Berdasarkan Peraturan Rektor Universitas Brawijaya Nomor 44 Tahun 2026, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB) secara resmi bertransformasi menjadi Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK). Namun, perubahan tersebut melampaui sekadar pergantian nama dan menandai arah baru fakultas dalam merespons perkembangan ilmu pengetahuan.
Dekan FBiPK UB, Prof. Mangku Purnomo, S.P., M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa perubahan nama tersebut berangkat dari perkembangan ilmu pengetahuan di bidang pertanian yang semakin pesat.
“Karena memang terkait banget dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang cepat di bidang pertanian jadi beyond agriculture (lebih dari sekadar pertanian) yang selama ini kita pahami,” ujar Prof Mangku.
Menurut Prof Mangku, perubahan tersebut diarahkan untuk mengubah cara berpikir mahasiswa. Pertanian tidak lagi hanya dilihat dari aktivitas teknis di lahan, tetapi juga melalui sistem, proses, skala, dan bisnis.
“Secara filosofi kita mau merubah sebenarnya thinking dari mahasiswa Fakultas Pertanian dan lulusan alumni Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan ini untuk lebih berpikir pada sistem,” tutur Prof Mangku.
Perubahan cara berpikir itu nantinya tidak hanya menjadi gagasan, tetapi akan diterapkan melalui kurikulum. Prof Mangku memastikan akan ada perombakan kurikulum yang mulai mengenalkan bio industri sebagai bahan kajian.
“Otomatis. Otomatis ada perubahan,” tegasnya.
Dalam kurikulum baru, mahasiswa tetap mempelajari aspek teknis pertanian, tetapi dengan perspektif yang lebih luas. Misalnya, pembelajaran pemupukan tidak hanya membahas cara mengaplikasikan pupuk, tetapi juga dapat diarahkan pada kemampuan menguji, meramu, hingga melihatnya sebagai bagian dari industri.
“Dulu begitu, ya itu akan tetap juga dipelajari tapi cara thinking-nya yang kemudian lebih diperluas. Bahwa kita mengelola industrial yang kemudian seperti ini. Nah itu yang sedang kita dorong nanti perubahan kurikulumnya,” jelas Prof Mangku.
Tidak berhenti pada kurikulum, FBiPK juga tengah mengusulkan pembukaan Program Studi Bio Industri. Saat ini, usulan tersebut masih dalam proses persetujuan.
“Kita juga akan membuat, mendirikan, mungkin ya sedang proses ini, moga-moga disetujui, program studi bio industri. Ya bio industri. Sedang kita propose, moga-moga nanti disetujui,” kata Prof Mangku.
Program studi tersebut nantinya diarahkan pada kemampuan mahasiswa dalam merancang bisnis dan proyek pertanian berskala industri. Mahasiswa juga akan dikenalkan pada analisis kelayakan serta perencanaan aktivitas pertanian dalam skala besar.
“Jadi analisis kelayakan, pendirian, kaya gitu. Yang sifatnya memang industrial. Aku bisa merancang analisis project pertanian,” ujarnya.
Arah baru tersebut juga membuat FBiPK tidak sepenuhnya meninggalkan pertanian konvensional. Prof Mangku menegaskan bahwa pertanian konvensional tetap memiliki ruang dan pasar. Bio industri justru diposisikan sebagai bidang yang perlu mulai dipersiapkan untuk menghadapi perkembangan ke depan.
“Yang lama ini tetap ada market, tetap ada space dia. Agriculture itu tetap ada market, ada space, konvensional agriculture, tapi bio industri itu kemudian adalah masa depan yang harus kita songsong,” tuturnya.
Sementara itu, perubahan nama fakultas tidak otomatis mengubah gelar akademik mahasiswa. Prof Mangku menjelaskan bahwa gelar melekat pada program studi, bukan fakultas. Karena itu, dalam waktu dekat mahasiswa tidak akan mengalami perubahan gelar akibat perubahan nama fakultas.
“Gelar kelulusan itu berbeda dengan fakultas. Jadi gelar kelulusan itu melekat pada prodi. Jadi tidak akan ada perubahan gelar dalam waktu dekat,” jelasnya.
Bagi Prof Mangku, penyematan bio industri pada nama fakultas pada akhirnya bukan sekadar penanda perubahan identitas, tetapi menjadi upaya untuk membawa FBiPK menghadapi perkembangan industri berbasis hayati yang semakin luas. Ia berharap perubahan tersebut dapat menjadi pijakan bagi fakultas untuk bergerak lebih progresif dalam menyiapkan mahasiswa menghadapi masa depan.
“Jadi saya pikir itu salah satu hal sebenarnya mendasar yang menjadi pemikiran kita di Fakultas Pertanian, Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan sehingga senat mendorong sama kita juga dan dosen mendorong untuk menyematkan bio industri sebagai ya spirit. Sebagai spirit dan progresivitas untuk menjemput masa depan,” pungkasnya.
Penulis: Siti Nurkholifah
Editor: Syaqilla Vita Az Zikri
