Setiap tahun, perguruan tinggi menyambut mahasiswa baru melalui berbagai rangkaian kegiatan orientasi. Bagi mereka yang baru meninggalkan bangku sekolah, ospek menjadi salah satu pengalaman pertama untuk mengenal kehidupan kampus. Mereka mulai berkenalan dengan lingkungan akademik, budaya kampus, organisasi, hingga berbagai dinamika yang berbeda dari masa sekolah. Karena itu, ospek seharusnya menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk beradaptasi dan menemukan gambaran tentang kehidupan yang akan mereka jalani di perguruan tinggi.
Namun, di tengah berbagai rangkaian kegiatan yang harus dijalani, muncul pertanyaan tentang seberapa relevan ospek bagi mahasiswa hari ini. Berbagai aturan, atribut, penugasan, hingga kegiatan yang harus diikuti sering kali menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ospek. Apakah semua tuntutan tersebut benar-benar membantu mahasiswa baru memahami kehidupan kampus, atau justru ada sebagian yang terus dilakukan karena sudah menjadi kebiasaan dari angkatan ke angkatan? Pertanyaan ini bukan berarti ospek sudah tidak diperlukan. Ospek tetap memiliki peran penting sebagai ruang awal bagi mahasiswa untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Namun, cara pelaksanaannya perlu terus dievaluasi. Sebab, banyaknya tuntutan tidak selalu berarti banyaknya pembelajaran. Jika ospek ingin menjadi pintu masuk mahasiswa ke kehidupan perguruan tinggi, setiap kegiatan seharusnya tidak hanya meminta mahasiswa untuk melakukan sesuatu, tetapi juga memberikan alasan dan makna di baliknya.
Pada dasarnya, mahasiswa baru memang membutuhkan proses untuk beradaptasi. Mereka memasuki lingkungan yang berbeda dari sekolah, dengan sistem akademik yang lebih mandiri dan tanggung jawab yang lebih besar. Karena itu, keberadaan ospek memiliki tujuan yang masuk akal. Mahasiswa diperkenalkan dengan lingkungan kampus, sistem perkuliahan, budaya akademik, organisasi, serta berbagai kegiatan yang dapat menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Ospek juga dapat menjadi ruang untuk membangun relasi. Bagi sebagian mahasiswa, masa orientasi menjadi kesempatan pertama untuk mengenal teman dari berbagai daerah, latar belakang, dan karakter. Dari sana, mereka mulai membangun lingkungan sosial yang akan menemani perjalanan perkuliahan. Persoalannya bukan pada keberadaan ospek, melainkan pada apakah cara yang digunakan benar-benar mendukung tujuan tersebut.
Masalah muncul ketika orientasi lebih banyak dipenuhi tuntutan daripada proses belajar. Atribut, misalnya, dapat menjadi bagian dari identitas dan ketertiban selama kegiatan. Namun, ketika peserta justru lebih sibuk memastikan setiap atribut sesuai aturan daripada memahami materi dan mengenal lingkungan kampus, fokus kegiatan mulai bergeser.
Hal serupa terjadi pada penugasan. Tugas tentu dapat menjadi sarana untuk melatih kreativitas, kerja sama, dan tanggung jawab. Namun, semakin banyak tugas tidak otomatis berarti semakin banyak pembelajaran. Setiap penugasan seharusnya memiliki tujuan yang jelas dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa baru.
Salah satu bentuk yang perlu diperhatikan adalah banyaknya tugas video. Membuat video dapat menjadi ruang untuk belajar berkomunikasi, bekerja sama, menyusun ide, dan memanfaatkan teknologi. Namun, ketika tugas diberikan terlalu banyak atau mulai menyentuh ruang pribadi mahasiswa, persoalannya tidak lagi sekadar soal beban tugas. Muncul pula pertanyaan tentang batas privasi. Sejauh mana mahasiswa perlu membawa kehidupan pribadinya ke dalam tugas orientasi? Apakah setiap hal yang diminta untuk direkam memang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran?
