Persmacanopy.com

Membangun Pertanian Indonesia

Merayakan Kebersamaan dari Sudut Kampung Ketawanggede

MALANG — Festival Kampung Budaya Ketawanggede kembali menghadirkan ruang interaksi antara masyarakat dan mahasiswa di kawasan Kerto, Kelurahan Ketawanggede, Kota Malang. Berbagai stan kuliner, produk lokal, dan kegiatan masyarakat turut meramaikan festival yang telah memasuki penyelenggaraan keempat tersebut.

Keramaian festival tidak hanya diisi oleh anak muda, tetapi juga warga dari berbagai kelompok usia. Bapak-bapak, ibu-ibu, hingga mahasiswa tampak berbaur menikmati kegiatan yang berlangsung. Kondisi tersebut membuat festival tidak hanya menjadi tempat untuk menikmati berbagai produk, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara masyarakat dan mahasiswa yang hidup berdampingan di kawasan Ketawanggede.

Pepel, salah satu anggota tim kreatif Festival Kampung Budaya, mengatakan bahwa kegiatan tersebut pada awalnya diselenggarakan dalam lingkup RT. Seiring berjalannya waktu, penyelenggaraan festival berkembang dan mulai melibatkan RW-RW di Kelurahan Ketawanggede sejak tahun ketiga.

“Motivasi kita bikin Festival Kampung Budaya ini pertama, kita ingin kampung Ketawanggede bisa terangkat di Kota Malang,” ujar Pepel.

Menurut Pepel, festival juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk memperkenalkan dan memasarkan produk yang mereka miliki. Pelaku usaha, pegiat seni, dan berbagai elemen masyarakat Ketawanggede dapat berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

“Warga Ketawanggede yang punya produk-produk bisa berjualan di acara kita. Tidak hanya pegiat seni, semua elemen yang ada di Ketawanggede bisa memasarkan produknya,” ungkapnya.

Kolaborasi Mahasiswa dan Masyarakat

Keterlibatan mahasiswa menjadi salah satu bagian dalam penyelenggaraan Festival Kampung Budaya tahun ini. Sejumlah elemen Universitas Brawijaya, di antaranya Fakultas Vokasi, FBiPK, dan FISIP turut berpartisipasi dalam acara ini.

Salah satu peserta adalah Kopi Tani, yang menjadi perwakilan Fakultas Bioindustri, Pertanian, dan Kehutanan Universitas Brawijaya. Rangga, barista Kopi Tani, mengatakan bahwa keikutsertaan dalam festival menjadi kesempatan untuk memperluas pemasaran sekaligus mengenalkan beragam jenis kopi kepada masyarakat.

“Jenis kopi itu tidak hanya satu, tapi banyak banget. Jadi kita memperkenalkan satu per satu,” jelas Rangga.

Selain memperkenalkan produk, Kopi Tani juga memberikan informasi mengenai jenis kopi dan proses pengolahannya. Pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan penjaga stan untuk menanyakan jenis, asal, maupun proses pengolahan kopi.

Rangga mengatakan antusiasme masyarakat terhadap stan tersebut cukup tinggi. Menurutnya, banyak pengunjung yang tertarik bertanya dan mengetahui lebih jauh mengenai kopi yang ditawarkan.

Interaksi tersebut memperlihatkan adanya ruang pertukaran pengetahuan antara mahasiswa dan masyarakat. Mahasiswa dapat memperkenalkan produk serta pengetahuan yang mereka miliki, sementara masyarakat memperoleh kesempatan untuk mengenal produk dan informasi baru secara langsung.

Guyup Menjadi Daya Tarik
Selain produk dan kegiatan yang ditawarkan, suasana kebersamaan menjadi salah satu hal yang menarik perhatian pengunjung.

Nizar, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya angkatan 2025 yang tinggal di sekitar kawasan Kerto, mengaku senang dengan adanya festival tersebut. Lokasi festival yang dekat dengan tempat tinggalnya membuat kegiatan tersebut mudah dijangkau.
“Senang banget kalau ada festival-festival kayak gini, apalagi dekat sama kosku. Jadi, tidak perlu jauh-jauh buat jajan,” ujarnya.

Dari berbagai pilihan makanan yang tersedia, Nizar tertarik dengan cilok jadul berbumbu kacang. Menurutnya, makanan tersebut memiliki keunikan karena berbeda dari cilok yang biasa ditemuinya.

Namun, bukan hanya kuliner yang menarik perhatiannya. Nizar melihat adanya suasana berbeda ketika warga dari berbagai kelompok usia turut meramaikan kegiatan.

“Yang bikin unik itu banyak bapak-bapak dan ibu-ibu yang semangat dan heboh, tapi anak muda juga banyak yang meramaikan,” katanya.

Menurut Nizar, pertemuan antara masyarakat dan mahasiswa menjadi salah satu hal yang membuat festival terasa menarik. Kelompok yang sehari-hari hidup berdampingan di kawasan yang sama dapat bertemu dan berinteraksi dalam suasana yang lebih santai.

Membuka Ruang Partisipasi yang Lebih Luas


Meski telah melibatkan berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa, Pepel menyebutkan bahwa keterlibatan mahasiswa yang tinggal di kawasan kos sekitar Ketawanggede masih belum banyak. Menurutnya, hal tersebut dapat menjadi salah satu peluang untuk dikembangkan pada penyelenggaraan berikutnya.

Nizar berharap Festival Kampung Budaya dapat terus diselenggarakan dan dikembangkan pada masa mendatang. Ia juga berharap area kegiatan dapat diperluas sehingga lebih banyak masyarakat dan pelaku usaha dapat terlibat.

Festival Kampung Budaya Ketawanggede pada akhirnya tidak hanya menjadi ruang untuk menikmati kuliner dan produk lokal. Kegiatan tersebut juga mempertemukan masyarakat dengan mahasiswa dalam satu ruang yang sama. Bagi kawasan yang lekat dengan kehidupan mahasiswa, keberadaan festival menjadi salah satu ruang yang memungkinkan warga dan mahasiswa untuk saling mengenal serta berinteraksi secara lebih dekat.

Penulis: Muhammad Fajar Maulana

Gambar: Arsip Canopy

Editor: Ahmat Rofik Elga Widiantoro

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf konten ini merupakan hak cipta kami. Untuk menduplikasi karya ini dapat menghubungi kami di redaksi@persmacanopy.com