Persmacanopy.com

Membangun Pertanian Indonesia

Pertanyaan Sampah demi Orientasi Nilai di Lingkungan Kampus

Beberapa tahun terakhir, dunia kampus menghadapi  fenomena baru yang semakin mengkhawatirkan munculnya begitu banyak  pertanyaan tidak relevan, dangkal, atau tidak memiliki hubungan logis dengan  materi yang sedang dibahas. Fenomena ini sering disebut sebagai “pertanyaan  sampah”, yaitu pertanyaan yang diajukan bukan karena keinginan memahami  materi, melainkan karena dorongan untuk terlihat aktif demi mendapatkan nilai partisipasi. Dalam era digital saat ini, fenomena tersebut semakin diperparah  dengan hadirnya teknologi kecerdasan buatan yang membuat mahasiswa dapat  menghasilkan file PPT, jawaban presentasi, hingga jawaban presentasi dari AI  tanpa memahami isi atau konteksnya. Fenomena ini penting untuk kita evaluasi karena mencerminkan semakin menurunnya kualitas budaya akademik,  bergesernya motivasi belajar, dan semakin kuatnya kecenderungan tersebut di  lingkungan perguruan tinggi. 

Fenomena pertanyaan sampah dapat muncul dari berbagai sumber. Salah satu  faktor utamanya adalah orientasi nilai yang begitu kuat dalam sistem pendidikan  tinggi. Banyak dosen memberikan poin keaktifan dalam penilaian akhir  mahasiswa. Akibatnya, bertanya di kelas dianggap sebagai salah satu cara cepat  untuk mendapatkan angka tambahan. Mahasiswa akhirnya merasa harus  bertanya agar tidak dianggap pasif, meskipun sebenarnya tidak memahami materi  yang sedang didiskusikan. Pertanyaan tidak lagi diposisikan sebagai alat  intelektual untuk menggali lebih dalam suatu topik, tetapi sebagai strategi untuk  “mengamankan nilai”. Pada titik ini, fungsi akademik dari pertanyaan hilang,  digantikan oleh fungsi administratif semata. 

Selain orientasi nilai, fenomena ini semakin diperkuat oleh budaya performatif  yang tumbuh di lingkungan kampus. Dalam suasana kelas, terdapat tekanan  sosial bahwa mahasiswa yang aktif berbicara dianggap lebih pintar dan rajin,  sementara yang diam dianggap kurang berpartisipasi. Budaya ini menciptakan  dorongan untuk tampil aktif, meskipun tanpa persiapan. Akhirnya, banyak  mahasiswa mengajukan pertanyaan tanpa substansi, bertele-tele, atau tidak  nyambung demi mendapatkan poin keaktifan. Budaya performatif juga didorong  oleh kebiasaan di media sosial, di mana banyak orang terbiasa terlihat sibuk,  produktif, dan pintar, meski tidak selalu mencerminkan kemampuan asli. Tekanan  semacam ini menjadikan kelas sebagai ajang penampilan, bukan ruang belajar  mendalam. 

Di sisi lain, kemunculan pertanyaan sampah juga sering dipicu oleh kurangnya  pemahaman mahasiswa terhadap materi yang dibahas. Banyak mahasiswa hadir  di kelas tanpa membaca materi terlebih dahulu, tidak mengikuti alur diskusi, atau  bahkan tidak mengetahui konteks pembahasan. Karena tetap ingin terlihat aktif,  mereka terpaksa mengajukan pertanyaan yang tidak berhubungan dengan inti  materi. Hal ini membuat diskusi kelas menjadi tidak fokus dan kurang berkualitas. 

