Malang (23/02/2026) Kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang, menjadi saksi bisu aksi solidaritas untuk Arianto Tawakal. Aksi yang dilakukan pada Senin sore ini, diikuti oleh ratusan massa dari kalangan masyarakat dan mahasiswa. Ini merupakan bentuk empati sekaligus protes atas tindakan represif oknum kepolisian yang merenggut nyawa Arianto Tawakal.
Aksi solidaritas ini berangkat dari kasus kekerasan oknum kepolisian (brimob) yang menyebabkan meninggalnya Arianto Tawakal. Aksi solidaritas ini melibatkan berbagai elemen masyarakat maupun mahasiswa yang berkumpul atas panggilan kemanusiaan.
Ahmad Fatih Sidra, atau yang akrab disapa Fatih, selaku Koordinator Lapangan (korlap), menegaskan bahwa gerakan solidaritas ini murni panggilan kemanusiaan. Ia menjelaskan bahwa aksi ini melibatkan sekitar 30 organisasi, termasuk berbagai Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Malang Raya.

“Kami benar-benar tidak menyangka massa yang hadir sebanyak ini. Tentu kami mengapresiasi karena ini memang panggilan kemanusiaan. Tidak perlu label pangkat untuk hadir di sini,” ujar Fatih. Ia juga menyoroti absennya pihak pemerintah maupun aparat dalam aksi tersebut, namun ia yakin pesan solidaritas ini akan tersebar luas melalui media.
Ia menambahkan, aksi solidaritas ini terjadi untuk menunjukkan kepada publik bahwa Kota Malang benar-benar bergerak, dan mungkin bisa menjadi harapan ke kota-kota lain untuk melakukan tindakan aksi solidaritas yang sama. Ini juga sebagai bentuk empati yang mungkin bisa sedikit menyembuhkan keluarga-keluarga korban, termasuk untuk mereka yang mengalami kekerasan jauh sebelum kasus Arianto Tawakal.
Aksi ini digelar dengan membawa empat yang harus dilaksanakan oleh negara dan kepolisian. Fatih menegaskan perihal empat tuntutan yang mereka tujukan ke negara serta pihak kepolisian sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kasus ini mulai dari pemulihan keluarga korban hingga dengan transparansi hukum.
“Kami menyuarakan empat tuntutan utama pada aksi kali ini. Pertama, kita menuntut adanya keadilan yang seadil-adilnya tanpa ada lagi impunitas, tanpa ada lagi kompensasi kepada institusi atau pengaruh untuk meringankan, dan lain-lain. Kedua, kita menekankan agar proses keadilan ini tidak hanya berhenti sampai pada penghukuman pelaku, tapi juga sampai pada kompensasi kepada keluarga korban seperti kompensasi secara psikologis maupun kompensasi yang lainnya”, tegas Fatih.
Selain dua tuntutan yang dijelaskan oleh Fatih, terdapat dua tuntutan lainnya berupa evaluasi total kinerja dan anggaran aparat pertahanan dan keamanan negara serta hentikan praktik negara teror.
Tuntutan tersebut muncul bukan tanpa alasan, Herdiansyah selaku peserta aksi menilai adanya tindakan aparat yang dinilai keji dan tidak etis, sehingga memicu kemarahan dan kekecewaan publik.
“Menurut saya sendiri itu sangat keji dan sangat nggak etis. Terlihat dari kita sebagai sudut pandang mahasiswa dan juga masyarakat ya, kita juga berhak mengkritik, tapi dari merekanya sendiri itu gimana ya? Anti kritik banget. Jadi, kita untuk menyuarakan seperti ini itu memiliki ancaman yang tersendiri, karena kita tidak tahu pada saat apa kita dibungkam atau diculik.” ujarnya.

Sebagai penutup, Herdiansyah menyuarakan pesan untuk kepolisian maupun mahasiswa. Ia mengingatkan kepolisian agar tidak bertindak semena-mena, karena untuk masuk ke kepolisian juga perlu uang dan atas dasar rakyat. Dan berhati-hati juga bahwa peristiwa serupa bisa saja menimpa siapapun, termasuk keluarga aparat sendiri. Pesan untuk mahasiswa di luar sana, teruslah menggali informasi, membuka mata, dan jangan terlalu apatis terhadap keadaan lingkungan sekitar Anda, bahkan terhadap negara karena kejadian ini bisa terjadi kepada kalian. Pada dasarnya mahasiswa juga sebagai sosial kontrol, kita berhak untuk mengkritik, kita berhak untuk menyuarakan pendapat dan keresahan-keresahan masyarakat. Jadi, janganlah terlalu apatis.
Penulis: Siti Nurkholifah & Renaldy Fasha
Editor: Rayya Izana Abqariyya
Gambar: M. Rizky & Ahmad Said Al Charis











Leave a Reply