“EMPU: Sugar on the Weavings Chair” dan Kebudayaan di Dalamnya.

Semakin berkembangnya peradaban, isu-isu mengenai wanita semakin meluas dalam perannya yang tidak ingin tertinggal oleh kaum adam. Orang menganggap keterbatasan gender sebagai perbincangan basi yang dianggap tabu apabila mereka melangkahi jejak lelaki. Hanya wanita dengan semangat juang tinggi mampu merobek dinding pembatas itu. Harvan Agustriansyah menyutradarai tiga diantaranya yang ditampilkan dalam film pendek. Mereka adalah Sutringah, Maria, dan Yati. Ketiga wanita ini berjuang untuk membebaskan pemikiran kesetaraan gender dan kesetaraan sosial.

Sutringah (Annisa Hertami) adalah karakter yang terinspirasi dari para ibu rumah tangga yang kesehariannya membantu suami seorang petani gula. Dalam kisahnya, para petani gula dapat dikatakan sangat miskin dan kesulitan memenuhi kebutuhan harian mereka. Suami dengan tegas melarang istrinya untuk bekerja karena ia menganggap takdir telah menempatkan mereka di dapur, mengurus anak-anak dan suami yang masih sangat kental ditemukan di daerah pedesaan.

Resiko pekerjaan seorang petani gula sangat berbahaya sekali seperti yang dialami oleh Adi Marsono yang berperan sebagai Suryadi, suami Sutringah. Pemikiran mengenai apabila wanita bekerja memiliki arti melangkahi kodrat suaminya, sangat tidak cocok lagi digunakan pada saat ini. Semuanya akan berakhir berjuang mencari uang sendiri, apabila ada dorongan kuat sebagai jalan paling akhir untuk tetap dapat melanjutkan hidup. Hal ini tergambar jelas pada penyelesaian konflik tokoh Yati.

Putri Moruk berperan sebagai karakter wanita dari NTT dalam film ini: Maria. Ia merupakan seorang janda yang berjuang atas keadilan rumah tenun Biboki. Maria memiliki kelompok pengrajin tenun yang mayoritas adalah wanita dewasa. Dipicu konflik keadilan mengenai sengketa tanah, Maria memiliki ide untuk meneruskan keterampilan budaya menenun ke generasi muda agar tidak mati terlupakan zaman nantinya.

Yati, seorang wanita dengan keterbatasan fisik namun semangat akan eksplorasi hal-hal barunya tidak memiliki batasan. Arianggi Tiara sebagai pemeran Yati, bergulat dengan sektor industri tekstil yang diminatinya dan diturunkan kepada setiap generasi dalam keluarganya. Bukan keterbatasan fisik yang membuat seorang Yati kehilangan harapan untuk memulai hal baru, melainkan ketidakadilan dan adat istiadat yang sudah mendarah daging. Berbagai keadaan dihadapi oleh Yati sampai tersadar, bahwa bakat dan minatnya berguna apabila di lingkungan yang mendukung dirinya.

Sebagai salah satu film yang mengangkat isu feminisme, Harvan memberikan garis besar permasalahan pada pembukaan film dengan sangat seimbang pada ketiga bagian. Perasaan haru, marah, kecewa dan miris bisa didapatkan selama 1 jam durasi film. Disisipkan juga beberapa bumbu komedi yang bisa ditemukan dalam film pendek ini, salah satunya adegan berlatar sekolah saat Maria dan dua temannya datang menemui Pak Guru. Dalam pengembangan karakter Yati, Harvan belum mampu untuk membuatnya lebih konsisten dan terarah. Penjelasan mengenai syarat pendaftaran calon karyawan pabrik tidak diberikan secara detail sehingga ditemukan kesalahan yang menurut saya cukup fatal dan tidak berkorelasi pada dialog Yati dengan Supervisor pabrik. Pada kisah Yati juga, titik fokus permasalahan belum didapat, justru semakin meluas dan berakar serta rancu jika dibandingkan dengan dua kisah lainnya, kisah Sutringah dan Maria.

Kesalahan cerita lainnya yang bisa ditemukan adalah ketika perkumpulan pengrajin tenun rumah Biboki yang sedang ngopi dan bercerita di kedai kopi. Padahal jika dilihat pada adegan sebelumnya, tepatnya saat di dalam bus, mereka memiliki permasalahan keterbatasan uang saat membayar ongkos. Seharusnya adegan untuk membicarakan permasalahan mereka di kedai kopi, lebih baik dilakukan di rumah Biboki sekaligus penonton dapat mengenal seperti apa rumah tenun Biboki. Pada film ini, ruma tenun Biboki justru kurang mendapat sorotan bentuknya.

