Persmacanopy.com

Membangun Pertanian Indonesia

Bidak Bidak Catur dan Kisahnya

Lovis corinth (1918)

 

Matahari hampir terbenam di cakrawala dan kedua lelaki itu belum selesai dalam permainan caturnya. Perlahan Eka menatap mata lelaki di depannya. Sepasang mata sedikit sipit dengan pupil mata berwarna biru laut. Mungkin dia dari Jepang. Hanya itu yang ada di benak Eka.

“Sekarang giliranmu, ya?” Lelaki itu berucap lembut setelah menggerakkan pion hitamnya ke g5.

Eka mengalihkan pandangannya pada papan catur. Secara jumlah bidak, Eka lebih unggul. Tiga pion, satu benteng, dan satu peluncur. Sedangkan pria bermata sipit itu hanya dua pion, satu benteng dan satu peluncur. Tidak jauh beda memang. Jari Eka mengangkat bidak benteng, menarik lurus menuju c7. Sebuah skak.

“Skak!” ucap Eka.

“Hmmm, menyebalkan,” gumam lelaki sipit itu. Dia lalu memindahkan bidak Rajanya menuju belakang pion hitam.

“Namun aku masih penasaran, siapa dirimu sebenarnya?” tanya Eka sembari menggerakkan bidak bentengnya untuk mundur satu petak.

Lelaki sipit hanya terdiam dan menggerakkan bidak peluncur menuju f1. Berusaha untuk membuka serangan.

“Pernah dengar ungkapan ‘Tuhan tidak bermain dadu’?” tanya lelaki sipit itu

“Albert Einstein?”

“Tentu, bagaimana menurutmu?”

“Aku sudah tidak percaya tuhan,” jawab Eka. “…dan agama.”

Jawaban Eka seketika membuat lelaki sipit terdiam. Beberapa saat kemudian muncul senyum tipis dari wajah lelaki sipit. Sejenak mereka tidak melakukan percakapan. Jari jemari bergerak dengan gesit untuk melakukan serangan skak. Sementara yang lain menggerakkan bidak untuk tetap bertahan. Eka melakukan serangan. Lelaki sipit bertahan. Begitu pula sebaliknya.

Hingga senja, dari kedua lelaki itu tidak ada yang menang atau kalah. Suasana taman kota itu perlahan sepi. Beberapa orang telah pulang dari taman sedari tadi. Ada pula sepasang kekasih yang masih bermesraan di bangku ujung taman. Sedikit remang dan tertutup beberapa pepohonan. Setelah percakapan yang lalu, lelaki sipit lebih banyak diam dan tersenyum tipis. Sedang Eka terlalu fokus pada papan catur, berusaha untuk melupakan kejadian buruk yang tadi pagi dia alami.

“Mau remis saja?” Lelaki sipit itu akhirnya bicara setelah hanya tersenyum.

“Baiklah, sudah mau malam juga. Kita bermain terlalu lama.” Eka merebahkan punggungnya ke sandaran kursi.

“Posisi bidak ini, aku jadi teringat Carlsen dan Kasparov.”

“Magnus Carlsen itu? Pemain catur dunia itu, kan?”

“Iya, dan mereka memiliki posisi bidak yang sama dengan kita. Meraka bermain tiga permaian, dan berakhir dengan kemenangan Kasparov. Kalau tidak salah tahun 2004…Iya tahun 2004.”

“Dirimu banyak mengetahui sesuatu, ya?” Eka terkagum. “Lalu siapa dirimu itu?”

Lelaki sipit itu hanya tersenyum tipis.

***

Eka terduduk lesu di bangku taman. Sedari pagi hingga menjelang siang dia hanya terduduk dalam diam. Di bawah sepatu pantofelnya beberapa puntung rokok berserakan. Mungkin sekitar sembilan hingga sepuluh puntung. Tangannya yang gemeteran mengambil satu batang rokok terakhir dan membakarnya. Hembusan asapnya begitu dalam menandakan dia benar benar putus asa. Diri Eka telah hancur.