Di sisi lain, tugas video yang terlalu banyak juga dapat menyita waktu dan energi mahasiswa. Mereka harus memikirkan konsep, mengambil gambar, melakukan penyuntingan, hingga mengejar tenggat. Akibatnya, perhatian dapat lebih banyak tercurah pada penyelesaian tugas daripada mengenal lingkungan kampus, membangun relasi, dan memahami substansi orientasi. Kreativitas memang penting, tetapi kreativitas tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan batas pribadi dan proporsi beban mahasiswa baru.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah kegiatan yang dipertahankan hanya karena alasan tradisi. Sebuah kegiatan tidak otomatis menjadi relevan hanya karena sudah dilakukan dari tahun ke tahun. Tradisi memang dapat menjadi bagian dari identitas kampus, tetapi tradisi juga perlu dievaluasi. Jika masih memberikan manfaat, tentu layak dipertahankan. Namun, jika hanya menjadi formalitas, keberadaannya patut dipertanyakan.
Begitu pula dengan disiplin. Mahasiswa memang perlu belajar menghargai waktu, menaati aturan, dan bertanggung jawab. Namun, disiplin tidak seharusnya berhenti pada kepatuhan. Mahasiswa juga perlu memahami alasan di balik aturan yang diberikan. Sebab, mengikuti perintah karena takut mendapat teguran berbeda dengan memahami aturan karena menyadari tanggung jawab.
Di sinilah peran korlap juga perlu dilihat secara proporsional. Ketegasan dibutuhkan untuk memastikan kegiatan berjalan tertib. Namun, ketegasan tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang membuat peserta takut. Ketika mahasiswa baru lebih sibuk memikirkan bagaimana agar tidak salah dan tidak ditegur daripada memahami apa yang sedang mereka jalani, orientasi berisiko kehilangan tujuan awalnya.
Rasa takut bahkan dapat membuat peserta menyepelekan substansi kegiatan lain. Perhatian mereka terserap pada bagaimana menghindari kesalahan, sementara materi, interaksi, dan pengalaman yang seharusnya menjadi bagian penting dari orientasi justru berada di posisi kedua.
Banyaknya kegiatan tidak selalu menunjukkan keberhasilan sebuah ospek. Jadwal yang padat, tugas yang bertumpuk, aturan yang ketat, dan berbagai persyaratan hanya akan berarti jika semuanya membantu mahasiswa memahami kehidupan kampus. Sebaliknya, kegiatan yang lebih sederhana justru dapat memberikan pengalaman yang lebih berarti ketika memiliki tujuan yang jelas.
Karena itu, ukuran keberhasilan ospek seharusnya tidak berhenti pada jumlah tugas yang diselesaikan atau kepatuhan peserta terhadap aturan. Yang lebih penting adalah apa yang tersisa setelah seluruh rangkaian berakhir. Mahasiswa seharusnya keluar dari masa orientasi dengan pemahaman yang lebih baik tentang kampus, kesiapan menjalani perkuliahan, serta relasi yang dapat membantu mereka beradaptasi.
Hal tersebut bukan berarti ospek harus berjalan tanpa aturan. Disiplin tetap diperlukan, tugas tetap dapat diberikan, atribut tetap dapat digunakan, dan panitia tetap memiliki kewenangan untuk menjaga ketertiban. Namun, semuanya perlu ditempatkan secara proporsional. Aturan perlu memiliki alasan, tugas perlu memiliki tujuan, dan ketegasan perlu diarahkan untuk mendidik, bukan menimbulkan ketakutan.
Dengan begitu, ospek tidak harus menjadi lebih mudah. Ospek hanya perlu menjadi lebih bermakna. Tugas video, misalnya, dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kreativitas apabila jumlah dan tujuannya jelas. Kegiatan kelompok dapat menjadi sarana membangun relasi apabila peserta benar-benar diberi ruang untuk berkolaborasi. Bahkan aturan yang ketat pun dapat diterima ketika mahasiswa memahami alasan di baliknya.
Pada akhirnya, ospek masih memiliki tempat dalam kehidupan perguruan tinggi. Mahasiswa baru tetap membutuhkan proses untuk mengenal lingkungan, beradaptasi, dan memahami peran mereka sebagai bagian dari komunitas akademik. Yang perlu ditinggalkan bukan ospeknya, melainkan kebiasaan mempertahankan suatu tuntutan hanya karena telah menjadi bagian dari tradisi.
Ospek seharusnya menjadi pengalaman pertama yang memperkenalkan mahasiswa pada kehidupan perguruan tinggi, bukan sekadar rangkaian kewajiban yang harus diselesaikan. Sebab, nilai sebuah orientasi tidak terletak pada seberapa banyak tuntutan yang mampu diberikan, tetapi pada seberapa berarti pengalaman yang dibawa mahasiswa setelahnya.
Penulis:Angga Adi Wijaya
Editor: M.Renaldy Fasha

