Pembangunan Terus Pertanian Tergerus

Sejak orde baru hingga kini yang menjadi indeks keberhasilan pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan adalah suksesnya pembangunan infrastruktur. Pembangunan dirasa penting dalam kemajuan serta perkembangan suatu negara. Tanpa adanya pembangunan kita pasti akan tertinggal dengan negara-negara lain, selain itu pentingnya suatu pembangunan adalah memfasilitasi rakyat yang akan mendukung kemudahan dari berbagai macam sektor serta memudahkan melaksanakan segala bentuk aktifitas bagi rakyat. Dengan adanya infrastruktur seperti jalan tol yang saat ini menjadi fokus pembangunan pemerintah tentunya pemberikan manfaat bagi para distributor dan pelaku ekonomi lain yang membutuhkan akses jalan. Mereka dapat menekan biaya dan mempercepat waktu pengiriman produknya. Menurut data yang dilansir kompas, pemerintah terhitung sampai sekarang telah membangun 3.387 km jalan

Dibalik kesuksesan pemerintah dalam membangun infrastruktur yang begitu besar ada banyak ketimpangan sosial dibaliknya serta konflik pembebasan lahan rakyat yang terjadi di Indonesia. Menurut data Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) selama tahun 2011-2018, ada sekitar 681 konflik agraria yang terjadi di lahan seluas 213.764 ha. Adanya konflik tersebut memunculkan pertanyaan, apakah pembangunan masih menjadi indikator keberhasilan pemerintah. Tidak hanya konflik pembebasan lahan namun banyak dampak yang terjadi akibat pembangunan salah satunya menyusutnya lahan pertanian di Indonesia.

Menurut data BPS yang dilansir oleh CNN Indonesia luas lahan baku sawah mengalami penurunan. Pada tahun 2017 lahan sawah di Indonesia berjumlah 7,75 juta ha sementara pada 2018 menurun menjadi 7,1 juta ha. Penurunan alih fungsi lahan ini masih pada lahan sawah, belum pada lahan-lahan lain seperti perkebunan, lahan tegal, lahan hortikultura dan hutan. Pemerintah terus menggencarkan pembangunan di sisi lain juga peningkatan produktivitas pertanian. Jika pembangunan terus dilakukan maka lahan makin menyempit tentunya produktivitas pertanian tidak dapat ditingkatkan. Bagaimana kedua sektor ini berhasil sementara keduanya saling bertolak belakang?.

Jika pembangunan selalu dijadikan sebagai indikator keberhasilan pemerintah maka lahan pertanian di Indonesia akan semakin menipis. Pemerintah seharusnya memahami bahwa untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan membangun infrastruktur tidak harus mengalihfungsikan lahan pertanian. Bagaimaimana jadinya jika kita memiliki jutaan kilometer jalan, puluhan infrastrultur yang memadai jika lahan untuk menanam saja tidak ada. Percuma saja punya rumah bagus tetapi tidak makan. Apakah harus impor? Katanya tak lagi ingin impor, mengapa harus mengalihfungsikan lahan?

Pemerintah telah membuat banyak kebijakan yang dapat melindungi petani agar tanahnya tidak terjual, nyatanya alih fungsi itu masih tetap ada. Apakah pemerintahan selanjutnya juga menjadikan pembangunan sebagai indikator keberhasilan pemerintah. Jika benar, Indonesia akan kehilangan ribuan tanah hijaunya. Jangankan swasembada, mandiri pangan saja mungkin hanya angan-angan. Agar pemerintahan itu dipandang bagus dan berhasil oleh rakyat tidak harus menampilkan karya terindah berupa pembangunan yang dapat dilihat semua orang. Namun, bagaimana akhirnya ketimpangan-ketimpangan sosial tidak ada lagi, keadilan ditegakkan dan tentunya rakyat bisa makan tanpa resah esok harus makan apa.

Penulis : Khusnul Hasanah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf konten ini merupakan hak cipta kami. Untuk menduplikasi karya ini dapat menghubungi kami di redaksi@persmacanopy.com