Lelaki ini begitu nyata untuk ukuran masa lalu yang kembali kulanjutkan. Ya, kami dekat empat tahun yang lalu sebelum kuputuskan pergi darinya sejauh yang aku bisa. Dinding yang sudah terbangun susah payah terbukti runtuh hari ini. Aku mengulum senyum saat emotikon merah kembali bertengger di layar ponselku. Rangkaian kata yang menyertainya tiada berarti dibandingkan nyala rona simbol itu. Terhitung sudah tiga dari sepuluh bulan hubungan kami mulai berani. Berani memberi perhatian, berani memandang wajah dan mendengar suara yang dulunya hanya hinggap di angan, atau bahkan berani untuk marah atas kecemburuan yang aku rasakan. Memang aneh mengingat status kami yang sebatas teman.
Tidak kupungkiri, aku senang dengan sikapnya yang mengerti kesibukanku melebihi siapapun. Dia berkali-kali memberiku waktu untuk apa yang ingin aku lakukan dan apa yang harus aku kerjakan. Dia memberiku telinga untuk seluruh cerita yang aku alami, terlepas dari apapun konteksnya. Aku sadar dengan kekuranganku pun lewat buku rekomendasinya. Menasihati tanpa menggurui. Mengayomi tanpa menguasai. Memilih untuk menjalani apa yang sudah digariskan adalah keputusanku. Aku akan menyimpan semua rapat-rapat hingga kelabu ini menjadi putih. Namun, momen itu kembali terulang. Momen di mana perasaanku diketahui semesta dengan lantang. Menyadarkanku bahwa terjerat dengannya menjadikanku sosok yang lemah.
“Intinya aku nyaman. Awalnya, aku nggak mau lagi berhubungan sama kamu sampai-sampai aku tahan perasaanku sendiri. Tapi, kamu memperlakukan aku dengan baik, kelewat pengertian malah. Kamu nggak pernah marah atas perlakukanku yang kadang keterlaluan.”
Entah keberanian dari mana aku mengirimkan pesan itu kepadanya. Mungkin dari aku yang terlalu lelah untuk menahan apa yang seharusnya tumbuh dengan layak. Bahkan jarak pun tidak cukup memahamkanku atas risiko yang harus aku hadapi kedepannya.
“Harusnya aku yang ngucapin hal itu di ulang tahun kamu nanti. Kamu kurang sabar ternyata,” Layar ponselku kembali mengerjap, “Aku juga nyaman kalau itu yang mau kamu dengar.”
Aku senang. Aku senang dengan fakta bahwa dalam hubungan ini bukan hanya aku yang menaruh rasa, melainkan kami. Harusnya setelah itu aku menanyakan semua hal yang membuatku bimbang, bukan malah menekuri debaran jantung dengan senyum yang menggila, salah tingkah luar biasa. Dua hari berlalu dan tidak ada status nyata. Kami bersepakat untuk menjalani hubungan ini seperti biasa hingga aku merasa sedikit aneh dengan apa yang terjadi.
“Kamu sekedar nyaman sama aku?”
“Apa aku harus bilang I love you baru kamu percaya?”
“Nggak gitu juga. Maksudku, perasaan kamu sejauh mana? Kalau nyaman kan nggak harus aku orangnya, bisa siapa aja.”
“Perasaanku lebih dari itu, Tha.”
“Kamu serius?”
“Kamu sebegitu nggak percayanya, ya, sama aku?”
“Kamu salah.”
“Terus yang benar gimana?”
“Aku boleh jujur, nggak?”
“Boleh. Saling terbuka aja.”
“Alasan kita selesai empat tahun lalu itu karena kamu bahas dia setelah kita udah saling jujur dan dua hari lalu kamu ulangi hal itu. Aku takut kalau ternyata aku ada di hubungan kalian yang belum selesai.”
