Bernostalgia di Festival Malang Tempo Doeloe

Festival Malang Tempo Doeloe #1
Dok: CANOPY/ Aisyah R. H.

Festival Malang Tempo Doeloe tahun ini secara simbolik dibuka dengan kegiatan memarut kelapa serentak. Bukan hanya oleh masyarakat, Walikota Malang, Kementrian Pariwisata serta 3000 peserta itu bersama-sama memarut kelapa yang nantinya akan dijadikan bahan membuat kudapan. Disamping itu, selain nuansa kolonial yang ditampilkan, tidak sedikit juga pengunjung yang turut menyemarakkan festival ini dengan menggunakan pakaian bernuansa tempo dulu.

***

Antusiasme yang tinggi ditunjukkan masyarakat Kota Malang pada Festival Malang Tempo Doeloe kali ini. Sejak pertama kali dihelat pada 2006 silam, festival yang menghadirkan nuansa Malang di era kolonial itu kembali diadakan pada Minggu (12/11) di Simpang Balapan, Ijen, Kota Malang.

Banyaknya pengunjung yang berdatangan mulai siang hingga malam hari untuk sekedar mengunjungi stand yang berjejer memamerkan berbagai olahan dari kelapa. Hal itu karena pada tahun ini, Festival Malang Tempo Doeloe mengusung konsep “Kelapa Jadi Apa”.

Yayasan Inggil, yang menggelar festival ini bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), memilih konsep tersebut sekaligus berupaya mengedukasi bagaimana cara mengolah kelapa mulai dari memarut hingga menyajikannya menjadi macam-macam kudapan.

“Senang sekali adanya festival ini karena banyak masakan tempo dulu dengan penyajian yang tradisional, seperti pada stand saya, ada dadar gulung mawar yang sudah jarang ditemukan,” ungkap Ibu Mira dari kelurahan Kidul Dalem.

Salah seorang pengunjung yang masih menginjak bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Muhammad Bagas Anugrah mengungkapkan kalau festival ini membuatnya mengingat kembali ke masa kecil.“Disini saya bisa makan serabi yang sudah jarang ditemukan,” ujarnya.

Meskipun begitu, tidak sedikit pengunjung yang menyanyangkan karena event seperti ini sempat vakum beberapa tahun yang lalu. Seperti diungkap Ibu Mira, yang mengikuti festival ini dari tahun ke tahun. “Sempat berhenti karena seperti pasar malam, bukan festival,” ungkapnya.

Selain nuansa kolonial, di festival ini juga terdapat kurang lebih 150 stand bazar, pertunjukan, dan stand booth bernuansa kuno dengan menyajikan pakaian tradisional, kuliner lawas, parade tari dan permainan zaman dahulu dari seluruh kelurahan serta sekolah di kota Malang.

 

Beberapa foto terkait Festival Malang Tempo Doeloe:

Festival Malang Tempo Doeloe #2
Dok: CANOPY/ Aisyah R. H

 

Festival Malang Tempo Doeloe #3
Dok: CANOPY/ Aisyah R. H

Festival Malang Tempo Doeloe #4
Dok: CANOPY/ Aisyah R. H

 

Festival Malang Tempo Doeloe #5
Dok: CANOPY/ Aisyah R. H

 

Festival Malang Tempo Doeloe #6
Dok: CANOPY/ Aisyah R. H

 

Festival Malang Tempo Doeloe #7
Dok: CANOPY/ Aisyah R. H

 

Festival Malang Tempo Doeloe #8
Dok: CANOPY/ Aisyah R. H

 

Festival Malang Tempo Doeloe #9
Dok: CANOPY/ Aisyah R. H

 

Festival Malang Tempo Doeloe #10
Dok: CANOPY/ Aisyah R. H

 

Festival Malang Tempo Doeloe #11
Dok: CANOPY/ Aisyah R. H

 

 

Penulis dan Foto: Aisyah R.Harahap

Editor: Alif Nur Rizki

5 thoughts on “Bernostalgia di Festival Malang Tempo Doeloe

  • November 20, 2017 at 11:37 am
    Permalink

    Mantap gan, ayo canopy terus maju!!!!

    Reply
  • November 20, 2017 at 1:50 pm
    Permalink

    harusnya sering-sering mengadakan festival bertema seperti ini! tidak juga memeriahkan dan meramaikan kota malang ini namun juga mengenang budaya yang telah hampir kita tinggalkan

    Reply
  • November 20, 2017 at 3:10 pm
    Permalink

    Penulisan dan penyampaian sudah baik dan menarik untuk dibaca tetapi kedepannya lebih menambah narasumber agar berita dapat berimbang. Sukses untuk kedepannya

    Reply
  • November 20, 2017 at 4:40 pm
    Permalink

    Menarik sekaliii, apalagi untukku yg bukan org malang :’3

    Reply
  • November 23, 2017 at 6:00 am
    Permalink

    Artikel yang dibahas tentang Festival Malang Tempo Doeloe ini menarik, sehingga bisa mengetahui suasana pada saat malang tempo dulu 😊

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf konten ini merupakan hak cipta kami. Untuk menduplikasi karya ini dapat menghubungi kami di redaksi@persmacanopy.com