Beberapa tahun terakhir, dunia kampus menghadapi fenomena baru yang semakin mengkhawatirkan munculnya begitu banyak pertanyaan tidak relevan, dangkal, atau tidak memiliki hubungan logis dengan materi yang sedang dibahas. Fenomena ini sering disebut sebagai “pertanyaan sampah”, yaitu pertanyaan yang diajukan bukan karena keinginan memahami materi, melainkan karena dorongan untuk terlihat aktif demi mendapatkan nilai partisipasi. Dalam era digital saat ini, fenomena tersebut semakin diperparah dengan hadirnya teknologi kecerdasan buatan yang membuat mahasiswa dapat menghasilkan file PPT, jawaban presentasi, hingga jawaban presentasi dari AI tanpa memahami isi atau konteksnya. Fenomena ini penting untuk kita evaluasi karena mencerminkan semakin menurunnya kualitas budaya akademik, bergesernya motivasi belajar, dan semakin kuatnya kecenderungan tersebut di lingkungan perguruan tinggi.
Fenomena pertanyaan sampah dapat muncul dari berbagai sumber. Salah satu faktor utamanya adalah orientasi nilai yang begitu kuat dalam sistem pendidikan tinggi. Banyak dosen memberikan poin keaktifan dalam penilaian akhir mahasiswa. Akibatnya, bertanya di kelas dianggap sebagai salah satu cara cepat untuk mendapatkan angka tambahan. Mahasiswa akhirnya merasa harus bertanya agar tidak dianggap pasif, meskipun sebenarnya tidak memahami materi yang sedang didiskusikan. Pertanyaan tidak lagi diposisikan sebagai alat intelektual untuk menggali lebih dalam suatu topik, tetapi sebagai strategi untuk “mengamankan nilai”. Pada titik ini, fungsi akademik dari pertanyaan hilang, digantikan oleh fungsi administratif semata.

Selain orientasi nilai, fenomena ini semakin diperkuat oleh budaya performatif yang tumbuh di lingkungan kampus. Dalam suasana kelas, terdapat tekanan sosial bahwa mahasiswa yang aktif berbicara dianggap lebih pintar dan rajin, sementara yang diam dianggap kurang berpartisipasi. Budaya ini menciptakan dorongan untuk tampil aktif, meskipun tanpa persiapan. Akhirnya, banyak mahasiswa mengajukan pertanyaan tanpa substansi, bertele-tele, atau tidak nyambung demi mendapatkan poin keaktifan. Budaya performatif juga didorong oleh kebiasaan di media sosial, di mana banyak orang terbiasa terlihat sibuk, produktif, dan pintar, meski tidak selalu mencerminkan kemampuan asli. Tekanan semacam ini menjadikan kelas sebagai ajang penampilan, bukan ruang belajar mendalam.
Di sisi lain, kemunculan pertanyaan sampah juga sering dipicu oleh kurangnya pemahaman mahasiswa terhadap materi yang dibahas. Banyak mahasiswa hadir di kelas tanpa membaca materi terlebih dahulu, tidak mengikuti alur diskusi, atau bahkan tidak mengetahui konteks pembahasan. Karena tetap ingin terlihat aktif, mereka terpaksa mengajukan pertanyaan yang tidak berhubungan dengan inti materi. Hal ini membuat diskusi kelas menjadi tidak fokus dan kurang berkualitas.
Fenomena ini kini menjadi semakin rumit dengan hadirnya kecerdasan buatan (AI) yang dapat menghasilkan file PPT, jawaban presentasi, hingga jawaban presentasi secara instan. Banyak mahasiswa yang menggunakan AI untuk menyiapkan pertanyaan seminar, membuat slide presentasi, bahkan menjawab pertanyaan penguji dalam presentasi tugas. Penggunaan AI sebenarnya tidak salah selama digunakan sebagai alat bantu untuk memahami materi. Namun yang terjadi di lapangan berbeda: mahasiswa menggunakan AI untuk membuat pertanyaan tanpa memahami maksudnya, sehingga pertanyaannya sering terlalu umum, tidak kontekstual, atau tidak relevan dengan presentasi yang sedang berlangsung. PPT yang dibuat oleh AI pun sering terlihat rapi secara visual, namun tidak mencerminkan pemahaman pemakainya. Lebih parah lagi, jawaban presentasi yang dihasilkan AI dan dibacakan mahasiswa justru membuat diskusi menjadi tidak otentik, karena bukan berasal dari pemahaman personal.
Contoh konkret dari fenomena ini mudah ditemukan. Dalam presentasi kelas, seringkali ada mahasiswa yang mengajukan pertanyaan yang tidak ada hubungan langsung dengan tema presentasi. Ada yang mengulang pertanyaan yang sudah dijawab sebelumnya. Ada pula pertanyaan yang dibuat AI dan terlihat “pintar”, tetapi sebenarnya tidak relevan. Kondisi ini membuat pemateri bingung dan dosen merasa waktu diskusi tidak digunakan secara maksimal. Akhirnya, ruang tanya jawab yang seharusnya menjadi momen kritis berubah menjadi sesi yang penuh formalitas tanpa substansi.
Dampak dari fenomena pertanyaan sampah sangat besar terhadap kualitas pembelajaran. Pertama, diskusi kelas menjadi tidak efektif karena waktu habis untuk menanggapi pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu. Kedua, fenomena ini mengurangi kualitas intelektual kampus karena mahasiswa tidak lagi merasa perlu memahami materi secara mendalam. Ketiga, budaya bertanya yang seharusnya menjadi bagian penting dari proses berpikir kritis justru berubah menjadi budaya meminta nilai. Keempat, penggunaan AI tanpa pemahaman memperkuat budaya akademik yang palsu tampilan luar bagus, tetapi isi kosong. Kelima, mahasiswa yang ingin bertanya secara substansial justru sering tidak mendapatkan kesempatan karena waktu sudah habis oleh pertanyaan yang tidak bermakna. Selain itu, dosen menjadi semakin sulit menilai kemampuan asli mahasiswa karena sebagian kontribusi mereka berasal dari AI, bukan hasil analisis pribadi.
Fenomena pertanyaan sampah seharusnya menjadi alarm bagi dunia pendidikan tinggi. Kampus perlu mengevaluasi kembali sistem penilaian yang terlalu menekankan keaktifan verbal dan mulai beralih ke penilaian yang menilai kualitas pemahaman. Penggunaan AI juga sebaiknya dibimbing agar menjadi alat pendukung belajar, bukan alat menggantikan proses berpikir. Yang paling penting, budaya akademik harus kembali digerakkan oleh rasa ingin tahu, pemahaman, dan diskusi yang jujur.
Pada akhirnya, pertanyaan memiliki fungsi penting dalam akademik: menggali makna, menguji argumen, dan memperdalam pemahaman. Ketika pertanyaan berubah menjadi sekadar alat pencitraan dan nilai, maka Kampus kehilangan salah satu fondasi intelektualnya. Fenomena pertanyaan sampah adalah cerminan bahwa sebagian mahasiswa lebih memilih tampil daripada berpikir. Oleh karena itu, perubahan harus dilakukan, dimulai dari kesadaran bahwa pertanyaan terbaik adalah pertanyaan yang lahir dari proses belajar, bukan dari tekanan nilai ataupun kecerdasan buatan.
Penulis:
Editor: Rayya Izana Abqariyya
Gambar: Rayya Izana Abqariyya











Leave a Reply