Persmacanopy.com

Membangun Pertanian Indonesia

Kerja Jalan, Hak Tertahan: Sampai Kapan Honorarium Asprak Terlambat?

Pelaksanaan praktikum di lingkungan Fakultas Pertanian selama ini bergantung pada dedikasi para asisten praktikum yang menjadi garda terdepan dalam membimbing mahasiswa. Namun, di balik keriuhan laboratorium dan tumpukan laporan yang diperiksa, terselip keresahan yang mulai mencuat ke permukaan. Isu mengenai belum turunnya honorarium bagi sebagian besar asisten praktikum tengah menjadi perbincangan hangat dan menimbulkan beragam keresahan. Keresahan ini bukan tanpa alasan, mengingat para asisten praktikum yang sering kali harus merelakan waktu istirahat dan biaya operasional pribadi demi memastikan setiap ilmu praktisi tersampaikan dengan baik. Komitmen terhadap tanggung jawab akademik tetap dijunjung tinggi oleh mereka, namun di sisi lain, ketidakjelasan ini mulai memicu beragam spekulasi di ruang-ruang diskusi mereka. Situasi tersebut melahirkan berbagai perspektif dari para asisten praktikum yang merasakan langsung komitmen dalam membimbing mahasiswa tetap dituntut penuh di tengah penantian yang tak kunjung menemui titik terang.   

Nisrina – Asisten Pratikum Komunikasi Organisasi, Kelompok, dan Kepemimpinan  

“Menanggapi pertanyaan tentang keterlambatan honorarium, penghargaan terhadap peran Asisten Pratikum (Asprak), dan bagaimana seharusnya mahasiswa bersikap, menurutku kalau berkaca pada tahun lalu, honorarium asprak semester ganjil itu cairnya sudah di awal Maret, yang mana sebenarnya sudah telat lebih dari 2 minggu. Jadi rasanya sebagai asprak kita juga akhirnya follow up ke laboran, dan menurutku itu wajar, karena kita kan juga istilahnya ngebantu jalannya kuliah. Mungkin memang jumlahnya gak seberapa, tapi sebagai reward satu semester, menurutku sudah selayaknya cair tepat waktu. Dari sisi penghargaan, sepengalamanku di departemen sosek sebenarnya sudah dihargai, meski memang tidak seberapa. Cuma memang, untuk keterlambatan yang cukup lama, baru yang sekarang ini cukup kerasa.  

“Di sisi lain, ini kan sudah jadi hak kita sebagai asprak yah. Jadi menurutku, mahasiswa gak cukup hanya menunggu. Apalagi melihat huru-hara pres BEM yang blunder di forum lingkar asprak, sudah seharusnya sebagai pelayan mahasiswa, entah sengaja, tidak sengaja, maupun terpencet, tetap bisa lebih bijak. Harapannya BEM bisa refleksi dan lebih proaktif dengan mahasiswa. Ketika ada wadah seperti lingkar asprak, itu sebenarnya sudah jadi bekal untuk mengkolektifkan seluruh asprak FP. Mengingat stigma di FP masih lekat bahwa jadi asprak harus join ormek, rasanya kalau sudah seperti ini, ini bukan lagi kepentingan organ-organ tertentu, tapi sudah jadi kepentingan maperta”. 

