Sumber Daya Genetik Lokal Kian Tergerus di Masyarakat

Padi Merah Wangi Untung, salah satu yang dipamerkan pada Festival Sumber Daya genetik Lokal bertajuk “Open House, Temu Nasional dan Inovasi Pengelolaan Pemanfaatan dan Festival Sumber Daya Genetik Lokal” di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, Karangploso, Selasa (7/11). Dok: CANOPY/ Nur Dian Laksono

 

 

Malang, CANOPY – Peranan petani sangat penting dalam pengembangan Sumber Daya Genetik lokal. Hal tersebut yang disampaikan Dr. Ir. Haris Syahbuddin, DEA, kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) dalam sambutannya saat membuka seminar nasional dalam rangka “Open House, Temu Nasional dan Inovasi Pengelolaan Pemanfaatan dan Festival Sumber Daya Genetik Lokal” di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Jimur, Karangploso, Selasa (7/11).

Hal ini berkaitan dengan mulai hilangnya  Sumber Daya Genetik lokal di masyarakat, yang dipicu karena adanya penyeragaman genetik tanaman yang terjadi dewasa ini.

Prof. Dr. Ir. Kuswanto, MP. sebagai salah satu pembicara menyampaikan materi pembuka dengan sebuah puisi berjudul “Ilusi dalam Mimpi”.  Pada intinya, puisi tersebut mengungkapkan, bahwa Sumber Daya Genetik lokal semakin tergerus.  Upayanya sebagai salah satu pengajar di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, dengan telah diajarkannya mengenai Sumber Daya Genetik lokal, baik pada jenjang S1, S2 maupun S3. Terutama pada Jurusan Budidaya Pertanian, program Pemuliaan Tanaman. Hal tersebut diharapkan dapat lebih memanfaatkan Sumber Daya Genetik lokal yang telah tersedia di Indonesia sehingga mampu meningkatkan potensi pemanfaatannya.

Selain itu, Komisi Daerah (KOMDA) Sumber Daya Genetik Jawa Timur, diwakili Dr. Ir. Wiwik Heny Winasih, M.Si yang juga menjadi pemateri mengatakan bahwa, berbagai macam kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah daerah Jawa Timur telah dilakukan untuk melestarikan keunggulan Sumber Daya Genetik (SDG) lokal tersebut. ”Kebijakan tersebut berkaitan dengan pengelolaan SDG lokal dalam menunjang ketahanan pangan,” ujarnya. Apalagi, provinsi Jawa Timur telah didukung dengan berbagai lembaga penelitian mulai dari pertanian, peternakan, perkebunan, maupun perikanan. “Kebijakan-kebijakan tersebut tidak akan berjalan tanpa adanya peran dari kita (masyarakat, -red) sebagai stakeholder,” tambahnya.

Disisi lain, benih lokal yang terdapat di berbagai daerah sangatlah banyak. Hal ini disampaikan Ir. Mastur, M.Si., Ph.D dari Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB-Biogen), yang menambahkan bahwa, berbagai jenis benih tersebut muncul dan dapat terjadi karena adanya campur tangan petani maupun secara alami. Menurutnya, petani dapat dengan sengaja melakukan penyilangan pada dua jenis varietas yang berbeda untuk mendapatkan jenis baru yang lebih unggul. “Sumber Daya Genetik yang terjadi secara alami memang telah ada tanpa adanya campur tangan dari siapapun,” ungkapnya.

Namun, benih lokal yang sangat banyak tersebut dirasa belum dimanfaatkan secara maksimal, bahkan saat ini sedang terjadi erosi Sumber Daya Genetik yang sangat tinggi. Permasalahan ini disampaikan oleh Romi Abrori, Koordinator Nasional Forum Benih Lokal Berdaulat (BLB), mengungkapkan, banyak pihak yang memandang rendah benih lokal asli (heirloom seed), juga adanya anggapan bahwa benih tersebut tidak berguna. Sementara banyak pihak yang sudah sangat siap menguasai Sumber Daya Genetik tersebut. “40 persen benih yang digunakan pemerintah adalah benih hibrida, ditambah dengan 90 persen benih yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional dipasok dari perusahaan multinasional, kemudian pemerintah melakukan subsidi baik dari menggratiskan maupun menurunkan harganya,” ungkapnya. Hal ini, menurutnya, dapat menggeser kedudukan benih lokal di masyarakat.

Romi menambahkan, bahwa benih lokal (heirloom seed) sudah ada eksistensinya sejak zaman nenek moyang. Benih tersebut digunakan untuk mencukupi kebutuhan dari generasi ke generasi. “Sehingga, penggunaan benih hibrida menimbulkan berbagai pertanyaan. Apakah benar pertanian itu sendiri ditujukan untuk petani atau pasar?, untuk sebuah kedaulatan atau komoditas?,” ungkapnya. Ia berharap, kedepannya petani mampu berdaulat atas benih lokal (heirloom seed), agar petani tidak bergantung pada benih hibrida korporasi. “Harapan kedepan agar petani mampu berdaulat atas benih, sehingga menciptakan kemandirian pangan, serta benih lokal dapat berdaulat sebagai tanda dari kita sendiri,” pungkasnya.

 

Penulis: Naila Nifda A.

Editor: Alif Nur Rizki

2 thoughts on “Sumber Daya Genetik Lokal Kian Tergerus di Masyarakat

  • November 10, 2017 at 7:54 am
    Permalink

    Mantab canopy… Info kaya gini nih yg harusnya jadi konsumsi mahasiswa pertanian. Berita lain juga penting, tapi seorang petani sudah layaknya lebih fokus menciptakan pangan. Good luck and.. Go go go

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf konten ini merupakan hak cipta kami. Untuk menduplikasi karya ini dapat menghubungi kami di redaksi@persmacanopy.com