Daripada Kecanduan Baiknya Memulai Diversifikasi Pangan

Beras menjadi komoditas yang hampir tidak bisa lepas dari keseharian masyarakat Asia sejak zaman dulu dan kebijakan swasembada pangan dari era 60-an sampai sekarang di Indonesia menekankan ‘beras’ hingga sebagian besar telah menjadi candu. Salah satu jalan menuju rumah tangga yang tahan pangan adalah tidak bergantung terhadap satu bahan makanan saja. Dibangun dari rumah tangga mikro yang kuat maka ketergantungan pangan terhadap pemerintah juga akan menurun. Artinya, penurunan ketergantungan menjadikan kita berdaulat sendiri dan mampu menentukan kebutuhan mandiri. Ringkasnya, rumah tangga dapat berdaulat. Pertanyaan yang muncul bukan, ‘bisa atau tidak?’, namun ‘bersedia memulai atau tidak?’.

Jika kita tinjau lagi sebelum revolusi hijau dilaksanakan, banyak daerah yang mempunyai produk pangan pokok tersendiri dan mampu mencukupi secara rumah tangga. Namun, berjalannya revolusi hijau proses penekanan beras sebagai pangan pokok menjadi meningkat. Puncaknya adalah ketika Indonesia mampu swasembada pangan pada tahun 1984 dengan panca usaha taninya mampu surplus beras 2 juta ton dan hanya bertahan 5 tahun karena kerusakan ekologi pertanian yang besar utamanya. Hal tersebut menambah ketergantungan terhadap beras semakin besar. Berdampak pada import semakin naik dari tahun 1984 yang di lansir dari tirto.id sebesar 414 ribu ton, kemudian awal 1990-an mengimpor lagi, 1995 mencapai angka 3 juta ton , dan puncaknya 1998 mengimpor 33 juta ton sedangkan kebutuhan konsumsi 36 juta ton. Seakan-akan membuat sulit hidup jika tidak mengonsumsi beras.

Selanjutnya mengapa relevansi kecanduan beras sekarang semakin terasa? Ditambah dengan pandemik covid-19 yang membuat banyak pekerja dirumahkan. Dikutip dari WFP (World Food Programme), artikel yang berjudul “Indonesia COVID-19: Economic and Food Security Implications”, sebanyak 375.165 pekerja formal di PHK dan 316.000 pekerja informal tidak dapat bekerja. Sektor agrokompleks (pertanian, kehutanan, peternakan) terkena dampak ekonomi yang disebabkan pandemik di tingkat menengah yang mempunyai serapan tenaga kerja paling besar. Dampak ekonomi yang ditimbulkan lebih baik dari pada sektor industri dan lebih buruk dari sektor pemerintahan. Secara pangan, berkurangnya proses ditribusi pangan, membuat beberapa daerah mengalami deficit bahan pangan dan dampaknya adalah kenaikan harga, utamanya pada bawang merah (46,6%), gula (29,9%), dan beras naik sebesar 1,2%. Ketika pencukupan kebutuhan melalui import berkurang dan Negara importir juga membatasi kuotanya, disadari atau tidak, bahwa peran petani lokal dan hasil buminya sangat dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan hidup masyarakat. Pelepasan lahan subur dan tidak diganti lahan produktif lainnya, baik melalui paksaan atau keinginan pribadi sungguh sangat disayangkan. Berbeda dengan menjaga tanah subur di Amerika, mereka yang terpaksa menjual tanah suburnya akan melakukan pemindahan top soil (0-20cm) menuju tanah yang kurang subur. Dapat dilihat bahwa usaha pelestarian dan keinginan untuk mandiri pangan sangat besar. Kembali lagi ke kecanduan beras, artinya ketika dihadapkan pada situasi yang tidak terduga seperti ini dan didukung dengan kebijakan Pemerintah yang cukup kabur, diri sendiri akan lebih baik jika mempu berdaulat dalam pangan. Dengan tidak bergantung pada satu bahan makanan pokok saja: Diversifikasi.