Fenomena ini kini menjadi semakin rumit dengan hadirnya kecerdasan buatan (AI) yang dapat menghasilkan file PPT, jawaban presentasi, hingga jawaban  presentasi secara instan. Banyak mahasiswa yang menggunakan AI untuk menyiapkan pertanyaan seminar, membuat slide presentasi, bahkan menjawab  pertanyaan penguji dalam presentasi tugas. Penggunaan AI sebenarnya tidak  salah selama digunakan sebagai alat bantu untuk memahami materi. Namun yang  terjadi di lapangan berbeda: mahasiswa menggunakan AI untuk membuat  pertanyaan tanpa memahami maksudnya, sehingga pertanyaannya sering terlalu  umum, tidak kontekstual, atau tidak relevan dengan presentasi yang sedang  berlangsung. PPT yang dibuat oleh AI pun sering terlihat rapi secara visual, namun  tidak mencerminkan pemahaman pemakainya. Lebih parah lagi, jawaban  presentasi yang dihasilkan AI dan dibacakan mahasiswa justru membuat diskusi  menjadi tidak otentik, karena bukan berasal dari pemahaman personal. 

Contoh konkret dari fenomena ini mudah ditemukan. Dalam presentasi kelas,  seringkali ada mahasiswa yang mengajukan pertanyaan yang tidak ada hubungan  langsung dengan tema presentasi. Ada yang mengulang pertanyaan yang sudah  dijawab sebelumnya. Ada pula pertanyaan yang dibuat AI dan terlihat “pintar”,  tetapi sebenarnya tidak relevan. Kondisi ini membuat pemateri bingung dan dosen  merasa waktu diskusi tidak digunakan secara maksimal. Akhirnya, ruang tanya  jawab yang seharusnya menjadi momen kritis berubah menjadi sesi yang penuh  formalitas tanpa substansi. 

Dampak dari fenomena pertanyaan sampah sangat besar terhadap kualitas  pembelajaran. Pertama, diskusi kelas menjadi tidak efektif karena waktu habis  untuk menanggapi pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu. Kedua, fenomena ini  mengurangi kualitas intelektual kampus karena mahasiswa tidak lagi merasa perlu  memahami materi secara mendalam. Ketiga, budaya bertanya yang seharusnya  menjadi bagian penting dari proses berpikir kritis justru berubah menjadi budaya  meminta nilai. Keempat, penggunaan AI tanpa pemahaman memperkuat budaya  akademik yang palsu tampilan luar bagus, tetapi isi kosong. Kelima, mahasiswa  yang ingin bertanya secara substansial justru sering tidak mendapatkan  kesempatan karena waktu sudah habis oleh pertanyaan yang tidak bermakna.  Selain itu, dosen menjadi semakin sulit menilai kemampuan asli mahasiswa  karena sebagian kontribusi mereka berasal dari AI, bukan hasil analisis pribadi. 

Fenomena pertanyaan sampah seharusnya menjadi alarm bagi dunia  pendidikan tinggi. Kampus perlu mengevaluasi kembali sistem penilaian yang  terlalu menekankan keaktifan verbal dan mulai beralih ke penilaian yang menilai  kualitas pemahaman. Penggunaan AI juga sebaiknya dibimbing agar menjadi alat  pendukung belajar, bukan alat menggantikan proses berpikir. Yang paling penting,  budaya akademik harus kembali digerakkan oleh rasa ingin tahu, pemahaman,  dan diskusi yang jujur. 

Pada akhirnya, pertanyaan memiliki fungsi penting dalam akademik: menggali  makna, menguji argumen, dan memperdalam pemahaman. Ketika pertanyaan  berubah menjadi sekadar alat pencitraan dan nilai, maka Kampus kehilangan  salah satu fondasi intelektualnya. Fenomena pertanyaan sampah adalah cerminan  bahwa sebagian mahasiswa lebih memilih tampil daripada berpikir. Oleh karena  itu, perubahan harus dilakukan, dimulai dari kesadaran bahwa pertanyaan terbaik adalah pertanyaan yang lahir dari proses belajar, bukan dari tekanan nilai ataupun  kecerdasan buatan.

Penulis:
Editor: Rayya Izana Abqariyya
Gambar: Rayya Izana Abqariyya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf konten ini merupakan hak cipta kami. Untuk menduplikasi karya ini dapat menghubungi kami di redaksi@persmacanopy.com