul Kisah “Raden Mandasia dan Dua Puluh Enam Saudaranya serta Ayah Mereka dalam Penyerbuan Sia-Sia ke Kerajaan Gerbang Agung,” itu terlalu panjang.

 

Penulis: Naila Nifda A.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf konten ini merupakan hak cipta kami. Untuk menduplikasi karya ini dapat menghubungi kami di redaksi@persmacanopy.com