Memasuki awal bulan suci Ramadhan 1447 H beberapa komoditas hortikultura mengalami fluktuasi harga, tak terkecuali sang primadona rasa: cabai. Melansir dari Liputan 6 2026, harga cabai rawit merah terus mengalami peningkatan pada 16 Februari 2026 menyentuh angka Rp 79.550 per kg, per tanggal 17 Februari 2026 harga cabai rawit menyentuh Rp 89.350 per kilogram. Di Indonesia sendiri cabai merupakan suatu komoditas penting karena hampir semua masakan di Indonesia menggunakan cabai sebagai salah satu komposisinya.
Cabai merupakan komoditas yang berfluktuasi ketika permintaan cabai sedang tinggi, terutama saat mendekati hari-hari besar seperti hari raya Idul Fitri. Gejolak harga cabai yang berulang setiap tahun menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar faktor musiman, melainkan problem struktural pada tata niaga hortikultura. Dalam banyak kasus, kenaikan harga di tingkat konsumen tidak selalu diikuti oleh kenaikan harga yang proporsional di tingkat petani. petani justru menjual dengan harga rendah saat panen raya, sementara lonjakan harga terjadi ketika stok di pasar mulai menipis dan rantai distribusi memanjang. Fenomena ini menunjukkan adanya asimetri transmisi harga dalam rantai pasok cabai (Hidayatullah, 2025).
Secara teknis, cabai memang bukan merupakan tanaman pangan pokok seperti beras, namun ketergantungan kultural yang tinggi terhadap rasa pedas membuat permintaan cabai tetap stabil meskipun harganya melambung tinggi, sehingga posisinya nyaris setara dengan kebutuhan primer. Menurut CNBC 2023, Total konsumsi cabai pada 2023 mencapai 610,85 ribu ton, naik 7,2% dari konsumsi 2022 yang sebesar 569,65 ribu ton. Karakteristik tersebut membuat cabai masuk ke dalam kategori Volatile Foods atau bahan pangan dengan harga bergejolak yang menjadi penyumbang utama angka inflasi nasional (BPN, 2025). Tingginya konsumsi dan ketergantungan tersebut membuat setiap gangguan produksi langsung beresonansi pada stabilitas harga nasional.
Ketidakstabilan ini terutama disebabkan oleh karakteristik cabai sebagai komoditas hortikultura yang sangat bergantung pada musim dan kondisi cuaca. Curah hujan yang terlalu tinggi dapat memicu busuk tanaman dan serangan hama, sementara musim kemarau ekstrem dapat menurunkan produktivitas (Suparyana dan Aeko, 2023). Di sisi lain, pola tanam yang belum terkoordinasi, keterbatasan fasilitas penyimpanan, serta panjangnya rantai distribusi turut memperbesar risiko ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Ketika harga cabai “meledak”, dampaknya akan menjalar ke berbagai sektor, mulai dari meningkatnya pengeluaran rumah tangga hingga goyahnya margin keuntungan para pelaku UMKM kuliner yang menjadi tulang punggung ekonomi.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa lembaga sekelas Bank Indonesia (BI) menaruh perhatian yang sangat besar terhadap komoditas yang tampaknya sederhana ini. Sebagai bank sentral yang memiliki mandat menjaga stabilitas nilai rupiah, BI memandang harga cabai sebagai indikator krusial dalam mengendalikan inflasi. Melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), BI aktif melakukan intervensi, mulai dari pemantauan stok secara real-time hingga memfasilitasi kerjasama antardaerah untuk memastikan distribusi pasokan tidak terhambat. Bahkan, tidak jarang kita melihat BI menginisiasi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dengan membagikan bibit cabai kepada masyarakat. Langkah tersebut diambil karena BI menyadari bahwa menjaga harga cabai bukan hanya soal menurunkan angka di papan pasar. Langkah tersebut diambil karena BI menyadari bahwa menjaga harga cabai bukan hanya soal menurunkan angka di papan pasar, melainkan upaya menjaga napas ekonomi masyarakat agar tetap stabil di tengah ketidakpastian cuaca dan rantai pasok.
