Bagaimana jika negeri ini hancur sebelum aku mendapatkan cintamu?
Sedangkan, para kroni kapitalis itu telah mengubah cinta menjadi perkara untung dan rugi, menimbang manusia dengan materi dan mengubur nurani di bawah meja kompromi.
Sedangkan aku hanyalah bagian dari sebuah titik data statistika,
Angka yang membentuk grafik untuk sekedar memperjuangkan cinta pun tak sampai untuk kuraih.
Bagaimana jika aku mati sebelum sempat untuk menjadi kekasihmu?
Setiap hari, kabar buruk tentang negeri ini adalah sarapan bagi telinga,
Keadilan dipaksa bungkam,
Harapan dijual murah,
Dan harga-harga terpaksa berteriak.
Selain hobi memporak-porandakan negara, apakah rezim ini juga melarang warganya untuk sekadar bercinta?
Apakah untuk mencintaimu saja aku harus meminta izin mereka,
Yang merasa memiliki negeri ini.
Sayang, aku tak tahu sampai kapan tanah ini sanggup untuk menahan luka,
Atau berapa banyak mimpi yang harus dikorbankan sebelum pagi benar-benar tiba.
Aku hanya ingin hidup cukup lama untuk berjalan bersamamu, melewati jalan-jalan yang tak lagi dipenuhi ketakutan, membicarakan masa depan tanpa perlu mencemaskan apakah esok masih menjadi milik kita.
Sebab jika negeri ini memang sedang menuju kehancuran, biarlah aku tetap punya sesuatu yang tak bisa mereka rampas dengan kekuasaan.
Bukan jabatan.
Bukan kekayaan.
Bukan pula janji-janji manis yang hanya indah di atas mimbar.
Melainkan kesempatan untuk mencintaimu dengan sederhana, tanpa harus menjadi siapa-siapa, selain manusia yang ingin hidup dan mendapatkan cintamu di tanah yang katanya Merdeka.
Sebab barangkali yang paling sulit bukanlah melawan penguasa, melainkan memastikan kita masih punya hari esok untuk saling mencintai.
Penulis : Ahmad Said A.C
Editor: Syaqilla Vita Az Zikri
Illustrasi: Pinterest

