Persmacanopy.com

Membangun Pertanian Indonesia

Mahasiswa FBiPK UB Jadi Apa?

“Kalau masuk FBiPK nanti jadi apa?”

Pertanyaan sederhana tersebut mungkin menjadi salah satu pertanyaan yang paling sering muncul di benak mahasiswa baru. Setelah melewati masa penerimaan mahasiswa dan mengenal lingkungan perkuliahan, pertanyaan tentang masa depan perlahan mulai muncul. Apakah setelah lulus harus menjadi petani? Apakah hanya bisa bekerja di perusahaan pertanian? Atau justru harus menjadi pegawai pemerintahan? Kekhawatiran tersebut sebenarnya wajar, terlebih ketika seseorang sedang berada pada tahap awal menentukan arah pendidikan dan kariernya.

Namun, pertanyaan “mahasiswa FBiPK jadi apa?” seharusnya tidak berhenti pada satu atau dua pilihan profesi. Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan memiliki bidang keilmuan yang bersinggungan dengan sektor yang sangat luas, mulai dari produksi pertanian, pengelolaan sumber daya, industri, teknologi, bisnis, hingga keberlanjutan lingkungan. Artinya, lulusan FBiPK tidak hanya dipersiapkan untuk bekerja di sawah, tetapi juga untuk bekerja di balik berbagai proses yang membuat sektor pertanian dapat terus berjalan dan berkembang.

Realita di lapangan menunjukkan bahwa pertanian hari ini bukan lagi sekadar persoalan menanam dan memanen. Tantangan yang dihadapi semakin kompleks. Perubahan iklim memengaruhi produktivitas, alih fungsi lahan terus terjadi, biaya produksi meningkat, regenerasi petani menghadapi persoalan, sementara kebutuhan pangan masyarakat terus bertambah. Di sisi lain, konsumen juga semakin memperhatikan kualitas, keamanan, keberlanjutan, dan asal-usul produk yang mereka konsumsi. Kondisi tersebut membuat sektor pertanian membutuhkan sumber daya manusia dengan kemampuan yang lebih beragam.

Di sinilah mahasiswa FBiPK memiliki ruang untuk mengambil peran.

Seorang lulusan dapat terlibat dalam perusahaan agribisnis, industri pengolahan hasil pertanian, lembaga penelitian, pemerintahan, konsultan, lembaga swadaya masyarakat, hingga sektor teknologi pertanian. Perkembangan agritech juga membuka peluang baru melalui pemanfaatan teknologi digital untuk membantu petani memantau kondisi lahan, mengelola produksi, memasarkan hasil panen, bahkan memperoleh informasi pasar. Pada sisi lain, berkembang pula kebutuhan terhadap tenaga profesional yang mampu mengelola rantai pasok, mengembangkan produk berbasis hasil pertanian, mengelola sumber daya secara berkelanjutan, dan menciptakan inovasi di tengah perubahan zaman.

Namun, luasnya peluang tersebut bukan berarti lulusan FBiPK otomatis akan mudah mendapatkan pekerjaan. Justru di sinilah realita yang perlu disadari sejak menjadi mahasiswa. Dunia kerja tidak hanya membutuhkan ijazah, tetapi juga kemampuan untuk menerapkan ilmu, berkomunikasi, bekerja dalam tim, menyelesaikan masalah, beradaptasi dengan teknologi, dan memahami kondisi nyata di lapangan. Mahasiswa mungkin mendapatkan teori tentang pertanian di ruang kelas, tetapi persoalan di lapangan sering kali jauh lebih kompleks daripada yang tertulis di buku.

Petani, misalnya, tidak hanya menghadapi persoalan teknis budidaya. Mereka juga berhadapan dengan harga input yang berubah, akses pasar, keterbatasan modal, perubahan cuaca, hingga posisi tawar yang tidak selalu kuat. Ketika mahasiswa memahami persoalan tersebut secara langsung, ilmu yang diperoleh di bangku kuliah menjadi lebih bermakna. Karena itu, pengalaman organisasi, magang, penelitian, kegiatan pengabdian, maupun interaksi langsung dengan pelaku pertanian bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan bagian penting dalam membentuk kesiapan menghadapi dunia profesional.

Pertanyaan “jadi apa?” akhirnya perlu diubah menjadi “ingin memberikan kontribusi sebagai apa?”

Sebab, masa depan mahasiswa FBiPK tidak harus selalu ditentukan oleh nama pekerjaan yang terdengar besar. Seseorang mungkin menjadi agricultural entrepreneur yang membangun usaha dari potensi komoditas lokal. Seseorang lainnya mungkin bekerja sebagai supply chain specialist yang memastikan produk pertanian dapat sampai kepada konsumen secara efisien. Ada pula yang memilih menjadi peneliti, penyuluh, konsultan, analis, pengembang teknologi, maupun profesional di perusahaan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan seorang lulusan menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan menjadi bagian dari regenerasi pelaku usaha pertanian.

Pada akhirnya, pertanian merupakan sektor yang akan selalu dibutuhkan selama manusia masih membutuhkan pangan. Akan tetapi, keberlanjutan pertanian tidak cukup hanya dengan mengandalkan semakin banyak orang yang bekerja sebagai petani. Sektor ini membutuhkan generasi muda yang mampu melihat pertanian dari berbagai perspektif dan menghadirkan inovasi untuk menjawab persoalan yang nyata.

Maka, bagi mahasiswa baru FBiPK, tidak perlu terburu-buru mencari jawaban pasti atas pertanyaan “setelah lulus akan menjadi apa?”. Yang lebih penting adalah mulai mengenali persoalan, memperluas pengalaman, membangun kompetensi, dan menemukan bidang yang ingin ditekuni. Karena menjadi mahasiswa FBiPK bukan tentang memiliki satu jalan menuju satu profesi, melainkan memiliki banyak kemungkinan untuk berkontribusi.

Jadi, mahasiswa FBiPK UB jadi apa?

Penulis: Muhammad Fajar Maulana

Editor: Ahmat Rofik Elga Widiantoro

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf konten ini merupakan hak cipta kami. Untuk menduplikasi karya ini dapat menghubungi kami di redaksi@persmacanopy.com