Tren baru

Pengembangan pangan lokal sekarang menjadi salah satu hal yang banyak digalakkan. Dengan mengangkat hasil produk setempat kemudian diolah menjadi makanan khas juga mendorong terciptanya kultur diversifikasi pangan. Contoh yang dapat kita ambil adalah Gunung Kidul dengan nasi tiwul yang berbahan pokok ketela pohon, dulunya menjadi makanan pokok dan sekarang digantikan oleh beras. Di Playen, Gunung Kidul, padi gogo ditanam hanya dilaksanakan satu kali musim tanam ketika penghujan dan kemarau sepenuhnya ditanami palawija. Hasil panennya pun tidak diperjualbelikan, khusus untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dulu makanan pokok tiwul, karena masyarakat mengalami krisis dan tidak mampu membeli beras, sehingga tiwul menjadi makanan utama yang dimakan dengan lauk lainnya. Banyak yang masih menggunakan makanan pokok tiwul, hal tersebut bukan karena kembali krisis, namun masyarakat membuktikan mereka tahan, tidak bergantung, dan berhasil dalam kondisi sulit.

Sekarang ini, tepatnya 20 tahun terakhir dikutip dari tirto.id “Pentingnya Diversifikasi Pangan Untuk Cegah Ketergantungan Beras” pertumbuhan pergantian beras sebanyak 25% telah tergantikan oleh bahan makanan lain, sayangnya bahan makanan itu adalah gandum. Rata-rata pertumbuhan konsumsinya 1,4%/tahun. Bagus tidak bergantung lagi terhadap satu bahan makanan, tapi kita jauh dari kata mandiri secara produksi. Berdasarkan data WFP, pada tahun 2019/2020 diperkirakan penurunan impor semula 2019 sebesar 30 juta ton menjadi 2020 sebesar 20,2 juta ton. Hal tersebut dikarenakan Ukraina sebagai Negara eksportir utama membatasi jumlah ekspor karena pandemi. Sedangkan, beberapa tempat mulai memproduksi gandum seperti di Tosari, Pasuruan. Dilansir dari Terakota.id “Menilik Kampung Gandum DI Lereng Bromo”, Umumnya gandum produksi Tosari dikirim ke Bali dalam bentuk tepung gandum, dipasok ke PT Bogasari dalam jumlah besar, dan sekitar 200 kg untuk persedian wisatawan asing yang berkunjung. Meskipun tidak mampu mencukupi kebutuhan secara regional bahkan nasional, setidaknya usaha tersebut mampu memenuhi kebutuhan local dan rumah tangga sendiri serta tidak bergantung terhadap impor.

Ketergantungan Beras

Olahan beras yaitu nasi umumnya mempunyai kandungan yang dikutip dari karbohidrat (89%), Lemak (2%), Protein (9%) dengan keseluruhan 10% AKG (Angka Kecukupan Gizi). Jenis karbohidrat yang dimiliki oleh nasi termasuk karbohidrat sederhana. Karbohidrat sederhana tersusun dari satu atau dua jenis gula, disebut monosakarida dan disakarida. Dikutip dari tempo.co, karbohidrat sederhana lebih cepat dicerna dan cepat memberikan energi ke tubuh jika dibandingkan karbohidrat kompleks pada jagung, ketela, gandum dan yang lainnya. Oleh karena itu, konsumsi nasi harus diperhatikan dalam segi porsi dan dimanfaatkan untuk tenaga. Dampak kesehatan yang ditimbulkan dari ketergantungan konsumsi nasi yaitu memicu diabetes tipe 2, penyakit jantung, obesitas, dan kandungan indeks glikemik tinggi berdampak tidak baik terhadap paru-paru. Berganti sejenak dari mengonsumsi beras ke bahan makanan yang lain memang berat, namun mencoba mengurangi konsumsi perlahan dan menggantinya dengan bahan makanan lain akan lebih sehat serta menambah variasi menu makanan.

Selain dari segi kesehatan, beberapa masyarakat mempercayai bahwa mengonsumsi nasi dengan ketergantungan tidak baik untuk keseimbangan jiwa. Ditunjukkan dengan munculnya budaya ngrowot atau puasa ngrowot yang kebanyakan berasal dari budaya pesantren salaf. Puasa ngrowot adalah menghindari memakan segala bentuk olahan beras (beras merah, ketan dan lain-lain) dan menggantinya dengan makanan lain seperti ketela, ubi, jagung, kacang-kacangan dan masih banyak lagi. Tradisi ini muncul karena dulunya santri yang bertugas untuk menghafal berbagai kitab dan diminta oleh Kyai nya untuk melakukan keprihatinan dengan puasa ngrowot. Dipandang semacam ritual yang dekat dengan ghaib dan tidak bisa diejawantahkan. Sudut pandang itu juga tidak sepenuhnya salah dan juga tidak mutlak benar. Dikutip dari kompasiana.com, secara kultural sosial-ekonomi dengan tidak bergantung makan dengan nasi, karena nasi mempunyai campur tangan makhluk hidup paling banyak jika dibandingkan dengan makanan lain. Oleh karena itu, bergantung pada nasi sama halnya bergantung pada makhluk/orang lain dan dengan ngrowot nilai yang diambil yaitu mengurangi ketergantungan terhadap orang lain dan keimanan yang tebal. Baik, setelah dari pesantren kita berjalan-jalan menuju Asmat.

