Rezim Totaliter dengan Pertaruhan Nasib Manusia dalam Film Pendatang

Segregasi dengan tujuan untuk memisahkan atau menghapus satu kelompok sosial secara
paksa telah terjadi di beberapa sektor kehidupan masyarakat. Hal ini juga berlaku pada film
berjudul “Pendatang” ini, dengan kondisi negara yang sedang menerapkan sistem
segregasi. Segregasi yang berkaitan dengan diskriminasi dan rasisme membuat seorang
anak kecil terpaksa harus hidup secara diam-diam di suatu rumah.

Pada suatu waktu, Fredy Chan yang berperan sebagai Wong, seorang kepala keluarga
membawa anggota keluarganya keturunan Tionghoa ke daerah pelosok. Saat sebelum
dipindahkan akibat adanya segregasi, Wong dan keluarganya tidak tahu akan ditempatkan
di rumah bekas orang Melayu. Hal ini merupakan salah satu pemicu perdebatan keluarga
Wong dengan petugas terkait. Di sisi lain, istri dan anak Wong, Shah dan Xin khawatir atas
kesehatan Bobby akibat riwayat asma yang dideritanya.

Film kontroversi asal negara tetangga, Malaysia ini memberikan penekanan yang keras atas
adanya segregasi. Film yang di produksi Kuman Picture garapan sutradara Ng Ken Kin ini,
memperlihatkan bahwa setiap ras memiliki wilayah masing-masing yang tidak boleh saling
tumpang tindih. Ras Melayu, Tionghoa dan India dilarang bertemu satu sama lain. Apabila
menemukan ras lain di wilayah ras tertentu maka diwajibkan untuk melapor kepada petugas
terkait.

Konflik mulai naik kembali ketika, Kyzer Tou yang memerankan Bobby mulai mencurigai ada
bunyi yang mencurigakan di bagian atas rumah mereka. Hingga pada suatu malam, Xin,
yang diperankan oleh Shareen Yeo, menemukan seorang anak kecil ras Melayu yang
mereka panggil Panda, diperankan oleh Qaidah Marha, mengambil makanan dan minuman
yang disimpan dalam lemari pendingin miliki.

Hal tersebut membuat Wong semakin emosi dan ingin melaporkannya kepada petugas agar
dieksekusi segera. Sebab apabila berbohong telah menemukan ras lain di wilayah mereka
akan dianggap sebagai pengkhianat. Namun disisi lain, karakter yang diperankan Mayjune
Tan sebagai istri Wong cenderung kalem dan terbuka dalam menghadapi setiap situasi yang
terjadi. Kehidupan keluarga Wong bisa diakses melalui YouTube yang sebelumnya telah
melalui tayang perdananya pada 21 Desember 2023.

Dilihat dari penggambaran karakter di film ini, bisa dikatakan baik. Namun ada beberapa
bagian yang diperankan oleh anak-anak yang seharusnya bisa lebih didramatisir agar
penonton bisa lebih mendapatkan perasaan yang sama justru masih kurang dan sedikit
hambar. Pengangkatan isu segregasi film ini juga belum sampai terlalu dalam mendetail,
masih pada hal yang sangat umum. Di beberapa adegan karakter terlalu ceroboh yang
mengakibatkan kebingungan dari pembawaan arah film yang sebenarnya.

Alur yang diberikan termasuk cepat, mudah dimengerti, dan bagus banget sampai mampu
membuat penonton merasa acak-acakan di pertengahan yang cukup intens. Sinematografi
yang diberikan sangat bagus dan didukung dengan minimnya sound dan scouring yang ada
sehingga membuat suasana semakin tegang. Adegan eksekusi diskriminasi yang dilakukan
terlihat sangat nyata dan seram. Emosi penonton tertantang pada setiap adegan yang
diberikan hingga pada akhirnya memberikan rasa hampa, kurang puas, sedih yang pada
dasarnya realistis.

Penulis: Khairunnisa Cika

Editor: Diandra Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf konten ini merupakan hak cipta kami. Untuk menduplikasi karya ini dapat menghubungi kami di redaksi@persmacanopy.com