Menaruh Harapan pada Sarjana Pertanian? Sebaiknya Jangan

Dulu, saya sempat mengikuti fase orientasi mahasiswa baru. Pada saat itu, kondisi pandemi Covid-19 sedang tinggi-tingginya, sehingga ospek dilakukan secara online. Pakai hitam putih, nurut apa kata pendamping (senior), mendengar orasi pejabat kampus, sampai mengikuti beberapa kajian serta serangkaian acara lain yang sedikit “membosankan”. Saya terdaftar sebagai salah satu mahasiswa Fakultas Pertanian, fakultas yang digadang-gadang menjadi mesin pencetak manusia pemecah masalah pertanian di negeri agraris yang sedang diragukan lagi keagrarisannya ini.

Memasuki semester-semester awal, saya mulai mendapat mata kuliah yang isinya mengenai masalah-masalah pertanian di Indonesia. Mulai dari masalah distribusi pupuk, fluktuasi harga, tergesernya produk lokal akibat gempuran produk impor, terlalu panjangnya rantai pemasaran, anjloknya harga jual panenan petani hingga kasus agraria lainnya. Saya rasa semua mahasiswa pertanian sepakat, bahwa permasalahan pertanian di Indonesia sudah begitu kompleks. Saking banyaknya praktikum dan laporan, membuat kami jadi jarang sekali membaca berita-berita terbaru, berita politik hingga berita pertanian sekalipun. Sesekali membaca, itupun karena tugas dari dosen ataupun tugas dari asisten dosen semata. Di luar itu, kami sibuk mengurus revisi-an laporan, sibuk bertukar referensi untuk tinjauan pustaka, sibuk memastikan minggu depan kita tak ada kuis dadakan, dan sibuk menyempatkan kencan bagi yang memiliki pasangan, jika tidak punya ya gpp. Jika pun turun ke lapang untuk wawancara petani, ya hanya sekedar memenuhi tuntutan laporan ataupun penelitian. Selebihnya, dunia kami tak jauh-jauh dari lingkaran kampus yang Sabtu-Minggu masih sering ada praktikum itu.

Saya ingat tidak lama kemarin, mencuat kasus kelangkaan minyak goreng saat pandemi. Dalam perkuliahan kasusnya tergolong ke dalam konflik agraria. Banyak aksi demonstrasi di mana-mana. Tapi obrolan tentang minyak goreng di fakultas kami sangat jarang sekali. Mungkin sama seperti fakultas lain yang topik tersebut hanya diperbincangkan oleh beberapa orang saja. Konflik agraria merupakan salah satu permasalahan paling rumit di pertanian. Tentu diskusi ini akan lebih mencerahkan jika banyak akademisi pertanian dilibatkan. Saya sedikit sedih, lebih banyak anak fakultas lain bercakap tentang proyek sawit di Malang Selatan hingga konflik Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Batu, daripada mahasiswa di fakultas saya sendiri.

Bertambah tahun konflik agraria bukan menurun namun sebaliknya, semakin banyak saja. Konsorsium Pembaruan Agraria (2019) mencatat terjadi 2.047 kejadian konflik agrarian di seluruh sektor sepanjang pemerintahan kedua Joko Widodo. Data konflik sepanjang lima tahun tersebut juga menunjukkan  dominasi  sektor perkebunan  sebagai  penyumbang konflik  tertinggi yaitu  sebanyak  729 (35,5 %), sektor  properti  499 konflik, pembangunan  infrastruktur 369,  konflik pertanian 145, kehutanan 118, pertambangan 117, pesisir dan pulau-pulau kecil sebanyak 60 letusan konflik, dan fasilitasmiliter 10 letusan konflik. Utomo, (2021) menambahkan, bahwa dampak luasan wilayah konflik ditahun 2019 mencapai 734.239,3   hektar. Jumlah masyarakat terdampak konflik agraria pada tahun tersebut sebanyak 109.042   KK yang tersebar di 420 desa, di seluruh provinsi di tanah air. Apabila   dilihat   dari eskalasi kekerasan penanganan  konflik  agraria  pada jumlah  korban  dan  masyarakat  yang ditangkap karena mempertahankan haknya atas tanah tersebut maka konsorsium pembaharuan agraria  (KPA) mencatat pada tahun 2020 adanya peningkatan yang menghawatirkan dalam hal aksi brutal aparat di wilayah-wilayah konflik agraria. Tapi topik seperti ini tetap dingin di fakultas kami. Kalah panas dengan topik mengenai penemuan teknologi untuk peningkatan produksi, kemajuan IPTEK yang bekerja sama dengan luar negeri, sampai pengembangan program pengabdian masyarakat yang anggarannya syarat dengan bantuan dari program Dikti. Semua itu lebih menarik untuk didiskusikan di fakultas kami. Buat apa bahas kasus agraria yang tiada ujung pangkalnya. Wong pemerintah saja tidak bisa tuntas menyelesaikannya hingga hari ini.

Masih ada yang teriak swasembada saat lahan yang ditanami dalam jangka waktu lama akan digusur untuk sebuah bandara. Banyak petani yang harus berjuang mati-matian agar lahannya dapat tetap ditempati bersama keluarga.  Rumah yang didiami sekian lamanya harus ditinggalkan demi memenuhi keinginan segelintir pemilik modal saja. Lahan berkonflik antara pemodal dan petani dijaga ketat oleh aparat. Jika ‘melawan’ bisa jadi nasibnya tak akan selamat. Lagian ngapain bingung-bingung mikirin itu, ditinggal dosen keluar kota dan skripsinya ditelantarkan berhari-hari saja kami sudah mengeluh, merasa paling menderita di dunia.