Baru-baru ini, Februari 2018 telah terjadi Kejadian Luar Biasa di Asmat, Papua yaitu Campak dan Malnutrisi. Korban yang meninggal karena penyakit tersebut sekitar 100 orang. Miris rasanya, karena kondisi pemberian gizi yang buruk membuat rentan terkena penyakit campak dan akhirnya meninggal dunia. Banyak media yang menginformasikan bahwa kejadian luar biasa ini disebabkan oleh kurangnya edukasi akan kebersihan lingkungan bahkan sampai karena perang suku. Seperti dijelaskan oleh Menkes, Nila F. Moeloek di tirto.id, “Kalau buang air gimana, ada cacing keluar. Ini mesti diselesaikan, Kalau pun dikasih makan tapi kalau enggak bagus (pola hidupnya) akan kembali seperti itu”, hal itu tidak menjelaskan ke akar permasalahan yang terjadi, justru mengambil seolah-olah warga yang salah. Begitu pula dengan sejarah perang antar suku yang dikaitkan dengan bencana kelaparan seperti yang telah diberitakan kompasiana.com, justru hal ini dikarenakan kegagalan pemerintah hadir dalam di warga Papua.

Berbeda dengan media asal Jerman, dilansir dari dw.com, meninggalnya pasien campak terkait dengan masalah malnutrisi, adanya gangguan komplikasi kesehatan dimana kondisi gizi buruk mempengaruhi daya tubuh seseorang. Setelah kasus itu, Kemensos mengirimkan 8000 paket bahan makanan dan 6000 paket sembako lengkap dari NGO. Tentunya, hal tersebut bukan semata cacingan atau perang, bukan? Selain tenaga kesahatan yang minim, hanya tersedia RSUD di ibukota kecamatan, Kabupaten hanya ada 2 orang dokter, 10 orang paramedik, dan sarana juga kurang bagus. Akar permasalahan adalah pangan, dijelaskan oleh Natilus Piangi (Mantan Komisioner Komnas HAM) di dw.com, bahwa kematian anak di Papua ini non natural, dimana sebelumnya anak-anak terbiasa dengan makanan hasil alam, namun setelah bahan konsumsi didatangkan di Papua dengan kondisi yang sudah kadaluarsa sudah lewat, begitu juga obat-obatan akan berpengaruh pada daya tahan tubuh. Tidak hanya itu, malnutrisi karena pemekaran wilayah, dimana banyak peladang yang penasaran akan Kabupaten. Perjalanan berhari-hari, alih-alih mendapatkan kerja, justru ladang terbengkalai, menimbulkan budaya konsumtif, dan banyak warga yang kekurangan bahan makanan. Peralihan bahan pokok dari hasil alam ke beras juga berpengaruh besar, seperti dikutip dari  tirto.id, kasus gizi buruk di Asmat disebabkan warga tak menanam lagi umbi-umbian yang menjadi basis mereka sejak dulu, sebaliknya malah justru menunggu penyaluran beras yang distribusinya tidak mudah dilakukan. Hal ini membuktikan lagi, bahwa bergantung pada satu bahan makanan menimbulkan gejolak yang luar biasa, bahkan sampai nyawa.

Sudah berakhirkah tulisan ini? Tanya seorang pembaca. Belum, lanjut menuju sedikit teori menganatomikan konsumsi pangan atau bahan pokok agar membuka wacana semakin lebar. Beranjak dari perbedaan kondisi pertanian, suku bangsa serta kemakmuran, Peiter Creutzbreg dalam Journal of Indonesian History (39-44), mengungkapkan bahan makanan menjadi lima, yaitu:

  1. Makanan yang sederhana diperoleh secara mudah dengan cara mengambil langsung dari alam seperti hewan, umbi-umbian, dan akar-akaran.
  2. Komposisi terhadap umbi-umbian atau akar-akaran yang mengandung zat tepung atau sagu sebagai bahan makanan pokok dengan ditambah daging hewan sebagai tambahan.
  3. Komposisi terhadap biji-bijian sebagai bahan makanan pokok ditambah dengan daging dan ikan. Kelompok biji-bijian yang dimaksud adalah jenis padi-padian, khususnya beras dan jagung sebagai makanan pokok ditambah dengan daging maupun ikan.
  4. Komposisi terhadap beras dan jagung sebagai bahan makanan dimana akar-akaran seperti singkong sebagai bahan makanan yang penting. Bahan makanan seperti daging tidaklah penting, kecuali ikan yang umumnya dikeringkan dan diasinkan.
  5. Makanan yang beragam antara daging, kentang, maupun roti.