Pagi tadi Eka berangkat kerja seperti biasa. Motor bebeknya membelah embun pagi jalanan Kota Malang yang masih lenggang. Sempat Eka berhenti pada warung untuk membeli nasi pecel langganannya. Hanya ada dua orang yang duduk di bangku warung. Lelaki paruh baya dengan kumis tebal mirip seorang tokoh kiri dan perempuan muda menggenakan daster bunga mawar yang membungkus lauk untuk sarapan keluarga kecilnya di rumah. Eka menyapa ramah penjaga warung dan tak lupa ia membayar utang nasi lusa kemarin.

Beberapa saat kemudian Eka melanjutkan perjalanan. Angin dingin menusuk tubuhnya yang kurus. Jaket parasut murahnya tak mampu membendung hawa mbediding. Kota Malang sedang dingin dinginnya. Getaran di saku celana mengalihkan perhatian Eka dari stang motor. Itu panggilan telepon dari bapaknya. Ia menepian motornya di trotoar dekat taman dan mengangkat telepon dari bapaknya.

“Le, adikmu ditangkap polisi!” Suara tangis terdengar dari balik ponsel.

Eka diam mematung. Air mukanya menunjukan kebingungan. Ditangkap polisi? Bagaimana bisa? Ia masih kebingungan.

“Bagaimana bisa pak? Memangnya Bayu salah apa? Kok bisa ditangkap polisi.” tanya Eka.

“Pagi tadi setelah kamu berangkat kerja, le. Dua orang polisi datang ke rumah. Katanya orang Polsek. Mereka datang buat cari Bayu. Ada yang bilang Bayu pakai narkoba.”

“Dapat informasi dari mana polisi itu?”

“Di kampung ada empat orang yang ditangkap. Salah satu dari yang tertangkap bilang Bayu juga pakai narkoba. Pas polisi menggeledah kamar Bayu, ada dua bungkus sabu sabu. Sekarang Bayu ada di polsek.”

“Terus gimana, pak?”

“Polisinya minta uang tebusan 150 juta buat bebasin Bayu. Kalau enggak kasus Bayu dinaikkan ke pengadilan. Nanti Bayu dipenjara, le.”

“Uang tabungan yang Eka kasih nggak cukup, pak, buat nebus Bayu?

“Uangnya habis, le. Bapak kasih ke Bayu, katanya dia mau bikin usaha, bapak ngga tahu kalau ternyata uangnya dibuat beli narkoba. Bapak bingung, le”

“Habis semua? Itukan tabungan yang Eka kasih buat hidup bapak dan Bayu. Ya Allah.”

Eka terdiam beberapa saat. Nafasnya berat. Sinar matahari yang menguning tak bisa mengubah suasana hati Eka yang murung. Di tengah kemegahan Kota Malang, ia menjelma menjadi sosok kecil tiada daya. Kebisingan kendaraan lalu lalang hanya berlalu dalam kepalanya. Hanya keheningan yang Eka rasakan. Perlahan ia menuju bangku taman. Melemparkan punggunya pada bangku taman yang sedikit berkarat. Tangannya merogoh saku celana. Mengambil sebungkus rokok filter. Asapnya mengebul ke langit seakan ingin memberitahu tuhan bahwa dirinya sedang tidak baik baik saja.

Sejak bapaknya menderita sakit lima tahun lalu, tanggung jawab untuk menafkahi keluarga jatuh pada Eka. Ibu Eka meninggal ketika dirinya berumur empat belas tahun. Kehidupan berlanjut hanya dengan bapak dan Bayu, adik semata wayangnya yang sekarang menjadi malapetaka bagi dirinya. Eka pernah memiliki mimpi untuk menjadi seorang seniman. Bekerja untuk kebudayaan. Mimpinya harus ia kubur dalam dalam bersamaan dengan datangnya penyakit sang bapak. Dan memilih untuk bekerja di sebuah perusahaan kontruksi di pinggiran Kota Malang, sebatas untuk memastikan asap dapur tetap mengebul dan menyisihkan yang lain untuk masa depan keluarga. Namun apa yang terjadi pagi tadi membuat Eka benar benar hancur. Ia masih enggan untuk menerima kenyataan ini. Adiknya dipenjara, uang tabungannya habis.