Kournia (Nama Samaran) – Asisten Praktikum Dasar Perlindungan Tanaman 2025 

“Menurut saya keterlambatan itu mungkin masih bisa dianggap wajar jika memang ada alasan atau transparansi yang jelas di baliknya, seperti proses administrasi atau pencairan dana yang terhambat. Tapi kalau keterlambatan itu sering terjadi atau terlalu lama tanpa penjelasan yang transparan, itu sudah tidak bisa diwajarkan lagi, kemungkinan besar ada masalah di sistemnya yang perlu dibenahi. Dari sisi penghargaan, kalau honorarium yang menjadi hak asisten saja masih telat tanpa kejelasan, menurut saya itu belum bisa dikatakan layak. Apalagi asprak juga punya tanggung jawab yang cukup besar selama praktikum. Jadi, kalau apresiasi dasarnya saja belum terpenuhi dengan baik, berarti masih ada ketimpangan antara kerja yang dilakukan sama penghargaan yang diterima. Karena itu, menurut saya mahasiswa jangan hanya menunggu. Perlu ada upaya bersama untuk menuntut kejelasan, tidak harus langsung konfrontatif, tapi setidaknya ada usaha untuk meminta kejelasan. Karena pada akhirnya, honorarium itu hak, bukan sekadar bonus”. 

Raditya Caraka – Asisten Praktikum Pertanian Berlanjut 2025 

Kalau dilihat dari kondisi yang ada, menurut saya keterlambatan honorarium ini tidak bisa dianggap wajar dan tidak boleh dinormalisasi. Ketepatan waktu pencairan honorarium itu sebenarnya cerminan dari manajemen kerja yang sehat. Kalau hal ini terus berulang, berarti ada masalah dalam koordinasi keuangan atau administrasi akademik yang memang perlu segera dievaluasi. Dari sisi penghargaan, juga sulit untuk bilang peran asisten sudah dihargai secara layak kalau hak dasar seperti honorarium masih sering terlambat. Asprak sudah menjalankan tugas dengan profesional dalam mengajar dan membantu jalannya praktikum, jadi seharusnya dibalas dengan profesionalisme administrasi yang sama.  

“Menurutku, ketepatan waktu itu bukan cuma soal uang, tapi juga bentuk penghargaan atas dedikasi dan waktu yang sudah kita berikan. Makanya, dalam menyikapi kondisi ini, kita sebagai asisten memang tidak punya kendali langsung soal pencairan. Tapi justru karena itu, rasanya tidak cukup kalau hanya menunggu. Kalau dibiarkan terus, bisa saja masalah ini dianggap remeh. Jadi perlu ada langkah yang lebih proaktif, misalnya lewat upaya kolektif seperti audiensi atau komunikasi dengan dosen koordinator atau pihak departemen, untuk meminta transparansi terkait kendala yang ada”. 

Ly – Asisten Praktikum Perancangan Percobaan 1 Tahun 2025 

“Kalau dilihat dari kondisi yang terus berulang, menurut saya ini bukan sesuatu yang bisa dianggap wajar. Dulu mungkin masih bisa ditoleransi dengan alasan “administrasi yang ribet”, tapi harusnya sekarang sudah diperbaiki, masa ga belajar dari kesalahan. Faktanya, pencairan tetap terlambat tiap periode, yang berarti ada yang salah di struktur atau perencanaannya. Padahal asprak sudah menjalankan kewajibannya satu semester penuh, bahkan menyumbangkan energi, tenaga, dan pengetahuan. Masa giliran dapat haknya malah diperlama. Dari situ juga kelihatan kalau peran asprak masih kurang dihargai. Kerja keras selama satu semester seolah belum cukup dianggap penting sampai haknya terus ditunda. Padahal asprak sudah nyiapin materi, ngoreksi tugas, rekap nilai, sampai turun ke lapang yang jelas nguras tenaga. Karena ini bukan pertama kali, menurut saya asprak tidak bisa terus diam. Perlu lebih aktif dan berani bersuara, tentu dengan cara yang tetap baik. Bisa lewat langkah kolektif, seperti mengirim perwakilan untuk meminta kejelasan ke pihak terkait atau wakil mahasiswa yang dipercaya. Karena pada akhirnya, honorarium itu hak, bukan sesuatu yang harus terus ditunda”. 