Diversifikasi

Menginjak ke bagian terakhir, bahwa pemahaman tentang diversifikasi pangan adalah beras bukan satu-satunya bahan pangan karbohidrat dan pengembangan bahan pangan lokal akan lebih memperkuat ketahanan pangan. Sumber nutrisi juga terdapat pada berbagai bahan pangan lain yang sering kita jumpai. Singkong misalnya, salah satu karbohidrat kompleks yang mengandung karbohidrat (95%), lemak (2%), protein (3%), serta mencukupi 16% AKG. Berbagai macam olahan turunan singkong sudah beragam, missal gaplek, tiwul, sawut, dan masih beragam lainnya. Kemudian Jewawut, dulu pernah dibahas jewawut sebagai ketahanan pangan yang terlupakan. Adapun kandungan gizi yang ada didalamnya karbohidrat (90%), lemak (3%), dan protein (7%) serta AKG yang terpenuhi sebesar 10%. Umumnya jewawut diolah menjadi bubur, tepung, dan olahan turunan lainnya. Masih ada lagi yaitu Sagu, siapa mengira bahwa sagu termasuk karbohidrat kompleks tinggi yang dibuktikan dengan kandungan gizi tinggi. Sagu mengandung karbohidrat (100%), lemak (0%), dan protein (0%) dengan 42% AKG yang tercukupi. Olahan sagu dapat berupa tepung sagu, kue semprit, bubur sagu dan masih banyak lagi. Kacang hijau, salah satu bahan makanan yang dapat kita temui dengan mudah, mengandung karbohidrat (70%), lemak (4%), dan protein (26%) serta memenuhi AKG sebesar 6%. Tentu saja jika disebutkan semuanya akan semakin panjang. Contoh dan uraian diatas mempunyai arti bahwa sekecil lingkungan yang kita diami sekarang mempunyai potensi yang luar biasa. Jadi, bergeser sedikit demi sedikit dari idiom, “Belum makan jika belum makan nasi” menjadi “Makan apa saja asal gizi dan cinta terpenuhi”. Wacana ini tidak bisa mengubah pola hidup pembaca menjadi baru, hanya jika telah membaca sampai kalimat ini mungkin akan menambah wacana baru pada diri masing-masing. Tentang, pentingnya mandiri pangan, keseimbangan jiwa, dan kesehatan diri. Kita percaya bahwa bangsa kita dapat mencapai kedaulatan pangan, bukan?.

Referensi

https://tirto.id/pentingnya-diversifikasi-pangan-untuk-cegah-ketergantungan-beras-dhrP

https://www.kompasiana.com/joncalvin/5a6daf7cdcad5b293401a5a3/kelaparan-lingkaran-setan-papua

https://www.dw.com/id/kematian-anak-akibat-campak-dan-malnutrisi-di-papua-meluas/a-42253790

https://tirto.id/pemerintah-ungkap-penyebab-merebaknya-campak-gizi-buruk-di-asmat-cDtr

INDONESIA COVID-19: Economy and Food Security Implications. World Food Programe. 2020

https://www.fatsecret.co.id/kalori-gizi/umum/singkong?portionid=34055&portionamount=1,000

https://www.fatsecret.co.id/kalori-gizi/umum/kacang-hijau?portionid=34344&portionamount=1,000

https://www.fatsecret.co.id/kalori-gizi/umum/sagu?portionid=10150699&portionamount=1,000

https://www.fatsecret.co.id/kalori-gizi/umum/jewawut

Murdiyono dan Wasino. 2015. Journal of Indonesian History: Perkembangan Tanaman Pangan di Indonesia Tahun 1945-1965. Jurusan Sejarah. FIS. Universitas Negeri Semarang.

Gambar bersumber dari villagerpost.com

Penulis             : Tri Raharjo

Editor              : Shanti Ruri P

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf konten ini merupakan hak cipta kami. Untuk menduplikasi karya ini dapat menghubungi kami di redaksi@persmacanopy.com