Persmacanopy.com

Membangun Pertanian Indonesia

Mandiri Pangan di Kontrakan

 

Bagi sebagian besar mahasiswa, kontrakan umumnya hanya dimaknai sebagai tempat beristirahat, tidur, makan, dan mengerjakan tugas sebelum kembali menjalani rutinitas yang sama keesokan harinya. Ruang tersebut jarang dipandang sebagai sesuatu yang memiliki potensi lebih dari sekadar tempat tinggal sementara. Keterbatasan luas ruangan, kesibukan akademik yang menyita waktu dan pikiran, serta kebiasaan hidup yang serba praktis membuat kegiatan seperti menanam tanaman atau beternak ikan terasa tidak relevan untuk dilakukan. Apalagi bagi mereka yang tinggal di daerah perkotaan dengan harga lahan yang semakin sempit dan mahal, ide untuk memiliki ‘kebun’ atau ‘kolam’ sendiri seringkali hanya menjadi mimpi yang mustahil diwujudkan.

Namun, pandangan tersebut tampaknya tidak sepenuhnya berlaku bagi Akhsan Setiawan (19), seorang mahasiswa Agribisnis di Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya yang akrab dipanggil Acan. Di tengah kesehariannya, Acan memanfaatkan waktu luangnya untuk mencoba sesuatu yang berbeda. Ia mulai menanam tanaman di sudut-sudut kontrakannya, bukan dengan cara yang rumit atau mengeluarkan biaya besar, tetapi melalui langkah-langkah sederhana yang bisa ditiru oleh siapa saja, bahkan oleh mereka yang tidak memiliki latar belakang pertanian sekalipun.

Tidak ada terlihat rumah kaca canggih, tidak ada instalasi hidroponik bertingkat yang rumit, yang ada hanyalah pot-pot kecil, media tanam sederhana, dan sentuhan sabar dari seorang pemuda yang ingin membuktikan bahwa berkebun itu universal. Selain itu, ia juga menggunakan media tanam berupa rockwool untuk menyemai bibit. Beberapa tanaman yang ditanam sudah mulai berkecambah, memperlihatkan bahwa proses yang dilakukan benar-benar berjalan dan perlahan membuahkan hasil meskipun masih dalam skala mikro.

Dari hal kecil tersebut, terlihat jelas bahwa menanam tanaman di kontrakan bukan sekadar wacana inspiratif tanpa eksekusi, melainkan sesuatu yang benar-benar dapat dimulai tanpa harus menunggu kondisi yang ideal. Tidak perlu memiliki halaman luas, tidak perlu menunggu musim tertentu, dan tidak perlu paham betul seluruh teori agronomi. Bahkan dari proses sederhana ini, muncul sebuah pemahaman mendasar bahwa aktivitas menanam tidak selalu membutuhkan pengalaman khusus, melainkan cukup dengan kemauan untuk mencoba dan konsistensi dalam merawatnya setiap hari.

Kegiatan yang dilakukan Acan ternyata tidak berhenti pada penanaman tanaman saja. Di lantai dua ruang kontrakannya, terdapat wadah galon yang ia alihfungsikan untuk memelihara ikan lele. Meskipun ukuran ikan masih kecil dan kondisi air belum sepenuhnya jernih, hal ini justru menjadi bukti bahwa proses yang dilakukan masih berada dalam tahap awal dan terus berkembang secara perlahan. Tidak ada yang instan di sini. Tidak ada yang langsung sempurna. Yang ada adalah proses belajar yang jujur dan apa adanya.

Apa yang sedang direncanakan oleh Acan secara tidak langsung mengarah pada konsep integrasi antara tanaman dan ikan yang lebih dikenal sebagai istilah akuaponik. Dalam sistem tersebut, limbah yang dihasilkan oleh ikan (terutama amonia) akan diurai oleh bakteri menjadi nitrat yang dapat dimanfaatkan sebagai nutrisi bagi tanaman. Sementara itu, tanaman melalui akarnya akan berperan membantu menyaring dan menjaga kualitas air agar tetap layak bagi kehidupan ikan. Hal ini menjadikan air kolam tidak perlu terlalu sering untuk dibersihkan, dan tanaman pun tetap bisa mendapat pupuk organik alami secara gratis.

