Site icon Persmacanopy.com

KULIAH BUKAN LOMBA SIAPA YANG PALING SIBUK

 

Masuk kuliah sering kali terasa seperti memasuki dunia yang penuh kesempatan. Ada organisasi, kepanitiaan, asisten praktikum, magang, dan berbagai kegiatan lain yang bisa diikuti. Hampir setiap semester selalu ada hal baru yang bisa dicoba. Tanpa sadar, muncul anggapan bahwa mahasiswa yang aktif adalah mahasiswa yang sibuk. Makin banyak kegiatan yang diikuti, semakin banyak pengalaman yang dimiliki, dan semakin bagus pula perjalanan kuliahnya.

Padahal, kuliah bukan lomba siapa yang paling sibuk, tetapi tentang seberapa mampu kita menentukan prioritas dan mengelola pilihan yang kita ambil.

Kesempatan untuk berkembang memang perlu dimanfaatkan, tetapi bukan berarti semua kesempatan harus diambil. Mahasiswa perlu belajar menyeleksi kegiatan yang akan dijalani, bukan sekadar mengumpulkan sebanyak mungkin pengalaman. Sebab, terlalu banyak mengambil kegiatan tanpa mempertimbangkan kapasitas diri justru dapat membuat seseorang kehilangan fokus pada hal yang seharusnya menjadi prioritas.

Semester awal mungkin menjadi waktu yang tepat untuk mencoba. Setelah beradaptasi dengan kehidupan perkuliahan, mahasiswa bisa mulai mengenal organisasi, kepanitiaan, atau kegiatan lain di kampus. Tidak ada salahnya mencoba berbagai hal untuk menemukan kegiatan yang sesuai dengan minat dan kemampuan. Namun, mencoba bukan berarti harus mengambil semuanya.

Ada mahasiswa yang merasa perlu segera mengikuti organisasi sejak semester pertama karena takut tertinggal. Ada pula yang mengambil beberapa kepanitiaan sekaligus karena merasa setiap kegiatan adalah kesempatan yang sayang untuk dilewatkan. Padahal, kesempatan yang baik belum tentu menjadi kesempatan yang tepat untuk setiap orang.

Di sinilah kemampuan untuk memilih menjadi penting.

Sebelum mengikuti suatu kegiatan, mahasiswa perlu mempertanyakan apa yang ingin didapatkan. Apakah kegiatan tersebut membantu mengembangkan kemampuan yang ingin dipelajari? Apakah kegiatannya sesuai dengan bidang yang diminati? Apakah waktunya masih bisa disesuaikan dengan perkuliahan? Atau justru hanya diikuti karena teman-teman juga ikut?

Pertanyaan semacam itu terdengar sederhana, tetapi sering kali terlewat ketika mahasiswa terlalu sibuk mengejar label “aktif”.

Aktif di kampus tidak selalu berarti aktif dalam organisasi. Mahasiswa yang ingin mengembangkan kemampuan kepemimpinan mungkin akan mendapatkan pengalaman dari organisasi. Mereka yang ingin memperdalam keilmuan bisa mencoba menjadi asisten praktikum. Ada pula yang mungkin lebih membutuhkan pengalaman melalui magang atau kegiatan yang berkaitan langsung dengan bidang studinya.

Artinya, kegiatan yang dipilih seharusnya memiliki alasan. Tidak perlu semua mahasiswa mengikuti jalur yang sama hanya karena ada anggapan bahwa mahasiswa yang baik harus memiliki pengalaman organisasi, kepanitiaan, dan berbagai kegiatan lainnya.

Selain mempertimbangkan manfaat, kapasitas diri juga perlu diperhatikan. Mengikuti satu kegiatan dan mampu menjalankan tanggung jawab dengan baik tentu lebih berarti daripada mengikuti banyak kegiatan tetapi tidak mampu memberikan kontribusi yang maksimal. Kesibukan juga tidak otomatis menunjukkan produktivitas. Ada titik ketika terlalu banyak kegiatan justru membuat tugas kuliah terbengkalai, waktu istirahat berkurang, dan setiap tanggung jawab hanya dikerjakan sekadarnya.

Kebutuhan mahasiswa pun berubah seiring bertambahnya semester. Ketika memasuki semester-semester awal, masih ada ruang untuk mencoba banyak hal. Namun, semakin tinggi semester, tuntutan akademik biasanya ikut meningkat. Praktikum semakin kompleks, mata kuliah semakin mendalam, dan mahasiswa mulai berhadapan dengan magang, penelitian, hingga skripsi.

Pada tahap tersebut, kemampuan untuk mengatakan “tidak” menjadi sama pentingnya dengan keberanian untuk mengatakan “iya”.

Bukan berarti mahasiswa semester akhir tidak boleh mengikuti organisasi atau kegiatan lain. Kesempatan tetap bisa diambil jika memang sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas. Namun, keputusan tersebut perlu lebih selektif. Mengambil kegiatan hanya karena takut kehilangan kesempatan atau merasa tidak enak menolak justru dapat membuat prioritas semakin berantakan.

Pada akhirnya, pengalaman kuliah bukan tentang seberapa panjang daftar kegiatan yang berhasil dikumpulkan. Banyaknya organisasi, kepanitiaan, jabatan, atau sertifikat tidak akan banyak berarti jika semuanya dijalani tanpa tujuan dan tanpa memberikan ruang untuk berkembang.

Menjadi mahasiswa aktif bukan berarti harus menjadi mahasiswa yang selalu sibuk. Ada saatnya mencoba, ada saatnya berkomitmen, dan ada saatnya menolak. Setiap kesempatan memang bisa menjadi pengalaman, tetapi tidak setiap kesempatan harus menjadi bagian dari perjalanan kita.

Karena kuliah bukan lomba siapa yang paling sibuk. Yang lebih penting adalah mengetahui apa yang ingin dicapai, memilih kegiatan yang benar-benar relevan, dan mampu menjalani pilihan tersebut dengan sebaik-baiknya.

Penulis: Siti Nurkholifah
Ilustrator: Siti Nurkholifah

Exit mobile version