Masih ada yang teriak swasembada saat lahan yang ditanami dalam jangka waktu lama akan digusur untuk sebuah bandara. Banyak petani yang harus berjuang mati-matian agar lahannya dapat tetap ditempati bersama keluarga.  Rumah yang didiami sekian lamanya harus ditinggalkan demi memenuhi keinginan segelintir pemilik modal saja. Lahan berkonflik antara pemodal dan petani dijaga ketat oleh aparat. Jika ‘melawan’ bisa jadi nasibnya tak akan selamat. Lagian ngapain bingung-bingung mikirin itu, ditinggal dosen keluar kota dan skripsinya ditelantarkan berhari-hari saja kami sudah mengeluh, merasa paling menderita di dunia.

Sering saya cemas jika suatu saat nanti lulus menyandang gelar sarjana pertanian yang tak paham-paham amat tentang pertanian. Tapi sepertinya saya lebih takut dengan harapan-harapan yang dibebankan orang lain pada saya. Saya sendiri pernah begitu kecewa karena terlalu menggantungkan harapan pada orang lain. Tak hanya pada mantan tapi juga pada teman, pejabat di pemerintahan hingga sopir bus. Berharap diantarkan sampai tujuan, ternyata diturunkan di salah satu terminal dan harus di-‘oper’ lagi ke bus lainnya berkali-kali. Hingga hari itu saya enggan lagi berharap pada apa saja termasuk pada bus dan sopirnya sekalipun.

Menjadi sarjana pertanian juga tak se-hero yang kalian bayangkan. Ketika Jokowi pidato di Acara Dies natalies IPB ke-54 menyinggung banyaknya lulusan pertanian yang bekerja di bank dan sedikit sekali yang menjadi petani, cukup mengecewakan bagi saya. Bukan karena saya juga bercita-cita untuk bekerja di bank, tapi lebih karena: memang kenapa kalau kami tak mau jadi petani? Saya rasa semua sarjana bebas menentukan pilihannya untuk bekerja di bidang apa.

Kalian menyalahkan lulusan pertanian yang bekerja di perbankan tapi lupa jika masih banyak penyuluh pertanian di negeri ini yang hidupnya belum sejahtera. Masih banyak petani yang bingung bagaimana mendapatkan lahannya kembali. Tak heran kalau banyak teman saya selepas lulus memilih bekerja di bank, perusahaan-perusahaan bergengsi ataupun memilih menjadi mandor di perkebunan sawit. Jangankan dapat memperbaiki carut marutnya pertanian bangsa, memutuskan untuk menjadi petani atau memilih bekerja di sektor ini saja banyak dari kami yang masih harus pikir-pikir lagi. Jangan terlalu berharap pada kami yang semasa kuliah terlalu sibuk merampungkan laporan praktikum sampai tak punya waktu membaca berita konflik agraria. Sekali lagi jangan!

Dan saya juga bukan calon sarjana pertanian sesuai harapan Anda. Saya tak paham-paham banget cara menanam yang baik dan benar, atau bagaimana memilih buah di pasar yang berkualitas. Saat pulang ke rumah bapak, saya bilang ingin membuat pupuk dari kotoran kambingnya. Saya menyarankan padanya untuk mengolah kotoran itu dengan berbagai cara agar tak menimbulkan panas pada akar tanaman akibat disiram kotoran kambing yang belum matang. Saat ditanya bagaimana tahap-tahapnya, diam-diam saya mencari di internet. Ya, saya calon sarjana pertanian yang masih jauh dari harapan bapak saya sendiri.

Jangan terlalu berharap pada kami yang turun ke sawah hanya saat praktikum dan penelitian. Praktik menanam padi saja masih belum bisa lurus meski sudah disediakan lajur. Terlebih pada mahasiswa Prodi Agribisnis seperti saya yang kadang mengambil jatah bolos untuk tidur setelah semalaman lembur laporan. Tentang teknik bercocok tanam tak begitu pakar, tentang pemasaran produk pertanian juga masih membuka diktat lagi di awal perkuliahan.

Tapi setidaknya kalaupun nanti tak bekerja jadi petani kami sedikit paham akan pentingnya menanam cabai sendiri di belakang rumah agar tak kebingungan saat harganya melambung tinggi. Biar tetap kuat menghadapi kenyataan, tak mudah menggantungkan harapan pada siapa pun. Saat hidup mengecewakan lalu perut lapar, tinggal petik cabai belakang rumah lalu menyulapnya menjadi sambel terasi yang dihidangkan dengan nasi hangat plus ikan teri. Mengenai teknik menanam dan perawatannya, sudah saya bilang tadi, bila lupa bisa berguru di internet.

Oiya, saya mahasiswa semester 4, yang resah akan kondisi pertanian saat ini sehingga saya tuangkan dalam tulisan ini.Saya siap menjadi bapak dari anak-anakmu dan siap melawan setan tanah yang bisa memporakporandakan keluarga kita, Bu. Jadi gimana, masih mau berharap pada saya?

Penulis: Puguh Prastiyo H.

Editor: Yuga Dwi N. T.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf konten ini merupakan hak cipta kami. Untuk menduplikasi karya ini dapat menghubungi kami di redaksi@persmacanopy.com