Persmacanopy.com

Membangun Pertanian Indonesia

Pemerintah Kota Tak Kunjung Bergerak, Rakyat Punya Cara Sendiri Untuk Merawat

Malang (25/04/2026) Koalisi masyarakat sipil yang tergabung dalam Transport For Malang menggelar aksi kreatif dengan mengecat ulang halte Bus Veteran 2 yang terbengkalai di Jalan Veteran sebagai bentuk protes terhadap minimnya perhatian pemerintah pada transportasi publik. Bau cat menyengat, bercampur deru kendaraan pagi itu tidak mematahkan semangat para relawan untuk terus mengayunkan kuas. Aksi ini dilakukan untuk menyoroti kondisi halte yang selama ini terlihat kurang terawat, sehingga estetika halte menurun. Kegiatan tersebut juga melibatkan kolaborasi lintas kota, mulai dari pegiat transportasi di Surabaya hingga Banyuwangi yang peduli terhadap isu mobilitas warga. 

Wahyu, Koordinator Transport For Malang, menyatakan bahwa gerakan ini merupakan akumulasi kekecewaan selama tujuh tahun terakhir. Transportasi umum di Kota Malang dianggap tidak mengalami kemajuan signifikan meski aspirasi warga terus disuarakan. “Kami percaya transportasi umum adalah hak setiap warga, bukan sekadar pelengkap kota,” tegas Wahyu di sela-sela kegiatannya. Pilihan aksi langsung (direct action) diambil karena jalur audiensi formal seringkali berakhir buntu tanpa realisasi. Strategi mengecat halte hanya pada satu sisi sengaja dipilih untuk menunjukkan kontras yang nyata antara kerja swadaya warga dan pengabaian oleh birokrasi.

Kondisi infrastruktur pendukung di Jalan Veteran memang menjadi sorotan tajam bagi para pengguna jalan. Pemerintah kota dinilai belum memberikan perhatian yang memadai terhadap konektivitas angkutan lanjutan setelah hadirnya layanan TransJatim. Fasilitas halte yang kumuh, berkarat, dan tidak layak justru menjauhkan minat masyarakat untuk beralih dari kendaraan pribadi. Wahyu menekankan pentingnya political will atau kemauan politik dari pihak eksekutif maupun legislatif untuk membenahi sistem secara total. Teriakan warga melalui media sosial sering kali menjadi satu-satunya cara agar suara mereka didengar oleh pemangku kebijakan.

                             

Aksi Solidaritas ini juga membawa semangat dari keberhasilan aksi serupa di Surabaya yang sempat viral di jagat maya. Hikari, perwakilan Transport For Surabaya, menceritakan kisah sukses kursi oranye di depan Pakuwon Mall yang bermula dari keresahan serupa. Penumpang bus yang sebelumnya diusir saat berteduh akhirnya mendapatkan fasilitas halte permanen berkat tekanan masif dari netizen. YouTuber Bus ternama, Mas Moedjzi, bahkan sempat menyoroti fenomena tersebut hingga memaksa pihak pengelola mal bertindak. Pengalaman ini menjadi bukti bahwa gerakan akar rumput mampu mendorong perubahan nyata jika dilakukan secara konsisten dan kreatif.

Aksi di Jalan Veteran hari ini juga menyisipkan Lapak Buku gratis sebagai sarana edukasi bagi para calon penumpang. Fasilitas publik seharusnya menjadi ruang yang nyaman dan produktif, bukan sekadar tempat menunggu yang menyeramkan. Keberadaan fasilitas yang bersih dan cerah diyakini mampu meningkatkan rasa aman bagi kelompok rentan, termasuk perempuan dan pelajar. Warga Kota Malang membutuhkan sistem TransUM yang terintegrasi agar kemacetan di pusat kota dapat terurai secara perlahan.

 

Fenina, seorang mahasiswi yang sedang melintas, menyambut baik transformasi visual di halte tersebut. Ia mengaku sering merasa tidak nyaman saat harus menunggu angkutan di tempat yang kotor dan banyak nyamuk. “Perbaikan seperti ini membuat kami merasa lebih dihargai sebagai pengguna fasilitas publik,” ujar Fenina singkat. Ia berharap, pemerintah daerah tidak hanya tinggal diam melihat inisiatif warga ini melainkan segera mengambil langkah konkret. Perawatan fasilitas secara rutin jauh lebih penting daripada sekadar membangun infrastruktur baru tanpa rencana pemeliharaan yang jelas.

Kemauan untuk berubah harus datang dari kesadaran bahwa mobilitas warga adalah urat nadi perekonomian kota. Aksi kreatif di Jalan Veteran ini merupakan sinyal kuat bahwa warga Malang sudah jenuh dengan janji-janji manis tanpa bukti. Perubahan wajah halte hanyalah langkah awal dari perjuangan panjang menuntut sistem transportasi yang lebih manusiawi. Masyarakat kini menunggu respons nyata dari para pemimpin kota untuk mewujudkan Malang sebagai kota yang ramah bagi seluruh pengguna jalan.

 

Penulis: Ahmad Said Al Charis & Renaldy Fasha

Editor: Ahmat Rofik Elga Widiantoro

Gambar: M. Rizky

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf konten ini merupakan hak cipta kami. Untuk menduplikasi karya ini dapat menghubungi kami di redaksi@persmacanopy.com