Kenaikan harga plastik yang terjadi belakangan ini mulai dirasakan oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk penjual bunga tabur untuk keperluan nyekar. Salah satu pelaku usaha, Ibu Erly, mengaku harus menyesuaikan strategi penjualan agar usahanya tetap bertahan di tengah meningkatnya biaya bahan kemasan. Meski demikian, dampaknya tidak selalu dirasakan secara langsung oleh semua pelaku usaha.
Dalam wawancara, Ibu Erly mengatakan bahwa kenaikan harga plastik di tempatnya masih tergolong ringan. “Di sini naiknya masih sekitar seribu rupiah saja,” ujarnya. Namun, ia juga mengakui bahwa di beberapa toko lain, kenaikan harga plastik bervariasi, mulai dari 50 persen hingga mencapai dua kali lipat dari harga sebelumnya.
Kondisi tersebut mendorong sebagian pelaku usaha untuk menyesuaikan strategi agar tetap bisa bertahan. Ibu Erly mengaku melakukan pengurangan jumlah bunga dalam satu paket untuk menyeimbangkan biaya produksi. “Biasanya mengurangi dari bunganya,” jelasnya. Langkah ini diambil agar harga jual tetap terjangkau bagi konsumen, tanpa harus menaikkan harga secara drastis.
Selain menggunakan plastik, alternatif penggunaan bahan selain plastik sebenarnya sudah mulai dipertimbangkan. Daun menjadi salah satu opsi yang dinilai lebih ramah lingkungan. Namun, penerapannya tidak semudah yang dibayangkan. Penggunaan daun membutuhkan proses tambahan seperti memotong dan menyiapkan bahan secara manual, yang dinilai memakan waktu dan tenaga lebih banyak.
“Kalau pakai daun, harus menyiapkan sendiri, potong-potong juga. Sementara kalau pakai plastik, lebih cepat, apalagi kalau pembeli sedang banyak dan antre,” tutur Ibu Erly.
Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan plastik masih dianggap lebih praktis bagi pelaku usaha, terutama saat menghadapi lonjakan pembeli. Kecepatan layanan menjadi faktor penting agar proses transaksi tetap berjalan lancar.

Di sisi lain, sebagian konsumen mulai menunjukkan kesadaran terhadap penggunaan plastik. Beberapa pembeli memilih membawa wadah atau kantong sendiri, terutama saat hendak membeli dalam jumlah yang banyak.
“Kalau beli banyak, misalnya sepuluh bungkus, mereka bawa kantong sendiri,” tambahnya.
Meski inisiatif tersebut belum dilakukan oleh seluruh konsumen, langkah ini menjadi sinyal positif dalam upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Penggunaan bahan alternatif seperti daun atau kertas bekas juga memiliki kendala tersendiri. Selain faktor ketersediaan, biaya juga menjadi pertimbangan. Kertas baru, misalnya koran dinilai cukup mahal sehingga kurang ekonomis bagi pelaku usaha kecil.
Kondisi ini menunjukkan tantangan yang dihadapi UMKM di tengah kenaikan harga bahan baku. Di satu sisi, mereka dituntut untuk tetap efisien dan kompetitif. Di sisi lain, ada dorongan untuk beralih ke bahan yang lebih ramah lingkungan.
Secara keseluruhan, kenaikan harga plastik memang membawa tantangan, tetapi juga membuka peluang bagi inovasi. Adaptasi yang dilakukan, baik melalui pengurangan isi produk maupun mendorong partisipasi konsumen, menjadi langkah awal menuju solusi yang lebih berkelanjutan.
Dukungan dari pemerintah dan masyarakat dinilai penting agar UMKM dapat beralih ke alternatif yang lebih ramah lingkungan tanpa mengorbankan keberlangsungan usaha mereka.
Penulis :M Fajar Maulana
Gambar:M Fajar Maulana
Editor :Ahmad Said A.C












Leave a Reply