Respons Presiden BEM FP UB 2026, Naufal S. Samosir, berupa tulisan “wkakakkaka” dan “money oriented” terkait pertanyaan honorarium (HR) asisten praktikum (asprak), kini ramai diperbincangkan, terutama di kalangan asisten. Pesan yang disampaikan melalui chat Zoom pada Lingkar Asprak 17 Maret 2026 tersebut dinilai menyinggung dan tidak pantas disampaikan oleh seorang Presiden BEM.
Pada Selasa sore, Kementerian Diplomasi Internal BEM FP UB melaksanakan salah satu program kerja yaitu Lingkar Asprak yang bertujuan untuk mempererat hubungan, koordinasi, dan komunikasi antar asisten praktikum di lingkungan Fakultas Pertanian. Lingkar Asprak ini dihadiri oleh koordinator atau perwakilan asisten masing-masing mata kuliah, pihak Diplomasi Internal (Diplin), serta Presiden BEM FP UB.
“Awalnya, Lingkar Asprak masih berjalan seperti biasa, misalnya membahas terkait Kalender Maperta,” ucap Syahdie selaku koordinator asprak Galifu.
Setelah pembahasan dari pihak Diplin selesai, tibalah pada sesi tanya jawab. Salah satu asisten praktikum mengajukan pertanyaan terkait HR asisten semester sebelumnya karena belum terdapat kepastian.
“Apakah pihak BEM bisa memediasi (menjadi perantara) terkait pencairan HR dari semester lalu? Karena banyak yang bilang akan turun sebelum lebaran, namun sampai sekarang masih belum turun juga,” ucap salah satu asisten praktikum.
Permasalahan tersebut ditanggapi oleh pihak Diplin yang kemudian diteruskan kepada Naufal, selaku Presiden BEM FP UB 2026. Naufal menanggapi bahwa pihaknya akan menyediakan formulir aspirasi asisten yang nantinya akan disampaikan kepada pihak fakultas.
Selanjutnya, muncul dua pesan singkat di kolom chat Zoom atas nama Naufal S Samosir yang menuliskan ‘wkakakkaka’ dan ‘money oriented’ di tengah berlangsungnya forum.

Hal tersebut sontak menyebabkan huru-hara karena dinilai menyinggung banyak pihak asisten praktikum, salah satunya Syahdie. Ia mengatakan bahwa asisten praktikum juga berhak mendapatkan hak mereka, misalnya mengenai honorarium.
“Tentu saja saya cukup geram dan sakit hati melihat respons ini. Asisten praktikum ini sudah banyak berkorban untuk ilmu pengetahuan. Saya pribadi menjadi asisten praktikum karena merasa bertanggungjawab atas ilmu yang didapat. Hanya karena kami akademisi bukan berarti kami tidak berhak mendapat hak kami. Honorarium kan memang tujuannya untuk menghargai asisten. Jadi saya rasa saya juga berhak mendapatkan hak saya” kata Syahdie.
Nara, asisten praktikum HPPT 2025, juga turut mendengar pernyataan Presiden BEM dari rekan sesama asisten. Ia dengan tegas menyatakan bahwa sikap tersebut sangat tidak pantas mengingat posisinya dia sebagai Presiden BEM.
“Sikap tersebut sangat tidak pantas. Meskipun itu ada alasan salah kirim atau apapun, hal itu tidak sewajarnya dilakukan oleh seorang Presiden BEM. Ini malah menunjukkan ketidakprofesionalan dia dalam menanggapi masalah. Dan harusnya attitude Presiden BEM tidak seperti itu,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa pihak BEM harus lebih bijak dalam menanggapi permasalahan yang ada serta lebih berhati-hati ketika bertindak dan berbicara.
“Seharusnya pihak BEM lebih bijak menanggapi permasalahan yang ada. Kami dari pihak asisten praktikum sangat menyayangkan hal ini terjadi. Kebanyakan dari kami bukan sekadar mengharapkan uang semata, namun HR merupakan hak yang harus disampaikan oleh pihak fakultas. BEM seharusnya lebih berhati-hati lagi dalam bertindak, berbicara, maupun menjalankan forum seperti kegiatan tadi,” ungkapnya.
Syahdie menambahkan bahwa tidak ada konfirmasi lebih lanjut dari Naufal di forum tersebut. Namun, setelah cukup banyak desakan dari Tim Asisten, ia baru meminta maaf dengan narasi tidak berniat mendiskreditkan asisten.
LPM Canopy juga telah mengirimkan permohonan wawancara kepada Naufal pada Rabu, 18 Maret 2026 dini hari. Namun, hingga tulisan ini diturunkan, Naufal belum mengkonfirmasi permohonan wawancara tersebut.
Penulis: Siti Nurkholifah
Editor: Talitha Danish Safira
Gambar: dok. istimewa











Leave a Reply