Hingga saat ini, Acan memang sudah memiliki wadah sederhana berisi ikan lele dan beberapa pot tanaman di kontrakannya. Namun, kedua komponen tersebut masih berjalan sendiri-sendiri, belum terhubung dalam satu sistem resirkulasi. Air dari wadah ikan belum dialirkan secara khusus ke media tanam, dan air yang terserap tanaman pun belum kembali ke kolam ikan. Acan sendiri mengakui bahwa ia baru sebatas mengonsepkan ide untuk menyatukan keduanya menjadi miniatur akuaponik sederhana. Ia masih dalam tahap mencari tahu tentang jenis pompa air yang sesuai, media tanam yang tepat, serta cara memelihara bakteri nitrifikasi tanpa peralatan yang rumit. Meskipun sistem yang ia impikan saat ini belum sepenuhnya berjalan sesuai konsep ideal yaitu belum ada sirkulasi air otomatis, belum ada uji kadar amonia, dan ikan serta tanaman masih terpisah, tetapi arah pemikirannya sudah menunjukkan adanya kesadaran dan upaya nyata untuk memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar.

Tak hanya itu, ia juga menanam bawang merah dan bawang putih sebagai salah satu komoditas yang relatif mudah dirawat dan sering digunakan dalam kebutuhan sehari-hari mahasiswa, seperti untuk menumis mi instan atau membuat sambal dadakan. Pilihan tanaman ini menunjukkan bahwa kegiatan yang dilakukan tidak hanya bersifat eksperimen akademik semata, tetapi juga memiliki nilai praktis dan fungsional yang dapat dirasakan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memanfaatkan bahan dan alat yang sederhana, Acan membuktikan bahwa kegiatan menanam dan beternak tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Justru melalui proses yang sederhana dan bertahap, pemahaman dan keterampilan terhadap sistem pertanian terpadu tersebut dapat berkembang secara alami seiring waktu, seperti sebuah pohon yang tumbuh dari biji kecil. Tidak menutup kemungkinan, seiring berjalannya waktu, jika Acan konsisten merawat dan mengevaluasi, sistem mini yang ia bangun dapat menjadi lebih tertata, efisien, dan memberikan hasil panen yang lebih optimal. Bisa jadi, suatu hari ia tidak perlu lagi membeli sayuran dan ikan dari pasar.

Jika diperhatikan lebih jauh, apa yang dilakukan Acan sebenarnya tidak jauh dari jangkauan kehidupan mahasiswa pada umumnya. Hanya saja, kegiatan seperti ini jarang sekali dicoba karena berbagai alasan mulai dari malas, tidak percaya diri, merasa tidak punya waktu, atau merasa ruang yang tersedia terlalu sempit. Selama ini, mahasiswa cenderung terbiasa memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan cara membeli, seperti membeli sayuran, ikan, hingga bumbu dapur, termasuk untuk bahan makanan yang sebenarnya bisa ditanam sendiri dalam skala kecil di pot atau ember bekas. Kebiasaan konsumtif tersebut lambat laun membuat ruang kontrakan hanya dimaknai sebagai tempat tinggal pasif, bukan sebagai ruang yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan secara lebih produktif, kreatif, dan bermanfaat.

Bahkan, kegiatan seperti berkebun mini dan beternak ikan lele dalam ember ini juga dapat menjadi selingan yang menyenangkan di tengah rutinitas akademik yang padat dengan jadwal kuliah, praktikum, laporan, dan ujian. Aktivitas ini memberikan pengalaman yang berbeda dari aktivitas sehari-hari yang hanya berkutat dengan layar laptop dan buku tebal. Apalagi merawat tanaman dan ikan telah terbukti dapat mengurangi stres, meningkatkan rasa tanggung jawab, dan memberikan kepuasan batin tersendiri ketika panen tiba.

Tidak semua orang mungkin akan langsung tertarik untuk mencoba hal yang sama persis, tetapi setidaknya kisah Acan ini dapat menjadi sebuah gambaran bahwa menanam sayuran dan memelihara ikan di kontrakan sempit bukanlah sesuatu yang mustahil atau hanya imajinasi belaka. Dari langkah kecil yang tampak sepele tersebut, bukan tidak mungkin akan muncul kebiasaan baru yang lebih bermanfaat dan berkelanjutan. Baik untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari secara mandiri, menghemat pengeluaran bulanan, mengurangi sampah plastik dari kemasan sayuran, maupun sekadar sebagai aktivitas produktif yang memberi pengalaman berbeda dan menyenangkan di tengah hiruk-pikuk rutinitas mahasiswa. Jadi, tidak ada salahnya kita mulai memperhatikan kembali sudut pot di kos, teras yang sempit, atau jendela yang tersinari matahari. Bisa jadi, di sanalah tempat terbaik untuk memulai cerita produktif kita sendiri.

 

Penulis: Muhammad Naufal Rozaan & Muhammad Rizky

Editor: Ahmat Rofik Elga Widiantoro

Gambar: Dokumentasi Pribadi

 

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf konten ini merupakan hak cipta kami. Untuk menduplikasi karya ini dapat menghubungi kami di redaksi@persmacanopy.com