APAKAH KULIAH DARING RAMAH BAGI MAHASISWA DIFABEL?

Malang-Canopy. Tercatat tanggal 2 Maret 2020 sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus Covid-19 pertama di Indonesia membuat geger seluruh penjuru negeri ini. Munculnya pandemi Covid-19 menyebabkan sebagian besar kegiatan yang melibatkan banyak orang terhambat. Berbagai kebijakan pun keluar dari mulut pemerintah maupun lembaga lain untuk meminimalisir resiko penyebaran Covid-19, tak terkecuali Universitas Brawijaya (UB). Sejak tanggal 16 maret 2020, UB menghentikan segala aktivitas kampus untuk menghindari penyebaran Covid-19. Kuliah daring menjadi solusi agar kegiatan belajar dan mengajar terus berjalan.

Kebijakan kuliah daring tentu berdampak bagi seluruh masyarakat kampus, tak terkecuali dengan mahasiswa penyandang disabilitas. Irdham, mahasiswa difabel tuli Agroekoteknologi 2019 menyayangkan akan banyaknya tugas yang diberikan. “Sebenarnya kuliah daring tidak masalah, namun tugas yang banyak dan deadline yang cepat membuat kelelahan”, ujarnya. Dalam kegiatan perkuliahan, dirinya mengaku bahwa ia dibantu oleh volunteer yang mendampinginya belajar. Lain halnya dengan Irdham, Nana, mahasiswi difabel tuli Agroekoteknologi 2017 juga mengalami kesulitan selama mengikuti kuliah daring. Nana menjelaskan bahwa kendala komunikasi menyulitkannya untuk memahami isi perkuliahan. “Memang tersedia pendamping, namun seringkali mendapat pendamping yang kurang bisa berbahasa isyarat. Apabila mendapat pendamping yang bisa bahasa isyarat, maka penjelasan dosen jadi lebih mudah untuk dimengerti” Tuturnya. Ia memaparkan bahwa apabila mendapat volunteer yang kurang bisa bahasa isyarat, maka ketikan di aplikasi Mirosoft Word menjadi alternatif.

Universitas Brawijaya sendiri memiliki lembaga Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) yang meneliti isu-isu disabilitas dan memberikan layanan bagi penyandang disabilitas di UB. PSLD inilah yang menyediakan volunteer bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Alies Poetri Lintagsari, M.Li selaku Kepala Bidang Pelayanan menjelaskan bahwa volunteer yang mahir berbahasa isyarat masih terhitung sedikit karena bahasa isyarat sangatlah kompleks. Proses pendampingan di PSLD menurut wanita yang kerap disapa Bu Lintang ini berbasis support teman sejawat, bukan pendamping profesional dan pendamping merupakan mahasiswa yang memiliki beban kuliah yang sama. Ia juga menambahkan bahwa tujuan pemberian pendampingan adalah untuk membantu mahasiswa difabel dapat mengakses kuliah dengan baik dan bisa mandiri serta dapat menyesuaikan dengan lingkungan inklusif. “Jika, ada mahasiswa tuli mendapatkan pendamping yang belum bisa berbahasa isyarat, saya berharap mahasiswa tersebut bisa membantu dan menyemangai mahasiswa tersebut untuk terus belajar bahasa isyarat.” Tuturnya. Saat ditanyai mengenai tanggapan PSLD, beliau memaparkan bahwa lembaga tersebut melakukan beberapa upaya salah satunya adalah pelatihan rutin bahasa isyarat. Hal ini diharapkan agar pendamping dapat meningkatkan kemahirannya dalam berbahasa isyarat.

Selain kelas bahasa isyarat, PSLD juga menyediakan layanan tutorial bagi mahasiswa difabel tuli. Mahasiswa dapat mengajukan teman atau senior yang mahir bahasa isyarat untuk mengajari materi yang dirasa kurang bisa dipahami. Tutor akan dibayar oleh pihak PSLD

Penulis : Yuliastuti Yasmin

Editor  : Shanti Ruri Pratiwi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf konten ini merupakan hak cipta kami. Untuk menduplikasi karya ini dapat menghubungi kami di redaksi@persmacanopy.com