Tidak ada tanda darinya untuk membalas pesanku sebelum namanya berada dalam panggilan masuk. Suaranya menyapa gendang telingaku dan bergema di sana, “Kalau nggak selesai ngapain aku mulai sama kamu, Tha?”
“Dari ceritamu aku tahu kalau kamu seberjuang itu buat hubungan kalian. Kenangan yang kalian punya pun pasti banyak, Kamu udah bener-bener ikhlas, Za? Ada temenku yang selalu balik sama masa lalunya nggak peduli seberapa besar usahanya buat berhubungan sama orang baru.”
“Aku udah ikhlas, Tha. Jangan bandingkan hubungan kita sama orang lain. Kita ya kita, mereka ya mereka. Nggak semua yang terjadi sama orang lain bakal berlaku di kita.”
“Kalau nanti kamu ragu sama perasaanmu buat aku atau dia, langsung ngomong aja ya, nggak usah ngerasa nggak enak.”
“Kamu bisa nggak nggak usah bahas dia? Semakin kamu bahas semakin aku kepikiran.”
“Kepikiran apa?”
“Ya kepikiran dia. Kita jalani aja pelan-pelan. Jangan mikir yang aneh-aneh karena hal itu bikin kita susah buat jalani hubungan ini.”
Air mataku menetes perlahan. Aku semakin takut dengan keraguan yang kumiliki untuknya karena di situasi ini pun dia masih bertahta bagi Reza Baradhitya. Setelah napasku lebih benar aku memutuskan hal yang aku sendiri tidak tahu sejauh mana dampaknya bagi hubungan kami.
“Oke. Kasih aku waktu buat mikirin semuanya.”
“Please, Tha. Kita baru mulai dan nggak gini caranya, aku nggak mau kayak gini. Hasilnya cuma kamu yang pergi dan aku yang percuma nunggu. Aku nggak mau kejadian yang dulu terulang lagi.”
“Aku juga nggak mau, Za. Sekali pun aku pergi aku bakal selesaikan semuanya baik-baik. Dua hari yang lalu kejadiannya sama persis kayak dulu dan aku yakin kamu tahu. Aku nggak menyalahkan kamu yang cerita tentang dia karena aku yang minta dan bersedia dengerin itu. Aku cuma bingung sama posisiku di kamu itu kayak gimana. Aku nggak mau disakiti dan nyakiti siapa pun.”
Dia diam, aku pun diam. Pikiran kami mungkin terpisah, namun satu hal yang aku yakini adalah kami ingin yang terbaik dalam hubungan ini meskipun dalam artian yang berbeda. Dia menghela napas untuk ke sekian kalinya.
“Kalau itu yang kamu mau, aku bakal nunggu. Aku nggak akan pergi dan akan selalu di sini. Aku harap kamu juga gitu karena aku serius sama kamu, Tha.”
“Makasih karena udah serius. Maaf kalau akhirnya kayak gini. Nanti aku kabari kalau udah siap.”
“Take your time, Nathaya Shakila.”
Tangisku pecah saat itu. Panggilannya seakan menegaskanku bahwa kami harus selesai. Entah untuk saat ini atau selamanya, yang jelas menyudahi apa yang baru saja kami mulai dengan singkat. Rasanya semakin jauh bagiku memilikinya. Semakin jauh untuk kami menjadi satu yang utuh.
Aku benar-benar mengambil waktu selama yang aku perlukan hingga terbiasa tanpa kehadirannya. Lelaki ini kembali hilang bersama dengan janji kami untuk masa depan. Aku yang menghilangkannya dengan tidak menyelesaikannya baik-baik seperti yang aku ucapkan waktu itu. Lupakan tentang melihat senja sepulang kuliah. Lupakan tentang akhir pekan di mana kami bersepeda. Lupakan tentang film yang akan kami tonton ketika dia pulang. Lupakan semua itu. Silakan sebut aku pengecut karena memang itu faktanya. Fakta bahwa aku belum sesiap itu untuk jatuh setelah cinta.
Penulis: Anggita Dwi
Editor: Danendra Reza