Malang (14/02/2025) Aksi damai yang mengangkat tema “Konstitusi Bukan Opsi, Board of Peace (BoP) Sejalan dengan Normalisasi” yang digelar oleh Kampuzaction mulai dipadati massa sejak pukul 14.30 WIB. Aksi tersebut dihadiri dari berbagai kalangan usia, mulai anak kecil, remaja/mahasiswa, hingga orang tua. Mereka tampak serempak mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan atribut sorban, sembari mengibarkan bendera Palestina-Indonesia dan membentangkan sejumlah poster tuntutan.
Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Suasana kemudian berubah menjadi riuh saat massa dengan lantang menyuarakan seruan pembebasan, “Free, free Palestine! Mampus Amerika! Mampus Israel!” sebagai bentuk protes terhadap kebijakan internasional yang dianggap merugikan kedaulatan Palestina.
Koordinator lapangan aksi, Hussein Hadad, menjelaskan bahwa gerakan ini diinisiasi oleh Kampuzaction (Komite Aliansi Mahasiswa Pro-Palestina Anti USA-Zionist) yang merupakan perkumpulan dari mahasiswa di Malang yang Pro terhadap Palestina.
“Aliansi ini berasal dari mahasiswa berbagai kampus Kota Malang. Ada yang dari UB (Universitas Brawijaya), ada yang dari UM (Universitas Negeri Malang), ada yang dari Unisma (Universitas Islam Malang), ada yang dari UMM (Universitas Muhammadiyah Malang), dan lain-lain.” ujarnya.
Aksi ini memiliki tujuan untuk menolak keikutsertaan Presiden Prabowo pada organisasi yang dicetuskan oleh Donald Trump, yaitu BoP. Organisasi tersebut juga dinilai omong kosong karena di dalamnya tidak ada kedamaian sama sekali terutama untuk Palestina, tetapi hanya untuk kepentingan pihak-pihak yang berkuasa.
“Kita menyuarakan di sini tentunya akhir-akhir karena berita bahwa Bapak Presiden Prabowo tiba-tiba bergabung di circle atau perkumpulan organisasi yang dibuat sama aktor licik yang bernama Trump. Di situ kita sempat terkejut bahwa di perkumpulan itu menyebutkan bahwa BoP dianggap menjadi jalan tengah untuk kemerdekaan Palestina dan Israel. Karena Israel sendiri merupakan “anak” dari Amerika, jadi nggak mungkin BoP tiba-tiba buat Palestina. Trump dengan jelas menyebutkan bahwa tidak ada kemerdekaan bagi Palestina, tidak ada negara Palestina, adanya negara Israel. Jadi BoP sangat bullsh*t dan nggak ada kedamaian di situ.”
Tidak seperti aksi umum lainnya, untuk aksi tentang BoP ini terdapat pertunjukan teatrikal yang mendukung kegiatan aksi damai. Teater yang dilakukan menggambarkan tentang negara-negara yang dipaksa bergabung BoP demi kepentingan duniawi.
Husein menjelaskan “Maknanya, di situ ada Trump dan Netanyahu. Di bawahnya ada Bapak Prabowo dan Arab Saudi. Sebenarnya Bapak Prabowo (Indonesia) ini belum menjadi antek-antek Zionis, tapi ketika beliau mengumumkan bergabung di BoP, akhirnya beliau ada dalam teater itu. Di situ Prabowo dan Arab Saudi kayak dipaksa untuk ikut karena ‘kelicikan’ atau ancaman-ancaman duniawi dari Amerika (Trump). Setelah Indonesia dan Arab Saudi berhasil bergabung, Amerika dan Israel bisa melancarkan misi-misinya seperti menyerang sana-sini karena mendapatkan dukungan dari situ. Terakhir, ada anak kecil (yang diperankan) yang meninggal.”

Husein, mewakili suara pemuda di Indonesia, menduga bahwa terdapat tujuan khusus mengapa Trump menargetkan Indonesia untuk bergabung dengan BoP.
“Kami sebagai pemuda di Indonesia sangat optimis bahwa tujuan Trump mengejar Indonesia adalah karena kita memiliki potensi yang sangat besar terkait kemerdekaan Palestina. Indonesia sangat mendominasi di media sosial dan itu dianggap Trump sebagai ancaman. Jadi, meskipun hanya satu anak yang berdiri, kami yakin satu anak itu bisa menggerakkan kemerdekaan Palestina.”

Aksi serupa tidak hanya berlangsung di Malang, tetapi juga telah digelar di kota-kota lain seperti Probolinggo dan Jakarta. Husein menegaskan bahwa aksi lanjutan akan kembali dilakukan apabila tuntutan penolakan terhadap BoP tidak segera direspons oleh pembuat kebijakan.
“Kebetulan Kampuzaction sendiri itu memang berdirinya di Malang. Tapi kita punya teman-teman yang gabung juga dari Kampuzaction mungkin dulunya lulusan dari kampus sini. Itu juga menghidupkan aksi di beberapa daerah. Contohnya yang sudah menyelenggarakan dan sempat viral itu juga di Probolinggo, Jakarta. Ini juga tentunya akan ada aksi lanjutan. Apalagi di sini kan gelontoran dana yang dikeluarkan oleh Bapak Presiden kepada BoP ini sebesar 17 triliun. Kalau sampai itu terjadi, nggak mungkin akan diam, pasti kita akan bergerak lagi.” tegasnya.
Sendiko Mahdi, yang merupakan Wakil Koordinator Kampuzaction juga menanggapi tentang BoP.
“Seharusnya Indonesia mundur dari BoP, karena di dalamnya tidak ada Palestina dan hanya Israel. Jadi keputusannya hanya seperti sepihak begitu.”
Ia menambahkan agar masyarakat Indonesia bisa lebih menyoroti tentang hal ini, karena berkaitan dengan kemanusiaan dan keadilan di seluruh dunia.
“Harapan saya masyarakat Indonesia dan mahasiswa lebih melek dan peduli terhadap kemanusiaan yang ada di luar sana, termasuk Palestina. Karena hal tersebut juga berhubungan dengan keadilan yang ada di dunia.” tambahnya.
Kemudian, Husein menyampaikan pesan agar Presiden mengevaluasi kembali keputusannya. Mengingat amanat leluhur bangsa yang secara tegas menolak segala bentuk penjajahan, sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.
“Bangsa Indonesia ini punya konstitusi atau Undang-Undang yang menyatakan bahwa kita menolak penjajahan, hapuskan penjajahan. Dan Sukarno dan leluhur-leluhur pun sudah bilang kayak gitu, kita itu mendukung Palestina sepenuhnya. Tidak mendukung penjajahan. Jadi kita benar-benar menentukan apakah langkah dengan bergabungnya Pak Prabowo ini ke BoP itu benar? Sehingga kita menyuarakan untuk Pak Presiden mengevaluasi keputusannya untuk bergabung di BoP tersebut.”
Penulis: Siti Nurkholifah & Rayya Izana Abqariyya
Editor: Rayya Izana Abqariyya
Gambar: Siti Nurkholifah & Rayya Izana Abqariyya











Leave a Reply