Afwanda Wiguna – Asprak Bioteknologi 2025 

“Kalau dilihat dari kondisi yang berulang, menurut saya keterlambatan pencairan honorarium asprak ini sudah bukan hal yang bisa dianggap wajar. Justru ini menunjukkan ada masalah sistemik. Entah di koordinasi fakultas, birokrasi keuangan, atau komitmen institusi itu sendiri. Kalau penghargaan atas kerja keras mahasiswa saja terus tertunda, lalu bagaimana institusi bisa bicara soal profesionalisme dan tata kelola yang baik?. Secara simbolik, mungkin kami dianggap hanya sekadar asisten praktikum. Tapi secara riil, ketika hak yang jadi bentuk apresiasi atas waktu, tenaga, dan pikiran yang kami curahkan tak kunjung jelas, rasanya ada yang ganjal. Ini bukan sekadar soal uang, tapi soal bagaimana kerja keras itu seolah tidak ada artinya. Apalagi ketika muncul celetukan seperti “money oriented” dari pihak yang seharusnya memperjuangkan kami. Padahal, penghargaan itu bukan hanya soal nominal, tapi juga soal ketepatan waktu dan sikap yang menghormati jerih payah.  

“Jujur, saya sendiri jarang memikirkan honor, karena nominalnya pun tidak akan sebanding dengan yang sudah dikorbankan. Dari awal jadi asprak juga bukan karena uang, tapi ingin bermanfaat. Semoga itu jadi jariyah yang tidak terputus. Karena itu, kami tidak perlu reaktif atau emosional, tapi juga tidak bisa diam. Asprak perlu menyuarakan ini secara kolektif, dengan data dan fakta yang jelas. Bisa lewat audiensi resmi atau melibatkan media kampus, supaya persoalan ini tidak terus berulang. Yang kami butuhkan sebenarnya sederhana, kejelasan. Dan kalau pemimpin mahasiswa tidak lagi berpihak, maka kami harus tetap memperjuangkan ini sendiri dengan cara yang jelas dan terhormat”. 

Akmal (nama samaran) – Asisten Praktikum Stela 2026 

“Menurut saya pencairan honorium ini tidak jelas kapan pencairannya, perlu ada perbaikan dalam sistem dalam kejelasan kapan honorium asprak dapat cair. Waktu pencairan honorium pun masih terbilang sangat lambat. Untuk besaran harga masih terbilang cukup untuk biaya akomodasi atau ongkos, tapi tidak lebih dari itu. Lebih ke bingung mau bilang ke siapa soalnya ga jelas harus protes ke mana dan ke siapa. Makanya kemarin ada yang protes perihal honorium itu sangat sangat wajar sih melihat kebingungan tersebut. Menurutku, wajar kok asprak nanya perihal kejelasan honorarium, soalnya honorarium cairnya kapan, tuh, bener-bener ga pasti, berhak kok asisten menyangkut perihal honorarium karena emang hasil kerja dia sebagai asisten. Jadi asisten tuh ga segampang itu, ada puluhan mahasiswa yang perlu ditanggung. Malahan bisa dibilang underpaid  kalau itung-itungan uang mah” 

Laili (nama samaran) – Asisten Praktikum Departemen Tanah 

“Menurut saya, keterlambatan dalam pencairan honorarium itu masih dapat dianggap wajar, jika: memang ada suatu kendala yang memang membuat pihak administrasi dan keuangan itu tidak dapat mencairkan dalam waktu dekat. Tapi ini setiap semester pasti pencairan dananya sangat terlambat… Nah, jika ditanyai “apakah hal tersebut menunjukkan adakah  masalah?”, menurut saya iya. Karena asisten dituntut untuk segera melengkapi nilai praktikum, tapi honorarium asisten tidak kunjung cair hingga semester berikutnya. Bahkan, asisten PSDKU Kediri, honorarium asisten sudah cair dari bulan Desember! Beberapa teman dari kampus lain juga bilang kalau honorarium asisten diberikan di akhir masa perkuliahan wich is sebelum masuk semester baru. 