Selain peran Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi, pemerintah melalui kebijakan sektoral juga mengambil langkah stabilisasi di tingkat produksi dan distribusi. Menurut Liputan 6 pemerintah melalui Badan Pangan Nasional menerapkan kebijakan subsidi distribusi untuk memindahkan stok komoditas dari daerah surplus ke wilayah yang mengalami lonjakan harga guna menstabilkan pasokan pasar. Selain itu, pemerintah menjalankan program stabilisasi harga, penetapan harga dasar gabah, serta penyaluran pupuk subsidi untuk memperkuat ketahanan ekonomi para petani. Langkah jangka panjang juga difokuskan pada pemetaan kebutuhan pangan tahunan dan penyusunan strategi yang lebih adaptif terhadap dinamika pasar serta tantangan alam. Upaya-upaya tersebut diharapkan menghasilkan kebijakan pertanian yang lebih responsif, partisipatif, dan berbasis pada kebutuhan riil petani di lapangan.
Selain faktor musiman, persoalan utama terletak pada lemahnya sistem penyimpanan dan tata niaga hortikultura yang belum efisien. Di bulan Februari ini, tingginya curah hujan di sentra produksi cabai seringkali memicu gagal panen akibat serangan penyakit tanaman, yang secara otomatis memangkas suplai di pasar. Tanpa adanya teknologi penyimpanan yang memadai atau intervensi harga eceran tertinggi, mekanisme pasar yang liar akan selalu menguntungkan tengkulak dan merugikan konsumen akhir serta petani di hulu. Salah satu cara untuk menekan tingginya ketimpangan tingkat harga yang ada di petani dan konsumen akhir adalah dengan memangkas panjangnya rantai pemasaran komoditas pertanian maupun mengadakan inovasi olahan cabai untuk memperlama umur simpan komoditas cabai (Rumbiak dan Tutuheru, 2024).
Cabai, si emas merah yang dipetik di lahan-lahan petani, sejatinya bukan hanya komoditas dapur. Ia adalah cermin rapuhnya sistem pangan hortikultura Indonesia. Selama tata niaga dan manajemen pasok belum dibenahi secara menyeluruh, harga cabai akan terus menjadi siklus tahunan yang “pedas” bagi konsumen dan penuh ketidakpastian bagi petani.
Penulis: Ummul Khoir Azzahra
Editor: Rayya Izana Abqariyya
Gambar: Ummul Khoir Azzahra
SUMBER
Badan Pangan Nasional. (2025). Volatile Food Masih Positif, Pemerintah Upayakan Jaga Harga Pangan Tidak Jauh dari HET/HAP. Diakses dari https://badanpangan.go.id/blog/post/volatile-food-masih-positif-pemerintah-upayakan-jaga-harga-pangan-tidak-jauh-dari-hethap
Bank Indonesia. (2023). Sinergi Nasional Kendalikan Inflasi Pangan Melalui GNPIP. Diakses dari https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_255323.aspxLiputan6.com. (2025). Ternyata Ini Cara Atasi Lonjakan Harga Cabai. Diakses dari https://www.liputan6.com/bisnis/read/5884505/ternyata-ini-cara-atasi-lonjakan-harga-cabai
CNBC Indonesia. (2024). Harga Cabai Makin Pedas, Ternyata Ini Biang Keroknya. Diakses dari https://www.cnbcindonesia.com/research/20241215123129-128-596087/harga-cabai-makin-pedas-ternyata-ini-biang-keroknya
Hidayatullah, R. (2025). Strategi Bertahan Hidup Petani Dalam Menghadapi Fluktuasi Harga Komoditas. JURNAL ECONOMINA, 4(1), 35–42. https://doi.org/10.55681/economina.v4i1.1526
Liputan6.com. (2026, 17 Februari). Harga Pangan Hari Ini 17 Februari 2026: Cabai Rawit Merah Sentuh Rp 89.350 per Kg. Diakses dari https://www.liputan6.com/bisnis/read/6280286/harga-pangan-hari-ini-17-februari-2026-cabai-rawit-merah-sentuh-rp-89350-per-kg
Rumbiak, R. E. Y., & Tutuheru, S. (2024). Analysis of marketing and margins value of the local cayenne peppers (Capsicum frustescens) in Jayawijaya Regency. AGRICOLA, 14(2), 64-73. https://doi.org/10.35724/ag.v14i2.6288
Utama FR, A. F., & Suparyana, P. K. 2023. Analisis Profitabilitas Budidaya Cabai Merah Besar Di Kabupaten Lombok Timur. Agrifo: Jurnal Agribisnis Universitas Malikussaleh, 8(1), 44-50, Doi: https://doi.org/10.29103/ag.v8i1.11631

