Persmacanopy.com

Membangun Pertanian Indonesia

Mahasiswa Agribisnis UB: Gender Bukan Penghalang di Pertanian

Persepsi positif terhadap kesetaraan gender kembali mencuat dari lingkungan akademik Universitas Brawijaya (UB). Sebuah penelitian terbaru yang melibatkan 45 mahasiswa Program Studi Agribisnis mengungkap bahwa generasi muda pertanian semakin terbuka terhadap peran setara antara laki-laki dan perempuan di sektor agribisnis. Temuan ini memperlihatkan bahwa kesadaran mengenai pentingnya kesetaraan gender mulai mengakar kuat di kalangan mahasiswa, terutama mereka yang akan menjadi pelaku dan pengambil keputusan di bidang pertanian pada masa mendatang.

Penelitian yang dilakukan pada Oktober 2025 tersebut menggunakan metode kuantitatif deskriptif melalui penyebaran kuesioner kepada 15 mahasiswa laki-laki dan 30 mahasiswa perempuan. Beragam indikator terkait kesetaraan gender diteliti, mulai dari kesempatan karier, kepemimpinan, peran dalam inovasi, hingga persepsi terhadap pembagian kerja. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar indikator memperoleh skor di atas 4,0 dari skala 5,0, mencerminkan tingkat persetujuan yang tinggi terhadap kesetaraan gender.

Kesempatan Karier Dinilai Semakin Setara

Temuan paling menonjol dalam penelitian ini terlihat pada pernyataan mengenai kesempatan karier yang setara antara laki-laki dan perempuan di sektor agribisnis. Pernyataan tersebut memperoleh skor 4,93, menjadi yang tertinggi dalam keseluruhan indikator penelitian. Angka ini mengindikasikan bahwa mahasiswa UB memiliki pandangan yang sangat positif terhadap kesetaraan kesempatan dalam mengembangkan karier di dunia pertanian.

Ema, salah satu responden perempuan, menekankan bahwa kemampuan seseorang jauh lebih penting dibandingkan gendernya.

“Yang dibutuhkan itu kompetensi, bukan jenis kelamin. Di kampus pun kami mendapat perlakuan yang sama dalam proyek maupun praktik lapangan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa semakin banyak perempuan yang menonjol dalam dunia agribisnis menjadi bukti bahwa gender bukan lagi hambatan dalam berkarya. Menurutnya, berbagai contoh kepemimpinan perempuan di sektor pertanian telah menginspirasi mahasiswa lain untuk percaya bahwa industri ini semakin terbuka dan inklusif.

Kemampuan Perempuan Memimpin Diakui

Dukungan terhadap kesetaraan gender juga terlihat pada aspek kepemimpinan. Pernyataan bahwa perempuan mampu menjadi pemimpin atau wirausahawan sukses di sektor pertanian memperoleh skor 4,71. Skor tinggi ini menunjukkan bahwa mahasiswa menilai kemampuan kepemimpinan tidak bergantung pada gender, melainkan pada kualitas pribadi dan kapasitas manajerial.

Fazian, salah satu responden laki-laki, memberikan pandangan serupa.

“Menurut saya, kepemimpinan itu soal inovasi dan pengambilan keputusan, bukan soal cowok atau cewek,” katanya.

Namun, ia mengakui bahwa masih ada bias kecil terkait pekerjaan lapangan yang menuntut fisik.

“Kadang masih ada anggapan pekerjaan lapangan berat lebih cocok untuk laki-laki, tapi itu bukan soal meremehkan kemampuan perempuan, lebih ke efisiensi tugas,” tambahnya.

Komentar ini menunjukkan bahwa meskipun pandangan tradisional mulai memudar, bayangan stereotip mengenai peran berbasis fisik tetap tersisa dalam beberapa konteks.

Pandangan Tradisional Mulai Memudar

Walaupun sebagian besar indikator menunjukkan hasil positif, penelitian ini juga mengungkap bahwa sebagian kecil mahasiswa masih mempertahankan pandangan tradisional mengenai pembagian kerja berbasis gender. Pernyataan bahwa pekerjaan lapangan lebih cocok dilakukan oleh laki-laki mendapatkan skor terendah yaitu 3,02.

Tim peneliti mencatat bahwa pandangan seperti ini lebih banyak ditemukan di kalangan responden laki-laki. Namun demikian, skor tersebut masih berada di atas nilai tengah, sehingga dapat diartikan bahwa bias tersebut mulai berkurang meski belum sepenuhnya hilang.

Lingkungan Kampus Dianggap Inklusif

Dalam hal lingkungan akademik, mahasiswa memberikan penilaian positif terhadap penerapan kesetaraan di Program Studi Agribisnis. Pernyataan bahwa mahasiswa perempuan mendapatkan perlakuan setara memperoleh skor 4,64, menandakan bahwa kampus telah berupaya menciptakan ruang akademik yang inklusif bagi semua mahasiswa.

Tidak hanya itu, mahasiswa juga memberikan dukungan kuat terhadap keberlanjutan upaya kesetaraan gender. Pernyataan tentang pentingnya terus mendorong kesetaraan demi kemajuan sektor pertanian memperoleh skor 4,76.

Sebagai tambahan, peran perempuan dalam inovasi pertanian modern juga mendapat sorotan positif. Pernyataan terkait kontribusi perempuan dalam bidang agritech dan agripreneurship memperoleh skor 4,42, menunjukkan keyakinan mahasiswa bahwa perempuan memiliki potensi besar dalam pengembangan pertanian berbasis teknologi.

Penulis:

  1. Rayhanun Dwi Hapsari
  2. Ephivania Angelica Prasitha
  3. Meris Siti Indriani
  4. Ahmad Fachriel Firdaus
  5. Dipta Astuti Maheswari
  6. Nala Chandra Sari

Dosen Pengampu: Andi Setiawan, S.P., M.Si.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf konten ini merupakan hak cipta kami. Untuk menduplikasi karya ini dapat menghubungi kami di redaksi@persmacanopy.com