“Beberapa praktikum saya rasa sudah sangat dihargai perannya, dengan kehadiran koordinator praktikum dalam setiap kegiatan itu sudah termasuk menghargai tenaga bantu pendidik (asprak) dengan cara mendampingi meskipun kadang sedikit misskom. Namun, beberapa asisten juga terkadang tidak dihargai dengan “dilepasliarkan”, sehingga terkesan praktikum berjalan “sama seperti tahun lalu” yang membuat huru hara dan permainan “playing victim”. Di sisi lain, kenapa deh ada potongan jadi 285rb? Padahal semester genap TA 2023/2024 masih full 300 ribu. 

“Disini saya netral, soalnya saya tim yang menunggu dan berpikiran bahwa honorarium asisten masih diurus, apalagi di bulan puasa seperti ini, berkegiatan jadi terbatas, meskipun begitu, tidak bisa dinormalisasikan. Jadi lebih baik ditunggu hingga ada pemberitahuan (emang bakal ada pemberitahuan ya?), dan pihak fakultas juga memberikan transparansi atas keterlambatan pengurusan honorarium asisten ini. Mengenai adakah langkah bersama untuk meminta kejelasan sepertinya tidak perlu” 

R (nama samaran) – Asisten Praktikum Departemen Tanah  

“Tentu bukan hal wajar, mengingat permasalahan keterlambatan honorarium selalu terjadi maka sudah seharusnya ada langkah perbaikan dari fakultas seperti timeline dan fiksasi jadwal pemberian honorarium setiap semesternya agar lebih tertata. Menurut saya belum sepenuhnya, terkadang menurut saya tuntutan asisten cukup tinggi akan tetapi hak kami dalam mendapatkan HR selalu terlambat menurut saya perlu ada upaya kolektif mengingat hal tersebut terjadi hampir setiap semester, apabila hanya dibiarkan dengan menunggu maka tidak akan ada perubahan dan hak hak asisten belum terpenuhi” 

Hikmah – Asisten Praktikum Ekologi Hutan, Teknologi Pengelolaan dan Pemanfaatan Hasil Hutan 

“Sudah tidak wajar karena ini juga sudah masuk minggu ke-6 di semester baru tapi belum juga ada hilal. Kebetulan sekarang katanya untuk honor ini turunnya dari fakultas langsung, tapi kenapa malah jadinya molor, ini juga jadi pertanyaan baru si, apa karena masi belum siap atau bagaimana. Dari adanya honor yang telat dan adanya isu yang sedang ramai sekarang saja sangat terlihat bagaimana kondisinya. Untuk masalah mengajar, survei filedtrip, asistensi, tentu kita sebagai asisten sudah pasti berusaha memberikan yang terbaik, kewajiban sudah kami lakukan dengan baik, tapi hak kami masi belum bisa diberikan dengan baik dan semestinya. Perlu adanya upaya kolektif untuk setidaknya memberikan sinyal kepada pihak fakultas bahwa kewajiban mereka kepada asisten praktikum masih ada yang belum terselesaikan, kalau diam saja nantinya tidak akan memberikan perubahan apapun dan bisa jadi untuk kedepannya honorarium ini semakin mundur pencairannya” 

Dari berbagai suara yang muncul, satu hal jadi jelas bahwa persoalan ini bukan sekadar soal nominal, tapi soal kejelasan dan penghargaan. Asisten praktikum sudah menjalankan perannya dengan penuh tanggung jawab, maka wajar jika mereka juga berharap diperlakukan secara profesional. Menunggu mungkin masih bisa dimaklumi, tapi jika terus berulang tanpa kejelasan, itu bukan lagi hal yang bisa dianggap biasa. Pada akhirnya, yang dibutuhkan sebenarnya sederhana, transparansi, kepastian, dan sikap saling menghargai. Karena ketika kerja keras sudah diberikan sepenuhnya, sudah semestinya apresiasi juga hadir tanpa harus terus dipertanyakan.

 

Penulis: Talitha Danish Safira, Danisha Laudya
Editor: Talitha Danish Safira
Gambar: Dokumen istimewa

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf konten ini merupakan hak cipta kami. Untuk menduplikasi karya ini dapat menghubungi kami di redaksi@persmacanopy.com