Resensi Buku Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta

Judul Buku                  : Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta

Penulis                         : Alvi Syahrin

Tebal                           : 224 halaman

Penerbit/cetakan       : GagasMedia/Cetakan pertama, 2018

Buku pengembangan diri karya Alvi Syahrin ini mengulas tentang apa cinta memang hal yang paling penting dan terutama di dalam kehidupan ini beserta pandangan-pandangannya terkait problematika percintaan yang dialami anak muda masa sekarang. Buku ini dibuka dengan memesona pada bab pertama “Ketika Usiamu Delapan Belas Tahun”, masa ketika seorang remaja mulai mengenal “cinta” dalam perbendaharaan kata kehidupannya. Beranjak dewasa dapat kita lihat orang-orang terdekat, teman-teman di sekitar kita mulai menggandeng dan digandeng tangannya sehingga muncullah sekelebat pertanyaan di kepala kita “Kapan aku menggandeng dan digandeng?”. Secara ringkas begitulah pembukaan dari buku ini yang akan menuntun kita ke bab demi bab yang tidak kalah menarik, membahas tentang hal-hal lumrah tentang apa itu cinta beserta tetek bengeknya.

Tetek bengek itu seperti mengharapkan jodoh seperti kriteria yang sudah kita tuliskan berdasarkan pemikiran matang beberapa waktu, diberi harapan palsu oleh seseorang yang tampaknya memberi “sinyal” positif kepada kita, atau pun kisah klasik seperti mencintai dalam diam. Lalu, tiba lah kita di penghujung buku ini. Bab yang menyambut kali ini adalah bab 45, “Istirahatlah”. Ketika sudah sampai di halaman terakhir buku in, pembaca akan disadarkan kembali bahwa cinta bukanlah tujuan utama dalam kehidupan ini, bukan sesuatu yang teramat penting dalam hidup ini. Nukilan penutup dari buku ini pun sangat membekas untuk pembacanya,

“Yang lalu, biarlah berlalu. Jika kita tak pernah jatuh cinta, kita tidak akan pernah sadar: bahwa sebetulnya, ada sesuatu yang lebih penting daripada cinta di dunia ini. Jadi, bagaimana perasaanmu sekarang?”

Buku karya pemuda kelahiran 1992 yang terdiri atas 45 bab ini sangat menarik untuk dibaca, terkhusus bagi Anda yang ingin menjaga komitmen untuk tidak pacaran dalam sementara waktu. Pesan-pesan yang ditegaskan Mas Alvi Syahrin adalah bahwa cinta bukan suatu hal yang sangat penting maupun tujuan utama dalam hidup ini. Tidak apa jika saat ini belum mempunyai seorang pacar maupun pasangan. Berbagai pesan sudah dicantumkan pada judul tiap bab yang dijabarkan secara lebih jelas oleh sang penulis sehingga makna yang berusaha disampaikan menjadi lebih terang bagi para pembaca.

Penggunaan diksi yang memikat hati dan sederhana tampak di setiap untaian kata yang coba diuraikan oleh penulis dengan preferensi kosa kata yang menyesuaikan dengan masa kini sehingga memberikan kesan memikat tetapi tidak memusingkan pembaca. Buku ini enak untuk dibaca dan dipahami maknanya oleh kawula muda masa kini. Referensi contoh kasus asmara yang digunakan dalam buku ini juga sangat relevan dengan saat ini, contohnya seperti pacaran yang goals tidak selalu dapat dibuktikan dengan unggahan mereka di media sosial yang memperlihatkan keromantisan mereka sampai dengan problematika friendzoned.

Kekurangan dari buku ini menurut saya adalah ketidakkonsistenan penempatan point of view atau sudut pandang yang coba ditempatkan oleh penulis. Pada bab awal hingga beberapa bab setelahnya sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang dari penulis yang menempatkan pembaca sebagai seseorang perempuan, tiba-tiba setelah itu penulis menempatkan pembaca sebagai seorang laki-laki kemudian kembali lagi menjadi seseorang perempuan.

Secara keseluruhan buku ini memang pas jika direkomendasikan kepada perempuan karena lebih relate dengan mereka. Kemudian, buku ini hampir menyerupai buku religi yang mendoktrin pembaca bahwa pacaran itu tidak baik padahal hal tersebut tidak dapat dibenarkan karena perspektif pembaca beraneka ragam. Buku ini juga kurang universal dalam upaya menyampaikan pesan filosofis-religius karena dengan banyak dan hanya mengutip ayat dari salah satu kitab agama tertentu yang mana kita tahu bahwa pembaca yang membeli buku ini dapat berasal dari latar belakang agama mana pun sehingga buku ini memberikan kesan seolah-olah buku ini adalah buku religi yang dikemas dalam bentuk label genre buku “pengembangan diri”.

“Hari ini, kau masih punya hak istimewa: kesempatan hidup. Kesempatan bernapas. Kesempatan melihat. Kesempatan merasa. Kesempatan memperbaiki. Kesempatan memulai lagi.”

Penulis : Aditya Fadlani

Editor  : Shanti Ruri P

gambar bersumber dari books.google.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf konten ini merupakan hak cipta kami. Untuk menduplikasi karya ini dapat menghubungi kami di redaksi@persmacanopy.com