Air mata mengalir pelan dari kelopak mata Eka. Mulutnya masih menghisap rokok filter itu. Ia masih mempertanyakan, apakah ini adalah hukuman dari tuhan. Eka adalah orang yang taat. Tak pernah ia bolong dalam sembahyang. Apakah ini hukuman dari tuhan. Puasanya tidak pernah setengah hari. Apakah ini hukuman dari tuhan. Eka selalu menyisihkan sedikit gajinya untuk bersedekah kepada masjid masjid. Apakah ini hukuman dari tuhan. Sempat Eka berkorban kambing ketika perusahaannya mendapat proyek besar. Apakah ini hukuman dari tuhan. Zakatnya selalu beras lebih dari tiga kilo. Apakah ini hukuman dari tuhan. Memang Eka belum kepikiran untuk haji. Menurutnya ibadah haji hanya bagi mereka yang mampu, dan Eka belum mampu. Apakah ini hukuman dari tuhan.

Angin berhembus pelan menerbangkan daun daun kering dari ranting pohon. Beberapa bunga bergerak mengikuti angin. Seekor kucing putih melintas di antara kaki Eka yang masih duduk termenung. Sebungkus nasi pecel pagi tadi masih bertengger pada motor bebeknya. Seorang petugas menegur Eka untuk memindahkan motornya yang terparkir di trotoar. Melihat Eka yang hanya diam dengan mata kosong membuat petugas itu kesal dan pergi. Dan seorang yang lain datang. Seorang lelaki jangkung berkulit putih dengan mata sipit duduk di samping Eka. Di tangan kanannya sebotol air dan di tangan lainnya sebuah papan catur. Lelaki itu menawarkan air kepada Eka yang hanya merokok hampir satu bungkus.

“Tenang, ini masih baru, dan gratis. Dari tadi aku melihatmu murung dan merokok,” ucap lelaki sipit itu.

Eka mengambil air dari lelaki sipit itu dan meneguknya dengan pelan.

“Mungkin sebuah permainan catur bisa membuatmu sedikit terhibur. Kamu bisa bermain catur kan?”

Eka menoleh dan mengangguk.

***

“Jadi aku akan dihukum di neraka begitu? Karena aku sudah tidak percaya tuhan? Selalu melakukan sembahyang dan balasannya untukku adalah sebuah kepahitan?” Eka menatap tajam lelaki sipit dengan tanganya memutar pion raja.

“Tapi bagaimana jika ternyata tuhan tidak selalu menyuruh ciptaannya untuk menyembahnya?”

“Maksudmu?”

“Bagaimana jika tuhan menciptakanmu dan orang lain untuk merasakan apa yang dia tidak bisa rasakan?”

Wajah Eka memancarkan kebingungan. Orang sinting, pikirannya aneh sekali.

“Untuk merasakan hangatnya sinar matahari. Untuk mengendus aroma hujan yang membasahi tanah. Merasakan rasa masam dari buah mangga. Merasakan dinginnya es krim vanila. Jatuh cinta dengan teman sekolah. Merasakan kehilangan. Merasakan bangga atas sebuah pencapaian kecil. Merasakan sakit batuk pilek. Merasakan kekalahan. Merasakan menjadi manusia seutuhnya.”

“Merasakan rasa sakit…sakit…menerima keadaan,” ucap Eka pelan. Kejadian tadi pagi kembali melintas di pikirannya.

“…dan mencoba untuk memperbaikinya.” Lelaki sipit memberi senyuman lagi.

“Tak heran dinosaurus bisa punah.” Eka mengulurkan tangannya. “Apapun itu, terima kasih sudah sedikit menghiburku dengan bermain catur. Aku merasa sedikit lebih baik. Sebelum kita berpisah, kamu belum sempat menjawab pertanyaanku di awal. Siapa kamu sebenarnya…eh tidak…siapa namamu?”

“Kami. Panggil saja Kami,” Jawab lelaki sipit dengan sebuah senyuman.

 

Penulis: Raditya Mandala

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf konten ini merupakan hak cipta kami. Untuk menduplikasi karya ini dapat menghubungi kami di redaksi@persmacanopy.com