Penyelesaian dari ketiga konflik yang terjadi, memiliki akhir yang cukup memuaskan untuk ukuran film pendek. Penata rias setiap pemerannya sangat detail dan menggambarkan sekali dengan keadaan aslinya. Penggunaan latar tempat tidak banyak dan disesuaikan dengan kebutuhan setiap jalan cerita sekaligus memperkenalkan kebudayan yang dimiliki Indonesia kepada masyarakat luar negeri. Film EMPU: Sugar on The Weavings Chair memenangkan penghargaan dalam festival pembuat film kategori pemula yang telah menghasilkan satu atau dua film. Pemutaran film yang dilakukan di Middlebury New Filmmakers Festival, Vermont, Amerika Serikat mampu membuka mata dunia terhadap kebudayaan yang hanya ditemukan di Indonesia. Karya Harvan Agustriansyah ini mendapat banyak pujian dan tepuk tangan yang meriah setelah pemutaran.

Menurut Teng (2017), kebudayaan adalah suatu bentuk interaksi dalam kehidupan manusia yang mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi selama periode rentang tertentu dikatakan dinamika kebudayaan. Kemajuan kebudayaan yang dipadukan dengan kreativitas masyarakatnya adalah parameter kemajuan peradaban masyarakat yang bisa dilihat. Pada film ini contohnya, dapat dilihat kebudayaan Indonesia berupa kain tenun khas NTT, kain lurik, serta gula aren yang semuanya identik dengan negara kita, Indonesia.

Namun demikian, terdapat beberapa hal yang harus diperbaiki dalam film ini. Diantaranya yakni, teknik pengambilan gambar serta editing dalam pemenuhan aspek sinematografi untuk memanjakan mata penonton. Pada adegan di rumah Sutringah terlihat sangat gelap sehingga kualitas gambar yang dihasilkan juga jelek dan membuat penonton tidak tertarik. Alangkah lebih baik digunakan pencahayaan yang jauh memadai agar hasil yang didapatkan jauh lebih bagus. Dalam teknik pengambilan gambar juga terdapat banyak alternatif yang bisa digunakan, tidak harus mematok seperti yang ditampilkan pada film.

Beberapa karakter ditemukan sangat tidak alami dalam proses perekaman suatu adegan. Kurangnya emosi alamiah yang diberikan pemeran akan membuat penoton merasa bosan dan jenuh akibat emosi yang tidak dapat disalurkan. Ditemukan juga beberapa dialog
yang termasuk ke dalam percakapan yang bertele-tele. Apabila dihilangkan dialog tersebut tidak apa-apa, film tetap akan nyambung dan jalan.

Dari segi alur masih termasuk dalam kata aman. Tidak ada alur yang melompat, semuanya seimbang dalam tiga permasalahan yang diberikan. Alur maju yang digunakan sangat mudah dan ringan untuk ditonton bersama keluarga. Pembagian cerita menjadi tiga dalam film pendek ini, memberikan kesan baru dan unik sehingga penonton penasaran menunggu setiap bagiannya.

Hal lainnya yang sangat disayangkan dalam film EMPU ini adalah mengenai bahasa. Terdapat takarir dalam bahasa Inggris, namun tidak dalam bahasa Indonesia. Bagi saya sendiri, masih terdapat beberapa kalimat yang tidak saya mengerti artinya jika tidak melihat takarir bahasa Inggris. Bagi penonton yang tidak paham bahasa Inggris dan bahasa daerah yang terdapat dalam film, jauh lebih sulit untuk dimengerti. Sebagai tambahan, mungkin bisa disisipkan takarir bahasa Indonesianya.

Pesan moral yang didapat dari film ini snagat banyak. Bukan hanya berorientasi kepada kaum hawa saja, melainkan para adam juga mendapat pencerahan untuk kondisi yang sering terjadi di lingkungan masyarakat saat ini. Saling mengharai dan membantu adalah kunci utama dalam kehidupan, sehingga kesetaraan sosial ataupun kesetaraan gender bisa menemukan titik terang yang adil.

Penulis : Khairunnisa Cikal

Editor : Diandra Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Maaf konten ini merupakan hak cipta kami. Untuk menduplikasi karya ini dapat menghubungi kami di redaksi@persmacanopy.com